
Dengan langkah perlahan Dira mulai berjalan untuk meninggalkan tempat itu.
"Mau kemana?"
Dira terkesiap mendengar suara itu. "Aduh, pasti mereka akan menangkapku. Dan memaksaku untuk melayani pria hidung belang yang ada di sini. Matilah aku." Dira terus berbicara sendiri.
Dira menelan ludahnya saat seseorang menyentuh bahunya. "Tolong, ijinkan aku pergi! Aku pasti akan sangat berterima kasih jika kamu mau melepaskanku!" Dira mengatupkan kedua tangannya.
"Hei, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya orang yang menyentuh bahu Dira. Dira bernafas lega, saat dia tahu kalau orang yang menyentuh pundaknya adalah Keenan.
"Kee, ternyata kamu."
"Memang kamu pikir siapa?"
"Aku kira kamu penjaga tempat ini dan sedang di tugaskan untuk mengawasiku agar aku tidak kabur," jelas Dira.
Keenan menatap Dira dengan alis yang bertaut.
"Jadi barusan itu kamu hendak kabur dari tempat ini?"
Dira mengangguk.
"Kenapa?" tanya Keenan lagi.
__ADS_1
"Aku kira kamu sengaja meninggalkanku di sini dan ingin menjualku kepada pria hidung belang," jawab Dira.
"Astaga, Dira. Bagaimana kamu bisa memiliki pikiran seperti itu?" tanya Keenan seraya menggelengkan kepalnya.
"Bagaimana aku tidak berpikiran seperti itu, kalau kamu ambil ponsel dan tas di mobil saja butuh waktu lama. Akukan takut kalau hal itu sampai terjadi."
"Dengar, Dira. Mana mungkin aku akan meninggalkan istriku sendiri di sini. Sekali pun kamu bukan orang yang aku cintai tidak mungkinlah aku meninggalkanmu di sini. Kerena walau bagaimana pun, aku tetap harus menjaga nama baik keluargaku," jelas Keenan.
"Jadi, kamu tidak mencintaiku? Dan ucapanmu tadi itu cuma prank?"
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Keenan menjawab pertanyaan Dira dengan pertanyaan.
"Barusan kamu mengatakan sekalipun aku bukan orang yang kamu cintai, kamu tidak akan mungkin meninggalkan aku di sini. Jadi benarkan, kalau kamu tidak mencintaiku dan ucapanmu di jalan tadi cuma prank?"
"Lalu kenapa hanya untuk mengambil ponsel dan tas dari mobil kamu membutuhkan waktu yang lama?" tanya Dira lagi.
"Arya tidak bisa dihubungi. Jadi aku berinisiatif membelikan baju ganti untukmu karena bajumu basah. Kebetulan tidak jauh dari mobil kita mogok tadi, ada sebuah toko pakaian yang masih buka. Jadi, aku membelikanmu baju ganti disana." Kembali Keenan memberikan penjelasan.
"Jadi bukan karena kamu berpikiran ingin menjualku atau ingin meninggalkan aku di tempat ini?"
"Aku sudah jelaskan alasanku. Kalau kamu tidak percaya, lihat ini! Ini baju ganti untukmu yang aku beli di toko tersebut." Keenan memberikan papper bag yang dia bawa kepada Dira.
Dira menerima papper bag pemberian Keenan. "Terima kasih ya Kee. Maaf, karena aku sempat berpikiran negatif tentangmu tadi," ucap Dira dengan sorot mata penuh penyesalan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Tapi sepertinya malam ini kita harus menginap di hotel ini," jawab Keenan. "Kamu tidak keberatankan karena kita harus menginap di hotel kecil ini?"
"Tidak apa-apa kok Kee," jawab Dira. "Aku bukan orang yang suka pilih-pilih tempat untuk tidur," lanjutnya.
"Oiya, ini ponselmu!" Keenan memberikan ponsel milik Dira kepada sang empunya.
"Sekali lagi terima kasih ya, Kee," ucap Dira.
Keenan mengangguk.
"Aku akan pesan satu kamar lagi untuk kita tidur. Aku ke meja resepsionis dulu ya."
"Kee," panggil Dira.
"Iya."
"Kenapa kita harus pesan satu kamar lagi? Bukankah kita suami istri, kenapa kita tidak tidur satu kamar saja. Bukankah akan lebih hemat kalau kita hanya menyewa satu kamar?" cerocos Dira.
"Apa kamu tidak keberatan?" tanya Keenan lagi.
"Tidak, Kee. Aku tidak keberatan kok tidur sekamar bareng kamu," jawab Dira sembari tersenyum.
"Baiklah, kita tidak akan pesan kamar lagi. Tapi, aku harus tetap ke meja resepsionis."
__ADS_1
Kini giliran Dira yang menatap Keenan bingung. "Untuk apa kamu ke meja resepsionis?" tanya Dira lagi.