
Sesuai jadwal pagi ini Dira ada meeting dengan clientnya. Dan kebetulan clientnya kali ini adalah teman satu sekolahan dulu yang bernama Fira. Dulu ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, Fira termasuk siswa yang sangat cerdas dan juga pintar. Hampir tiap tahun dia selalu menduduki peringkat satu di sekolah tersebut. Ayah Fira adalah salah satu pengusaha hotel dan resto yang sukses di salah satu kota di Jawa Tengah, tepatnya Semarang. Sesuai dengan cerita Fira, dia mulai melanjutkan perusahaan ayahnya setelah ayahnya meninggal.
"Ra, kita makan siang bareng yuk!" ajak Fira begitu mereka keluar dari ruang meeting, apa lagi saat ini sudah masuk jam makan siang.
"Boleh, kebetulan aku tidak terlalu sibuk," jawab Dira.
"Tapi jangan sebagai rekan bisnis ya. Aku mau kita makan siang sebagai teman," pinta Fira. "Aku butuh teman curhat, Ra."
Dira menatap Fira sejenak kemudian mengangguk. "Oke," jawab Dira singkat.
Setelah membereskan beberapa file hasil meeting mereka tadi, Dira dan Fira ke luar dari perusahaan ATMAJA dan pergi menuju ke restoran yang letaknya tidak jauh dari perusahaan tersebut.
Fira memilih tempat duduk VIP agar dia bisa curhat tanpa adanya gangguan dari pengunjung lain.
"Kamu mau makan apa, Ra?" tanya Fira sembari menyodorkan buku menu kepada Dira.
"Kebetulan aku bukan pemilih, aku bisa makan apa saja. Jadi terserah kamu mau pesan apa, aku ikut," jawab Dira. Dia meletakkan buku menu yang diberikan oleh Fira di atas meja.
"Baiklah, aku pesankan beberapa menu favoritku ya, semoga saja kamu suka," ucap Fira. Dia memanggil waitress dan memesan beberapa menu yang dia suka.
Tidak lama semua menu pesanan Fira pun sudah terhidang di depan meja mereka. Dira dan Fira mulai menyantap semua menu yang mereka pesan sambil mengobrol.
Dira langsung berhenti mengunyah saat Fira menceritakan tentang rumah tangganya yang hancur karena orang ketiga.
"Fira, kamu tidak apa-apakan?" tanya Dira, dia merasa kasihan melihat nasib rumah tangga temannya itu. Padahal Fira dan suaminya adalah dua sejoli yang menikah karena cinta, bahkan hubungan dia dan suaminya terjalin sejak mereka berstatus sebagai pelajar.
"Aku tidak apa-apa, Ra. Hanya saja, ada satu hal yang aku sesalkan," jawab Fira dengan mata kaca-kaca.
"Apa?" tanya Dira.
"Jika tahu suamiku akan berselingkuh seharusnya aku menunda kehamilanku. Jadi, tidak akan ada korban saat kami berpisah." Fira bercerita dengan sesekali menghela napas. Mungkin ini pertama kalinya dia menceritakan masalah yang menimpa rumah tangganya pada orang luar. Karena terlihat dari raut wajah yang ditunjukkan dia terlihat lega setelah bercerita pada Dira.
"Kamu pernah bertanya pada suamimu, kenapa sampai dia berselingkuh?" tanya Dira. "Jika kamu keberatan tidak usah cerita," ralat Dira.
"Karena aku wanita karir. Dia bilang, dia menginginkan istri yang hanya mengurus rumah tangga. Dia ingin saat dia pulang ada orang yang menyambutnya di rumah. Tapi bagaimana aku bisa melakukan itu, aku harus melanjutkan perusahaan papaku dan dia juga harus melanjutkan perusahaan keluarganya. Makanya dia memilih bercerai dan menikah dengan wanita yang hanya mengurusnya di rumah," jawab Fira.
__ADS_1
"Sabar ya, Fir. Semoga kamu bisa menemukan jodoh yang mau mengerti akan pekerjaanmu," Dira mengusap lengan Fira sebagai bentuk dukungannya.
"Terimakasih," ucap Fira. "Oiya, Ra. Apa kamu sudah menikah? Aku ingat dulu kamu pacaran sama Erikkan? Gimana kelanjutan hubungan kalian?" cerocosnya.
"Aku sudah menikah, tapi bukan dengan Erik. Ya ... mungkin kita memang tidak berjodoh," jawab Dira.
