
Mikha hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk menyiapkan pasta kesukaan adiknya, Keenan. Dan kali ini, dia membuatkan adiknya itu pasta fettuccine.
Fettuccine dalam bahasa Italia artinya “pita kecil”, adalah salah satu jenis pasta yang populer di masakan Romawi. Fettucine berbentuk panjang dan pipih yang bentuknya sama seperti kwetiau.
Jenis pasta ini umumnya dihidangkan bersama saus tomat dengan taburan daging atau carbonara.
Mikha menyajikan pasta itu di atas meja makan. Setelah itu barulah dia memanggil adiknya tersebut.
"Kee, pasta yang kamu minta sudah jadi," panggil Mikha yang sedikit berteriak.
Tidak lama Keenan dan Qilla turun dari lantai dua dan segera duduk di depan meja makan. Keduanya sudah tidak sabar ingin menikmati pasta buatan Mikha. Saat Keenan dan Qilla hendak menyuapkan makanan tersebut ke mulut mereka masing-masing, Mikha memberikan tatapan tajamnya kepada dua orang yang duduk dihadapannya.
Keenan dan Qilla langsung meletakkan sendok dan garpu yang berada di tangan mereka saat menyadari alasan Mikha, memelototi keduanya karena keduanya belum berdo'a sebelum makan.
"Kee, harusnya kamu memberikan contoh yang baik kepada keponakanmu," tegur Mikha.
"Iya, Kak."
"Jangan iya-iya saja, Qilla itu selalu mencotoh apa yang dia lihat, terutama tingkahmu, jadi kamu harus menjaga sikapmu terutama di depan Qilla," jelas Mikha.
__ADS_1
"Iya, Kak, iya. Apa sekarang aku sudah bisa memakan ini?" tanya Keenan.
"Makanlah!"
Keenan dan Qilla sangat lahap menikmati pasta buatan Mikha. Bahkan tidak sampai sepuluh menit dua mangkuk pasta dilalap habis oleh mereka.
Mikha kembali menggeleng melihat tingkah adiknya yang kadang bersikap seperti anak kecil. Mungkin jika ada karyawannya yang melihat tingkah Keenan saat ini, mereka tidak akan percaya, kalau Sang Bos yang jarang tersenyum dan suka sekali mencari-cari kesalahan karyawannya bisa bersikap seperti anak kecil saat di rumah.
"Kak Dion tidak ikut ke sini, Kak?" tanya Keenan setelah mengelap bibirnya dengan tisu.
"Dia sedang menggantikan Daddy meeting," jawab Mikha.
"Mommy, Uncle, Qilla mau gosok gigi dulu," pamit Qilla.
"Kalau Kak Dion yang menggantikan Daddy meeting terus Mommy dan Daddy kemana dong?" tanya Keenan.
"Kamu kayak nggak paham kedua orang tua kita saja, Kee."
Keenan berdiam sejenak menyerap maksud dari jawaban Kakaknya. Setelah mengerti barulah dia tersenyum.
****
__ADS_1
Beberapa hari kemudian ....
Akhirnya hari pernikahan Keenan dan Anindira tiba juga. Semua keluarga Wijaya sudah berada di gedung tempat pernikahan itu akan di gelar. Bahkan para pemburu berita juga sudah berkumpul dan mencari posisi yang tepat untuk meliput. Tinggal menunggu kedatangan Sang Mempelai wanita.
"Kenapa tuh cewek belum datang?" batin Keenan, dia melihat ke arah jam tangannya. Jam tangan itu sudah menunjukkan 09.39 WIB yang artinya sudah 30 menit jadwal pernikahan dirinya dan Anindira sudah mundur dari jadwal semula.
Semua tamu undangan juga terlihat sudah mulai gelisah. Pun demikian dengan keluarga Wijaya. Rangga melirik ke arah istrinya untuk menanyakan alasan kenapa Anindira belum juga datang kepada ibu Anindira, Anita.
"Maaf, Nyonya. Kenapa putri Anda belum juga datang?" tanya Bintang kepada Anita.
"Saya tidak tahu Nyonya Wijaya, tadi Dira hanya menyuruhku dan Papanya datang duluan. Aku kira dia akan segera menyusul setelahnya, tapi kenapa dia belum datang juga ya?" jawab Anita.
Dari ekspresi yang di tunjukkan saja, Bintang sudah bisa menebak kalau ini pasti bagian dari rencana Anita untuk menggalkan pernikahan putri tirinya.
Bintang kembali mendekat ke arah suaminya, "Bagaimana?" tanya Rangga.
"Aku rasa ini bagian dari rencana Anita untuk menggagalkan pernikahan ini," jawab Bintang.
"Aku akan urus ini," ujar Rangga, dia memberikan kode kepada Nando untuk menyelidiki apa yang terjadi. Nando mengangguk mengerti.
Namun, suara permintaan maaf dari arah pintu masuk menghentikan langkah Nando.
__ADS_1
"Maaf ... maafkan aku karena ter ... lambat da ... tang," ucap orang itu dengan napas terengah.
Semua mata yang hadir tertuju pada sosok itu, termasuk Keenan.