
"Iya, Qilla. Daddy dan Mommy pulang sekarang," ucap Dion sebelum menutup telponnya. Ekspresi wajahnya juga terlihat panik.
"Qilla kenapa?" tanya Mikha dan yang lainnya bersamaan.
"Sebaiknya kita pulang sekarang!" Dion tidak menjawab, dia hanya meminta istri dan ipar-iparnya untuk ikut dengannya.
"Kak Dion, bukankah ini hotel?" tanya Keenan bingung. Dia yang baru saja turun dari mobilnya langsung mendekat ke mobil kakak iparnya untuk menanyakan hal itu.
"Iya, ini memang hotel," jawab Dion santai.
"Mas, maksud Kee itu, kenapa kita harus ke hotel? Bukankah kita mau menemui Qilla?" tanya Mikha sedikit kesal.
"Dion, kenapa kita ke sini? Bukankah kita mau bertemu Qilla?" kini giliran Tama yang menanyakan hal yang sama. Dia juga keluar dari dalam mobilnya saat mobil yang Dion kendarai malah berhenti di sebuah hotel.
"Ikut saja. Qilla memang ada di hotel ini kok! ajak Dion. Dia mengajak istri dan ipar-iparnya untuk masuk ke dalam hotel.
Setelah saling pandang, Mikha, Tama, Kiara, Keenan dan Dira mengikuti langkah Dion masuk ke hotel tersebut. Dengan menggunakan lift mereka naik ke lantai paling atas.
Begitu mereka tiba di lantai paling atas, mereka kembali saling tatap. Mereka tidak percaya dengan yang mereka lihat dihadapan mereka.
Ternyata kedua orang tua mereka sudah mempersiapkan sebuah pesta untuk menyambut kehadiran calon cucu-cucu mereka.
"Mommy, jadi, ini semua rencana Mommy?" tanya Mikha yang tadi sempat cemas karena mengira terjadi sesuatu pada Qilla.
"Iya, sayang. Mommy dan Daddy merindukan kalian semua. Makanya Mommy dan Daddy sengaja ngadain pesta ini sebagai hadiah buat kalian. Mommy ingin bisa berkumpul dengan anak, cucu dan calon cucu kami," terang Bintang.
"Lalu bagaimana Mas Dion bisa ikut terlibat dengan rencana Mommy dan Daddy?" tanya Mikha lagi.
"Kebetulan saat Mommy dan Qilla sedang membahas kejutan untuk kalian, tanpa sengaja Dion mendengar pembicaraan kami. Jadi, terpaksa deh Mommy ikutkan dia dalam rencana ini," jawab Bintang. "Benarkan Qilla?"
"Benar. Soalnya kalau daddy nggak diikutkan dalam rencana ini pasti daddy bakalan ngasih tahu sama Mommy," sahut Qilla.
"Jadi, Qilla pikir, Daddy takut sama Mommy?" tanya Dion kepada putrinya.
Qilla tidak menjawab pertanyaan daddynya secara gamblang. Dia hanya menunjukkan cengiran kuda sebagai ganti kalau dia mengiyakan pertanyaan daddynya barusan.
Mikha dan yang lainnya ikut tertawa melihat jawaban yang Qilla berikan.
Pesta kejutan yang diberikan Bintang dan Rangga untuk anak dan calon cucu mereka terbilang meriah. Meski tamu yang diundang adalah hanya keluarga dekat, kerabat, dan teman dekat dari anak-anak mereka, tidak sedikit mengurangi betapa meriahnya pesta tersebut.
"Cepat sana, ganti baju kalian. Mommy sudah menyiapkan pakaian ganti untuk kalian semua!" suruh Bintang kepada anak dan menantunya.
"Terimakasih ya, Mom. Kami sangat menyangi Mommy," ucap Mikha sambil memeluk Bintang. Kemudian Tama dan Keenan juga ikut memeluk mommynya tersebut.
"Mommy juga sayang kalian," ucap Bintang.
Setelah semua anak dan menantunya sudah mengganti pakaian mereka, pesta itu pun segera dimulai.
Malam harinya setelah pesta usai.
__ADS_1
Bintang berdiri dekat jendela sambil memandang langit yang kebetulan di penuhi dengan bintang. Dia kembali teringat masa mudanya, dimana dia kabur dari rumah dan menyerah akan cintanya terhadap Rangga. Namun, takdir berkata lain, justru karena kejadian itu membuat Rangga menyadari betapa Bintang sangat berarti untuk hidupnya. Hatinya yang beku dan ketidakpercayaannya akan cinta berubah. Rangga kembali menjadi sosoknya yang dulu sebelum dikhianati oleh kekasihnya. Bahkan, cintanya kepada Bintang, melebihi rasa cintanya kepada mantan sang mantan kekasih.
"Sayang kenapa berdiri di sini?" tanya Rangga sambil memeluk istrinya itu dari belakang, menyandarkan kepalanya pada ceruk leher sang istri.
"Aku sedikit mengenang masa lalu kita, Mas. Rasanya seperti baru kemarin kita dijodohkan dan kamu malah mengajakku melakukan kontrak pernikahan. Tapi, aku selalu bertekad untuk bisa membuatmu benar-benar jatuh cinta kepadaku. Dulu kukira itu mustahil, karena yang aku tahu kekecewaanmu terhadap cinta begitu besar. Bahkan aku sempat ingin menyerah," ujar Bintang.
"Iya, kamu kabur dari rumah dan membuatku terjaga semalaman di dalam mobil. Aku hanya bisa mengawasimu dari kejauhan karena gengsi untuk mengakui perasaanku padamu," imbuh Rangga.
Bintang membalikkan tubuhnya menghadap Rangga dan mengalungkan tangan di lehernya.
