
"Katakan apa kamu mulai menyukaiku?" tanya Keenan sekali lagi sambil terus mendekatkan wajahnya ke arah Dira.
Dira memejamkan matanya saat jarak wajah mereka tinggal beberapa centi lagi.
Keenan terus menatap Dira yang masih memejamkan matanya, ada gelayar aneh yang muncul dari dalam dirinya saat tatapan matanya jatuh di bibir ranum milik wanita yang berstatus istrinya tersebut. Bahkan ada bagian dari dirinya yang tiba-tiba ikut menegang.
"Shit! Apa yang terjadi padaku kenapa jadi seperti ini?" batin Keenan. Dia mengumpat dirinya sendiri.
Keenan menjauhkan tubuhnya dari wajah Dira karena takut tidak bisa mengendalikan dirinya jika terus manatap bibir indah tersebut. Perasaan gengsinya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan keinginannya untuk mencecap bibir indah itu.
"Hei, kenapa kamu memejamkan matamu? Cepat buka!" seru Keenan tanpa melihat ke arah Dira lagi.
Dira membuka matanya, dia juga merasa bodoh karena sudah mengira pria yang berada di sebelahnya akan melakukan hal lebih.
"Barusan kamu pasti mengira kalau aku akan menciummukan?" tanya Keenan. "Jangan mimpi, aku tidak akan melakukan hal itu dalam keadaan sadar!"
"Jadi waktu kamu menciumku di kantin kamu sedang tidak sadar?" Dira sedikit kesal dengan ucapan Keenan barusan.
"Anggap saja begitu, lagian aku melakukan itu karena ingin menyelamatkanmu dari pandangan buruk karyawanmu."
"Ohya?!"
"Ya," jawab Keenan.
__ADS_1
"Lalu kenapa itumu menegang?" tanya Dira sambil melirik ke bagian sensitif milik Keenan yang berada di balik celana. "Bilang saja kalau kamu mulai tertarik padakukan?"
"Bangun woi bangun!" Keenan menyentil kening Dira. "Itu reaksi yang normal terjadi pada pria saat di hadapkan pada sesuatu yang memicunya."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar," jawab Keenan yang tak mau kalah. "Nih dengar ibarat kucing yang di hadapkan pada ikan asin, tidak mungkinkan kalau kucing itu tidak tertarik dengan ikan asin di hadapannya."
"Jadi kamu menganggap dirimu kucing?"
"Ya, tidak begitu juga."
"Sudah, mengaku saja kalau kamu yang mulai tertarik padaku?" kini giliran Dira yang bersikap percaya diri.
"Mengaku saja, aku bisa maklum kok kalau kamu mulai tertarik padaku."
"Aku bilang tidak ya tidak!" jawab Keenan. "Harusnya aku yang berkata begitu, kamu mulai tertarik padakukan, buktinya kamu memujiku tadi!"
"Tadi itu aku hanya mengatakan hal umum yang biasanya disukai sama wanita," elak Dira.
"Kamukan wanita, jadi kamu juga menyukaiku dong?"
"Kecuali diriku," sela Dira. "Aku tidak akan tertarik dengan pria galak sepertimu."
__ADS_1
Mendengar pertengkaran unfaedah dari penumpang yang duduk di jok belakang membuat sang sopir taksi terkikik.
"Kenapa Bapak tertawa?" tanya Dira.
"Kalian pasangan yang lucu menurut saya," jawab sopir taksi itu.
"Apanya yang lucu?" kini giliran Keenan yang mengajukan pertanyaan.
"Saya yakin kalian pasangan baru yang menikah tanpa di dasari perasaan cinta sebelumnya. Tapi, dilihat dari cara kalian menatap satu sama lain, saya yakin benih-benih itu mulai ada di hati kalian."
"Bapak sok tahu," tukas Keenan.
"Kali ini aku setuju dengan Kee kalau Bapak sok tahu," timpal Dira.
Sopir itu kembali tertawa. "Baiklah, kali ini kalian bisa menganggap kalau saya ini sok tahu. Tapi, lihat saja suatu saat nanti kalian akan menyadari kalau ucapan saya kali ini benar," ucap Sopir taksi dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Terserah Bapak. Tapi yang jelas saya tidak akan jatuh cinta dengan cewek licik seperti dia," jawab Keenan.
"Ya, ya, tidak jatuh cinta, tapi tergoda," sahut Dira sembari melirik ke bagian tubuh Keenan yang tampak jelas menegang.
"Sial. Kenapa sih si jeri tidak bisa di ajak kerja sama?" Keenan merutuki jeri miliknya dalam hati.
Keenan memilih tidak lagi menjawab perkataan Dira sebelum dia terlihat benar-benar kalah di hadapan wanita yang duduk di sebelahnya. Dan beruntung, dering ponsel menyelamatkan gengsinya. Keenan mengambil ponsel dari dalam saku celanaya dan segera menjawabnya. Hanya sebentar Keenan berbicara dengan orang yang menghubunginya, dia kembali memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya.
__ADS_1