KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 82


__ADS_3

Namun, ketika baru saja keluar dari kamar Riska, seseorang sudah berada di depannya dan membuat wajah Anita seketika berubah pias.


"Se__sejak kapan kamu di sini?" tanya Anita gugup.


"Baru saja," jawab Dira, dia menatap Anita aneh. "Mama tidak apa-apakan? Wajah Mama terlihat sangat pucat. Apa mama sakit?"


"Tidak, Mama tidak sakit." Anita menjawab dengan cepat.


"Oiya, lalu, kenapa Mama bisa ada di kamarnya Riska?" tanya Dira lagi.


"Ma__mama...."


"Tante Anita menyuruhku untuk menaati peraturan rumah ini, jika aku ingin tinggal di sini," sela Riska yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Bener itu, Ma?"


"Benar, aku hanya tidak ingin temanmu jadi ngelunjak karena aku menerimanya tinggal di sini." Kini Anita kembali berakting menjadi sosok yang galak seperti biasanya.


"Tenang saja, Ma. Riska orang yang bisa menempatkan diri kok. Lagian dia juga tidak akan lama-lama tinggal di sini, benarkan Ris?"


Anita melirik ke arah Riska demikian juga sebaliknya.


"I__iya, aku akan pindah setelah mulai bekerja dan mendapatkan gaji," jawab Riska dengan nada yang terdengar tidak suka.

__ADS_1


"Tuh, Mama dengarkan? Jadi, Mama nggak usah khawatir kalau dia akan melanggar peraturan rumah ini," ujar Dira.


"Kamu sendiri kenapa ke mari, bukannya tadi bilang mau berangkat ke perusahaan?" tanya Anita. "Jangan karena sekarang kamu menjabat menjadi direktur utama terus kamu seenaknya berangkat siang. Ingat, menjadi direktur itu harus menjadi contoh bawahannya! Jangan seperti ibumu yang malah jadi conton tidak baik untuk perusahaan."


"Jangan khawatir, aku bisa menghendle semuanya kok, Ma. Dan aku ke sini cuma mau ngasih tahu ke Riska kalau meski pun dia temanku, aku tidak akan segan untuk menegurnya kalau dia melakukan kesalahan."


"Tenang saja, Ra. Aku pasti akan memanfaatkan kesempatan yang kamu berikan sebaik mungkin. Aku tidak akan mengecewakanmu nanti," jawab Riska.


"Baguslah, aku berangkat ke perusahaan sekarang," pamit Dira.


"Tunggu!" cegah Anita saat putri tirinya tersebut hendak melangkah pergi.


"Ada apa?" tanya Dira.


"Mama cuma penasaran, memangnya kamu mau menempatkan Riska di mana? Bukankah tidak ada posisi yang kosong di perusahaan kita?" tanya Anita penasaran.


"Dimana?" tanya Anita yang makin penasaran.


"Besok saja aku kasih tahu saat Riska sudah mulai bekerja di perusahaan," jawab Dira yang menolak memberitahu dimana Riska akan dia tempatkan.


"Semoga, kamu menempatkan dia di posiai yang tepat di perusahaan," imbuh Anita.


"Pasti. Tapi, Mama besok akan ke perusahaan jugakan?"

__ADS_1


"Tentu saja. Tapi, tumben kamu menanyakan itu?" tanya Anita heran.


"Tidak ada apa-apa." Dira memberikan senyum terbaiknya di hadapan Anita san temanya Risma. "Aku pamit ya, Ma, Ris. Ingat Ris, jangan sungka-sungkan. Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan kamu bisa minta bantuan ke pelayan atau kalau mama bersedia kamu bisa meminta bantuan ke dia," lanjuta Dira.


"Iya, Ra. Sekali lagi terimakasih ya. Kamu memang teman yang paling baik." Riska memeluk tubuh Dira.


"Iya, sama-sama. Aku tinggal sekarang ya. Assalammualaikum." Dira berjalan meninggalkan dua orang yang berdiri di hadapannya.


Malam harinya, saat Keenan dan Dira pulang dari perusahaan. Riska dengan sengaja menyediakan minuman untuk diminum oleh meraka. Dia sudah memasukkan obat tidur kedalam dua gelas yang dia bawa.


"Ra, Pak Keenan. Ini aku buatin minuman untuk kalian, kalian pasti capek kan." Riska menaruh dua gelas minuman di atas meja yang ada di depan Keenan dan Dira.


"Ya ampun Ris, kenapa kamu sampai repot-repot buatin. Padahal aku bisa lho bikin sendiri."


"Nggak repot kok, hitung-hitung sebagai ucapan terimakasihku karena kalian sudah mau membantuku." Setelah mengatakan itu, Riska meninggalkan Keenan dan Dira. Dia sengaja mengintip mereka untuk memastikan kalau dua minuman yang dia sediakan di minum oleh Dira dan Keenan.


Riska begitu senang saat melihat Dira dan Keenan meminum minuman yang dia bawa tadi.


"Yes! Akhirnya malam ini kamu akan menjadi milikku Kee dan untuk kamu Dira, siap-siap untuk segera menyingkir dari sisi Keenan Wijaya." Riska bersorak kegirangan. "Aku yakin setelah ini aku pasti akan bisa menggantikan Dira menjadi Nyonya Wijaya. Andai saja Mama ada di rumah, dia pasti akan sangat bangga kepadaku."


Riska kembali ke kamarnya, dia bersiap untuk melakukan sandiwara berikutnya.


🍂🍂🍂

__ADS_1


Hmmm, apa ya yang akan terjadi dengan Dira dan Keenan setelah meminum minuman pemberian Riska?


Yuk, cepat berikan like, komen dan giftnya karena episode berikutnya akan ada beberapa rahasia yang akan di ungkap.


__ADS_2