
Dira keluar dari dalam kamar. Dia menuruni anak tangga menuju ke restoran tempat semua anggota keluarga Wijaya sudah berkumpul. Namun, dia terkejut ketika seseorang menarik tangannya dan membawanya ke tempat sepi.
"K-Kamu--"
Dira tidak melanjutkan ucapannya ketika dia tahu orang yang menarik tangannya.
"Lepaskan tanganku!" sentak Dira, dia menghemapas dengan kasar tangan orang yang menariknya. Dan orang itu adalah Erik.
"Dira, kenapa kamu lakukan ini kepadaku? Kenapa kamu harus membuat Pak Keenan menikahimu. Bukankah aku sudah pernah bilang kepadamu, kalau aku akan mencari jalan untuk membantumu. Kenapa kamu tidak mau menungguku?" ujar Erik.
"Menunggumu? Kapan kamu menyuruhku untuk menunggumu?" tanya Dira, dia memberikan tatapan tajamnya kepada Erik. "Aku bahkan sudah lupa kalau aku pernah mengenal orang sepertimu."
"Dira, maafkan aku. Bukan maksudku untuk tidak mengakuimu sebagai kekasihku. Tapi, keadaan yang memaksaku untuk tidak mengakuimu waktu itu." Erik berusaha untuk memberikan penjelasan kepada Dira.
"Kalau begitu anggaplah keadaan yang juga memaksaku untuk membuat Keenan menikah denganku."
"Dira, Pak Keenan tidak akan pernah bisa mencintaimu karena aku tahu siapa wanita yang dia cintai saat ini. Aku yakin kamu tidak akan bisa bahagia, hidup dengannya," tutur Erik.
"Aku tidak peduli. Meski seumur hidup aku harus menderita dalam ikatan pernikahanku sekali pun, aku tidak akan pernah takut. Asal aku bisa merebut hal yang seharusnya menjadi milikku dan menghukum orang-orang yang sudah membuat hidupku dan hidup ibuku menderita," jawab Dira.
"Dira ...."
__ADS_1
Dira mundur satu langkah sambil terus menghalau tubuh Erik dengan merentangkan kedua tangan di hadapannya, agar pria itu tak mencampuri urusan pribadinya.
"Suamiku dan keluarganya sudah menunggu, permisi!" Dira berjalan meninggalkan Erik yang masih mematung.
Sambil berjalan, Dira mengingat semua kejadian yang menimpa hubungannya dengan Erik dua tahun lalu. Saat itu, Dira yang datang ke pesta ulang tahun Erik, di hina habis-habisan oleh sebagian tamu undangan termasuk kedua orang tua Erik. Bahkan dia dianggap perempuan yang tidak tahu diri karena mengaku sebagai kekasih dari anak yang punya rumah. Awalnya, Dira tidak perduli soal itu, baginya asal Erik masih mengakuinya, itu sudah cukup. Tapi semua berbanding terbalik dari harapannya, kekasih yang dia anggap akan menolongnya dengan mengakui hubungan mereka, malah menyangkal dan mengatakan kalau dia sama sekali tidak mengenalnya.
"Kamu dengar sendirikan, putraku tidak mengenalmu, jadi bagaimana bisa kamu menjadi kekasihnya," cibir ibu Erik waktu itu.
"Rik, apa ini benar-benar dirimu? Apa ini Erik yang aku kenal dan aku cintai?" tanya Dira, dia menatap tajam pria yang berdiri dihadapannya.
"Mbak, Mbaknya salah orang kali. Aku tidak mungkin mengenal gadis sepertimu, apalagi sampai menjalin kasih. Itu benar-benar tidak masuk akal," jawab Erik.
"Sekarang pergilah dari sini, pesta ini tidak pantas untuk wanita sepertimu!" usir Ibu Erik.
"Putraku tidak memerlukan hadiah darimu," sahut Ibu Erik.
"Tapi aku ingin memberikannya," timpal Dira.
Dira mengambil gelas berisi minuman yang kebetulan berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sambil tersenyum dia berjalan mendekati Erik.
"Selamat ulang tahun Erik," ucap Dira sambil mengguyur kepala Erik dengan minuman yang baru saja dia ambil. "Semoga hadiahku ini berkesan untukmu."
"Dasar wanita sinting! Security usir dia!" suruh Ibu Erik. Dia mendekati putranya dan membantu membersihkan rambut putranya dengan menggunakan tisu.
__ADS_1
"Tidak usah memanggil security, aku pastikan ini terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di tempat ini. Permisi!"
Dengan perasaan kecewa dan marah, Dira keluar dari rumah Erik. Sejak saat itu, dia tidak pernah lagi bertemu dengan Erik.
Dira tersadar dari lamunannya saat tanpa sengaja dia menabrak seorang pelayan dan membuat semua minuman yang dibawa oleh pelayan itu jatuh berserakan.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja," ucap Dira. Dia berusaha membantu membersihkan pecahan kaca yang berserakan.
"Tidak usah Nyonya, biar saya yang membersihkan," ucap pelayan itu.
"Tapi semua ini salahku, jadi biar aku yang membersihkannya."
Dira berjongkok untuk mengambil pecahan kaca yang berserakan. Namun, karena kurang berhati-hati pecahan kaca itu malah menggores ujung jarinya.
"Aw," pekik Dira.
Dira terkesiap saat seseorang mengambil jarinya yang terluka.
•) Visual Erik
🍂🍂🍂
__ADS_1
Berikan like dan vote Babang Kee dengan mawar, kopi atau hati, biar otor tambah semangat buat update. Salam sayang dariku Otor ter--KECEH 🌷🌷