
Semakin hari Keenan di buat makin kerepotan dengan keinginan Dira yang makin aneh. Bayangkan saja dia pernah ingin makan kue yang sama dengan kue buatan ibunya. Bagaimana Keenan tahu bagaimana rasa kue buatan almarhumah ibu mertuanya itu. Alhasil Keenan terpaksa menyuruh anak buahnya untuk mencari kue yang sesuai dengan deskripsi yang sudah di jabarkan oleh istrinya.
Kue dengan bentuk bulat, berwarna coklat dengan tekstur yang lembut dan harus yang ada rasa pisangnya. Entah kue apa yang dimaksud oleh Dira. Dari bermacam kue yang di dapat oleh anak buahnya, tidak satu pun dari kue itu yang menurut Dira rasanya sama dengan kue buatan ibunya. Padahal, ketika Keenan tanya kepada ayah mertuanya tentang kue yang dijabarkan oleh istrinya, ayah mertuanya bilang kalau semasa hidup ibu kandung Dira tidak pernah bisa membuat kue. Bahkan dalam beberapa kali percobaan istrinya tersebut selalu gagal membuatnya.
"Sayang, aku sudah mencari kue seperti yang kamu deskripsikan, bahkan aku juga mengerahkan orang-orangku untuk mencari kue yang kamu maksud. Dan setiap mereka membawa kue seperti yang kamu jabarkan, kamu bilang rasanya nggak sama. Ganti yang lain saja ya, sayang. Please!" bujuk Keenan. Dia sudah mulai menyerah karena belum bisa mendapatkan kue sesuai dengan keinginan sang istri.
"Tidak. Pokoknya aku mau kue itu," jawab Dira sambil cemberut. Dia juga memasang ekspresi sedihnya sambil mengusap perutnya.
"Nak, daddy kamu jahat. Dia nggak mau nyariin kue yang mommy inginkan."
"Sayang, bukannya aku tidak mau. Tapi, semua kue yang aku bawa yang sesuai dengan deskripsimu, semuanya kamu bilang nggak sama. Lalu aku harus mencarinya dimana, sayang?" tanya Keenan yang mulai frustasi.
"Kenapa kamu tidak membuatnya sendiri." Jawaban Dira membuat Keenan menoleh ke arahnya.
"Maksud kamu, aku membuat kue seperti yang kamu jabarkan itu sendiri?" Dira mengangguk.
"Tidak, tidak, tidak. Aku tidak bisa melakukannya." Tolak Keenan.
"Tuh kan, kamu nggak mau ngelakuin keinginanku." Dira kembali memasang ekspresi sedihnya dan kembali mengusap perutnya.
"Nak, daddymu jahat. Dia mau nggak mau bikinin kita kue."
"Sayang, bukannya aku tidak mau. Tapi, aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara membuat kue itu. Jika aku bisa, aku pasti akan membuatkan kue yang kamu inginkan."
__ADS_1
"Aku akan mengajarimu."
"Apa!" Keenan terkejut saat Dira bilang akan mengajarinya.
"Iya, Mas. Aku akan mengajarimu."
"Baiklah, jika kamu mau mengajariku membuatnya. Aku akan membuatkan kue itu untukmu."
"Kalau begitu, ayo, kita beli semua bahan-bahannya!" ajak Dira. Dia memeluk lengan suaminya. Dengan semangat, Dira mengajak Keenan ke super market untuk membeli bahan untuk membuat kue.
Setelah mendapatkan semua bahannya, Keenan dan Dira mulai mencampurkan beberapa bahan sesuai petunjuk yang ada YouTube. Iya, ternyata yang dimaksud Dira mengajari Keenan membuat kue adalah dengan menonton resep dari YouTube.
Dan setelah berjam-jam berkutat dengan adonan dan oven, kue pertama buatan Keenan pun matang. Kue itu berbentuk bulat, berwarna coklat dengan pisang di dalamnya. Dan ternyata kue yang dimaksud Dira adalah kue bolu pisang kepok coklat. Sebenarnya kue itu sudah dibelikan oleh Keenan dari toko kue terenak di kota tersebut, tapi, Dira selalu bilang kalau rasa kue itu tidak sama dengan rasa kue buatan ibunya.
"Sayang, kamu beneran akan makan kue ini?" tanya Keenan. Dia agak ragu saat melihat kue buatannya yang sudah matang. Apalagi kelihatannya kue yang dia buat itu agak gosong.
"Kue ini buang saja ya, biar nanti aku suruh Bibik buatin kue yang sama seperti ini. Aku yakin buatan Bibik, pasti lebih enak dari ini."
Keenan berusaha mengambil kue yang berada di hadapan sang istri.
"Ini adalah kue milikku, jadi kamu tidak boleh mengambilnya, apalagi membuangnya." Dira memegang dengan erat kue di hadapannya. Dia mengambil pisau kecil dan garpu, kemudian mulai memakan kue itu dengan sangat lahap.
"Enak tidak? Kalau tidak enak, buang saja ya."
__ADS_1
"Kue ini sangat enak. Bahkan lebih enak dari buatan Ibu dulu," jawab Dira dengan mulut penuh. Dia terlihat begitu menikmati kue buatan Keenan.
"Apa seenak itu?" tanya Keenan penasaran. Karena dari bentuk dan warnanya saja, sudah kelihatan kalau kue tersebut tidak enak.
"Sangat enak," jawab Dira.
"Boleh aku mencicipinya?"
Dira mengangguk, dia kemudian menyuapi suaminya tersebut.
"Bagaimana enakkan?" tanya Dira yang kembali menikmati kue dihadapannya.
"Sayang, tapi kue ini tidak enak. Rasanya juga sedikit gosong."
"Kamu sengaja mengatakan itu karena kamu ingin meminta kue itu lagi kan?"
Keenan menggeleng.
"Pokonya, aku tidak akan membiarkan siapa pun meminta kue ini lagi. Aku akan mengahabiskannya sendiri."
Dan benar saja, satu loyang kecil kue tersebut dihabiskan oleh Dira tanpa sisa. Keenan tersenyum melihat wajah bahagia sang istri.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Sebelumnya otor minta maaf, tadinya karya baru otor akan lunching pertengahan bulan ini. Tapi karena satu dan lain hal, terpaksa otor undur. Jadi, jangan di unfavorit dulu ya, kisah Mbak Dira dan Babang Kee.
...TERIMAKASIH...