"Terimakasih ya Mas, karena kamu mau mencintaiku dan menerimaku yang bukan siapa-siapa ini. Terimakasih karena memberiku kehidupan yang begitu sempurna. Terimakasih."
"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu, jika kamu tidak mau menerima kontrak pernikahan yang aku ajukan, mungkin aku tidak akan sebahagia ini sekarang. Bintang Permata Putri, i love you," ucap Rangga sambil menatap netra istrinya penuh cinta.
"I love you too, Rangga Wijaya," ujar Bintang.
Sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi itu pun semakin mendekatkan wajah mereka, mengikis jarak diantara keduanya hingga tidak ada jarak yang memisahkan bibir mereka.
...~ THE END ~...
Hallo gaes, kisah mbak Dira dan Babang Kee, author cukupkan sampai disini ya? Kalau kalian masih kangen sama mereka kalian bisa baca ulang dari awal. Maafin, author jika kadang kadang baper pas baca komenan kalian. Tapi sumpah, komen kalian selalu bisa membuat author untuk terus berkarya. Maaf juga jika ending dari cerita ini tidak sesuai dengan ekspektasi kalian. Author akan terus belajar untuk memperbaiki tulisan author. Sekali lagi terimakasih.
Oiya, yang nunggu kisahnya Bang Tama dan Kiara dalam cerita ISTRI UNTUK SUAMIKU hari ini rillis ya, tapi nanti jam 12.00 wib.
Salam sayang dari author ter--KECEH🌹
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Bagaimana Arya tidak fokus ke arah bagian tubuh Anna yang menantang, dia hanyalah laki-laki normal yang terjebak dalam situasi yang sangat memungkinkan dirinya untuk terbangun gairahnya.
Apalagi Arya memang diam-diam mengagumi sosok sekretarisnya yang cerdas, cakap, pintar, perhatian, kadang sedikit manja meski tidak terlalu kentara, membuat dia lambat laun jatuh dalam pesona Anna yang menawan.
"Ehem," Anna berdehem saat sudah berhasil naik ke atas ranjang karena Bos di sampingnya masih fokus pada gunung kembarnya yang kini makin terlihat jelas.
Arya pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dan mereka berdua bersiap tidur.
Keduanya tidak bisa memejamkan kedua mata mereka.
"Pak," panggil Anna lirih.
"Iya," sahut Arya cepat.
"Aku kira Bapak udah tidur, hehe," tawa Anna pelan.
"Belum kok. Aku nggak tau kenapa ga terlalu ngantuk," dan adik kecilku juga sekarang tidak bisa ditidurkan, lanjutnya dalam hati. "Kamu kenapa belum tidur juga?" tanya Arya balik.
"Aku pun nggak bisa tidur, Pak."
Suasana hening sesaat.
__ADS_1
"Pak,"
"An,"
Keduanya memanggil satu sama lain.
"Hahaha," tawa renyah pun terbit dari keduanya.
Kini mereka berdua saling berpandangan.
"Kamu mau ngomong apa, An?"
"Bapak tadi mau ngomong apa?" tanya Anna yang malah membalikkan pertanyaan.
"Aku cuma mau tanya kalau jam segini biasanya kamu ngapain kalau ga bisa tidur?"
Anna terlihat berpikir, "Aku ga pernah kayak gini sih, Pak. Ini baru pertama kalinya. Mungkin efek karna tidur seranjang sama lawan jenis."
"Kamu nggak nyaman sama kehadiran saya?" tanya Arya dengan nada bicara tidak enak dan juga tersirat getar kecewa karena Anna tidak nyaman berada dekat dengannya.
Anna langsung menyampingkan tubuhnya dengan gerakan yang panik. "Nggak, Pak. Aku nggak ngerasa kayak gitu kok." gelengnya kuat-kuat.
Arya pun ikut menyampingkan tubuhnya dan menghadap ke arah Anna.
"Lalu kalau bukan itu alasannya, trus karena hal apa?"
"Aku ini udah lama kehilangan sosok seorang ayah, Pak, dari jaman masih kecil, jadi aku tuh ngerasa kehadiran Bapak di samping aku kayak menggantikan sosok ayah. Gitu lho, Pak," jelas Anna yang malah membuat ngilu hati Arya karena dirinya hanya dianggap sebagai sosok ayah.
"Kenapa aku kok malah kecewa ya?" batin Arya.
"Aku pengen kayak anak gadis lain yang bisa curhat sama ayahnya pas mereka masih kecil. Makanya aku ga bisa eh lebih tepatnya ga mau tidur karena pengen rasain pengalaman yang sama."
"Ya udah kalau gitu kamu anggap aku sebagai ayah kamu aja." pasrah Arya meski dalam hati menangis pilu cuma dianggap ayah.
"Makasih ya, Pak," senang Anna yang dengan refleks memeluk laki-laki dewasa itu.
Serrr ....
Arya makin berkobar ga*rahnya saat anggota badan kenyal dan lembut milik Anna dengan sangat nyata dan terasa menempel pada tubuhnya.
Adik kecilnya yang sedari tadi dia usahakan untuk tidur kini malah semakin bertambah rewel ingin diluapkan segala hasrat yang tertahan.
"Eh, maaf, Pak," ucap Anna yang sadar kalau dirinya telah kelewatan batas.
Arya tak menjawab dan saat Anna ingin menjauhkan tubuhnya, tangan lelaki itu mencekal lengan Anna agar tak segera menjauh darinya.
Keduanya saling bertatapan dengan sangat dalam dan karena memang sudah terbawa suasana wajah Arya mulai mendekati wajah Anna yang hanya berjarak beberapa puluh centi saja dari posisinya.
Bersambung ....
__ADS_1
-> Jangan lupa mampir ya Gaes ke sini nih 👇