
Setelah mengucapkan terimakasih kepada perawat yang merawat ayahnya Dira, Keenan dan Dira segera berangkat ke perusahaan. Dan sesuai dengan rencana mereka sebelumya, Riska ikut berangkat satu mobil bersama mereka.
Riska duduk di jok depan bersama dengan sang sopir, sedangkan Dira dan Keenan duduk di jok belakang. Setelah semua masuk, mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah keluarga Hendrawan.
Sepanjang perjalanan, Riska begitu kesal karena harus melihat kemesraan Kee dan temannya Dira.
"Apaan sih mereka, bener-bener bikin kesel," gerutu Riska.
"Sayang, nanti meeting dengan client mau aku temani tidak?" tanya Keenan sambil mengusap rambut panjang istrinya tersebut.
"Kalau kamu sibuk, nggak apa-apa kok kalau nggak di temenenin." Dira memberikan jawabannya sambil mendongak menatap wajah tampan suaminya karena kebetulan dia sedang menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
"Sibuk sih, tapi jika untuk menemani kamu, aku bisa meminta Arya dan Erik mengatur jadwalku," ucap Keenan lagi.
"Bener-bener mau muntah lihat mereka sok romantis," batin Riska yang semakin kesal. "Tunggu! Erik? Apa Erik mantannya si Dira? Sepertinya aku bisa gunain dia buat misahin Kee dan Dira. Setelah mereka pisah, aku pasti bisa menggantikan Dira menjadi Nyonya Wijaya dan hidupku pasti akan sangat menyenangkan." Riska kembali berbicara dalam hati. Namun, kali ini dia seperti mendapat angin segar setelah mendengar nama Erik.
"Tidak usah, Sayang. Aku bisa sendiri kok," jawab Dira sambil tersenyum. "Lagian kalau terus kamu temani kapan aku bisa belajar menjadi direktur?"
"Benar juga. Kamu memang harus mulai belajar menjadi direktur yang hebat, kan sebentar lagi perusahaan itu akan menjadi tanggung jawabmu sepenuhnya."
Keenan menangkup wajah Dira dengan kedua telapak tangannya. "Aku yakin, kamu bisa menjadi direktur yang hebat," ucap Keenan sambil menatap netra indah sang istri.
"Amin. Aku pasti akan berusaha menjadi direktur yang hebat yang bisa membanggakan almarhum ibu, kakek, papa dan juga kamu. Aku ingin semua orang mengenal bahwasanya istri seorang Keenan Wijaya adalah wanita hebat yang layak menjadi menantu keluarga Wijaya."
"Kamu tidak perlu membuktikan apa pun kepadaku atau kepada keluargaku. Karena kami yakin, kamu adalah wanita yang layak, bahkan sangat layak menjadi istri seorang Keenan Wijaya," jawab Keenan sambil terus menatap lekat wajah cantik Dira. Wajah cantik yang sebelumnya menyebalkan baginya di awal pernikahan. Namun, sekarang wajah itu selalu menjadi vitamin untuk Keenan tiap harinya.
Keenan mulai mengikis jarak wajahnya dengan wajah cantik sang istri. Dan perlahan, namun pasti wajah itu kini berdekatan dan tidak menyisakan jarak bagi mereka. Mereka saling bertukar saliva tanpa memperdulikan dua orang yang duduk di jok depan.
"Bener-bener sialan mereka! Pagi-pagi sudah bikin aku enek saja," maki Riska dalam hati.
__ADS_1
"Kee," Dira menyudahi ciuman mereka dan mendorong pelan tubuh suaminya.
"Kenapa Sayang?" tanya Keenan.
"Aku malu," jawab Dira lirih. Wajah Dira memang tampak memerah karena menahan malu. Dia memang sengaja ingin memanasi Riska, tapi bukan berarti harus mengumbar kemesraan mereka di depan wanita ular itu.
"Kenapa harus malu? Mereka berdua ini sudah dewasa dan aku yakin mereka sudah pernah berciuman sebelumnya. Kecuali kalau kita berciuman di depan Qilla atau berciuman dengan yang bukan muhrimnya. Kita ini kan suami istri yang sah, jadi tidak masalah kalau kita berciuman, wong melakukan yang lebih dari itu juga boleh kok."
Dira mencubit pinggang suaminya. "Tapi tidak di depan mereka juga kan Sayang." Protes Dira.
Keenan hanya terkekeh, dia lupa kalau mereka tadi cuma berniat ingin membuat Riska kesal karena melihat kemesraan mereka.
"Maaf, Sayang. Aku kelepasan." bisik Keenan kepada Sang istri.
"Kamu memang seperti itu, sering kelepasan kalau bersamaku." Timpal Dira.
"Ya ... mau gimana lagi, habisnya kamu itu sudah seperti candu bagiku."
"Sayang, aku langsung ke perusahaanku dulu ya. Nanti pas jam makan siang, aku akan ke sini buat makan bareng kamu," pamit Keenan kepada sang istri.
"Iya, Sayang," jawab Dira.
"Ingat! Kalau ada masalah, langsung hubungi aku."
"Tidak akan ada masalah. Jangan khawatir." Jawab Dira meyakinkan.
"Ya, sudah. Aku langsung ke perusahaanku ya. Sampai jumpa nanti siang, Sayang." Setelah mengecup kening Dira, Keenan kembali masuk ke dalam mobil.
"Daa, Sayang."
__ADS_1
"Daaa," balas Dira.
"Bener-bener makin enek lihat tingkah mereka," lirih Riska.
Setelah mobil yang di tumpangi Keenan sudah tidak terlihat, Dira berjalan masuk ke perusahaannya, diikuti Riska di belakangnya.
"Ra, di mana aku di tempatkan?" tanya Riska begitu mereka sampai di ruang kerja Dira.
"Kamu beneran mau kerja di sini?" kembali Dira memastikan.
"Iya, Ra. Beneran."
"Memangnya kamu mau di tempatkan di bagian apa?" tanya Dira lagi.
"Apa saja. Aku kan tahu kalau aku hanya memiliki ijazah SMA, jadi rasanya gak enaklah sama karyawan yang lain kalau aku harus milih-milih bagian," jawab Riska.
"Tapi__"
"Ayolah, Ra. Di bagian mana pun, aku mau kok. Yang penting aku bisa bekerja dan ngasilin duit." Riska kembali berujar.
"Baiklah, kalau kamu bersedia di tempatkan di mana pun. Sekarang kamu temui Ibu Meli, ruangannya ada di lantai paling dasar dan berada di paling ujung. Kamu tanyakan sama dia apa pekerjaan kamu."
"Makasih, ya Ra. Aku pasti akan bekerja dengan baik. Aku gak akan ngecewain kamu," ucap Riska dengan mata berbinar.
"Iya, Ris. Iya. Santai saja," jawab Dira.
Riska segera ke luar dari ruangan Dira dan langsung menemui Bu Meli sesuai perintah Dira.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Kira-kira apa ya kerjaan yang diberikan oleh Dira untuk Riska?😁😁😁
Yuk, like, komen dan giftnya. Kalau boleh minta sih hati apa kopi gitu, he he he. Pis ✌️✌️