"Kalau suamimu juga pengusaha sukses, mending kamu tunda kehamilanmu dulu. Aku yakin, dia menginginkan istri yang hanya mengurus dirinya dan anak kalian kelak. Jangan sampai kamu sepertiku, diceraikan setelah aku memiliki anak."
Perkataan Fira membuat Dira seketika terdiam. Dia mulai memikirkan perkataan Fira barusan.
"Ra, makasih ya. Sudah mau nemenin aku makan siang. Dan terimakasih juga karena sudah mau mendengarkan sedikit keluhanku. Aku tidak tahu harus berbagi kesedihan kepada siapa karena aku tidak memiliki teman dekat selama ini, ditambah aku seorang anak tunggal jadi tidak ada yang bisa aku ajak ngobrol."
"Santai aja, Fir. Lain kali kalau kamu butuh teman ngobrol kamu bisa menghubungi aku," ucap Dira.
"Sekali lagi terimakasih ya, Ra," ucap Fira sebelum pergi.
***
Malam harinya ....
"Berhentilah mengurus pekerjaanmu saat sedang bersamaku." Keenan mengambil berkas-berkas yang sedang di lihat oleh Dira dan meletakkannya di atas nakas dekat tempat tidur.
"Barusan aku hanya sedikit mengecek beberapa file yang belum sempat aku periksa tadi," kilah Dira.
Keenan naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelah istrinya. "Pekerjaanmu bisa kamu lanjutnya nanti, sekarang adalah meetime kita," bisik Keenan. "Kamu ingatkan sayang, kalau kamu harus menerima hukumanmu malam ini?" seringai Keenan.
Gleg.
Dira menelan salivanya dengan susah payah. Dia ingat kalau tadi pagi Keenan mengatakan akan memberinya hukuman. Dia sudah tahu persis hukuman yang akan diberikan oleh suamiya.
Keenan mulai memberikan sentuhan-sentuhan kecil sebagai awal untuk hukuman yang akan dia berikan. Dia mulai mendaratkan bibirnya diatas hibir berwarna merah muda milik sang istri. Bibir itu terasa lebih manis melebihi manisnya gulali.
Tidak hanya bibir Keenan yang bekerja, kedua tangannya pun ikut bekerja. Mulai dari menyentuh bagian atas tubuh Dira hingga ke bagian bawahnya, sebelum akhirnya sepasang suami istri melakukan penyatuan mereka.
"Terimakasih ya Sayang," ucap Keenan di akhir kegiatan panas mereka. Tidak lupa dia memberi kecupan pada kening istrinya.
__ADS_1
"Sama-sama, Mas."
Keenan menyelimuti tubuh polos istrinya dengan selimut. "Istirahatlah!" suruhnya.
"Mas," panggil Dira saat Keenan hendak turun dari tempat peraduan.
"Ada apa?" tanya Keenan lembut.
"Boleh aku menanyakan sesuatu padamu?"
"Tanya saja!"
"Kamu lebih menyukai istri yang memiliki karir atau istri yang hanya mengurusi rumah?" tanya Dira.
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu?" tanya Keenan, dia menatap istrinya heran.
"Hanya ingin tahu saja, tipe istri seperti apa yang kamu inginkan."
Keenan sedikit berpikir. "Sebenarnya dari dulu aku ingin istri yang pandai mengurus rumah, menyambutku saat aku pulang kerja. Dia juga bisa memijitku saat aku merasa lelah dengan pekerjaanku," jawab Keenan.
Mendengar jawaban Keenan membuat Dira terdiam. Jawaban itu sama persis seperti jawaban suaminya Fira.
"Ada apa Sayang? Kok ekpresi wajahmu tiba-tiba berubah seperti itu?" tanya Keenan saat melihat ada perubahan pada raut wajah istrinya.
"Tidak ada," jawab Dira. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut termasuk wajahnya.
"Tapi ...." Keenan ingin melanjutkan jawabannya, tetapi Dira sudah lebih dulu menyelanya.
"Aku lelah mau langsung tidur," sela Dira yang masih berbicara dari balik selimut.
"Ya sudah, aku mandi duluan. Nanti jika kamu membutuhkan bantuanku, aku ada di ruang kerja." Keenan segera beranjak turun dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi.
Saat Keenan sedang mandi, Dira mebuka selimutnya. Dia mengambil sesuatu yang dia beli saat pulang kerja dari dalam tas.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Yuk berikan like, komen dan giftnya. Salam sayang dari otor ter--KECEH🌷