
Sudah satu bulan sejak terungkapnya kebenaran tentang ibu kandung Dira dan pengusiran Anita dari rumah besar Hendrawan. Keadaan Hendrawan berangsur membaik. Dia sudah mulai bisa berbicara dengan lancar dan bisa berdiri walau cuma beberapa menit. Itu semua terjadi karena rutinnya dia melakukan terapi.
Sebelumnya Hendrawan tidak pernah dibawa ke rumah sakit atau pun menghadirkan dokter untuk melakukan terapi di rumah. Setiap Dira berniat memanggil dokter ke rumah atau mengantarkan papanya itu untuk melakukan terapi, selalu saja ada seribu alasan yang diberikan oleh Anita, agar sang ayah tidak jadi melakukan terapi.
Hari ini adalah jadwal Hendrawan melakukan terapi di rumah sakit. Sebenarnya Keenan pernah menyuruh istrinya untuk menghadirkan dokter dan terapis saja ke rumah agar istrinya tidak perlu repot harus mengantar ayahnya ke rumah sakit setiap akan melakukan terapi. Tetapi istrinya itu menolak. Akhirnya Keenan hanya bisa menuruti keinginan sang istri. Biasanya Keenan akan ikut mendampingi istrinya itu mengantar sang ayah mertua melakukan terapi. Tapi tidak dengan pagi ini. Keenan tidak bisa mendampinginya karena harus menghadiri meeting penting di perusahaan.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang kalau aku tidak bisa menemanimu mengantar papa melakukan terapi?" tanya Keenan di sela-sela dirinya memakai dasi.
"Tidak apa-apa kok, Mas."
Keenan menoleh ke arah istrinya saat mendengar panggilan baru untuknya dari mulut sang istri.
"Mas? Aku tidak salah dengarkan?" tanya Keenan yang hampir tidak percaya dengan pendengarannya.
Dira mendekat ke arah suaminya dan membantu suaminya itu memakaikan dasi dengan benar.
"Kenapa? Tidak suka ya aku memanggilmu dengan panggilan 'Mas'?" Dira menjawab pertanyaan Keenan dengan pertanyaan.
"Bukan itu. Hanya saja selama lebih dari 6 bulan kita menikah, kamu tidak pernah memanggilku seperti itu. Rasanya agak aneh saja," jawab Keenan.
Memang benar sejak awal pernikahan mereka yang penuh dengan intrik, Dira tidak pernah sekali pun memanggil suaminya dengan sebutan Mas. Dia selalu memanggil Keenan dengan namanya. Keenan pun tidak mempermasalahkan soal itu. Karena baginya apa pun panggilan yang diberikan oleh istrinya, dia tahu kalau Dira mencintainya.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak suka, aku akan memanggilmu dengan panggilan seperti biasanya saja."
"Siapa bilang aku tidak suka, aku justru sangat suka," jawab Keenan. "Bisakah kamu memanggilku seperti itu sekali lagi!"
"Mas." Dira mengalungkan kedua tangannya di leher Keenan. "Mas, Mas, Mas."
"Kamu tahu, aku semakin mencintaimu Dira." Keenan mengecup mesra bibir sang istri.
"Aku juga semakin mencintaimu," jawab Dira yang kemudian juga membalas kecupan bibir suaminya.
"Ya sudah, aku ke perusahaan sekarang."
"Aku juga akan ke perusahaan setelah mengantar papa terapi."
Dira mengangguk. Sebenarnya Keenan sudah pernah menawari istrinya untuk memanggil dokter dan terapis ke rumah supaya sang mertua tidak harus ke rumah sakit saat akan melakukan terapi. Namun, hal itu justru ditolak oleh Dira. Dia tidak ingin dianggap memanfaatkan suaminya.
Keenan kembali mengecup bibir istrinya, setelah itu barulah dia berangkat ke perusahaan. Setelah suaminya berangkat ke kantor, Dira segera menemui sang ayah di kamarnya.
"Pa, Papa sudah siap untuk terapi lagikan?" tanya Dira kepada papanya, Hendrawan.
"Iya, Nak. Papa sudah siap. Papa ingin segera sembuh dan bisa membantumu mengurus perusahaan almarhum kakekmu," jawab Hendrawan.
__ADS_1
"Papa tenang saja, saat ini aku sudah bisa menghandle perusahaan dengan baik. Lagian jika aku ada kesulitan kan masih ada Mas Kee yang akan membantuku," jawab Dira.
"Kamu benar. Sekarang kamu sudah memiliki suami yang hebat seperti Keenan. Jadi kamu sudah tidak membutuhkan bantuan ayah untuk mengurus perusahaan."
"Pa, jangan bicara seperti itu. Dira akan selalu membutuhkan bantuan papa," ucap Dira lembut.
Hendrawan membalas ucapan putrinya dengan senyuman.
"Sekarang papa siap-siap, sebentar lagi kita akan ke rumah sakit untuk terapi!" Dira menyuruh papanya untuk bersiap-siap.
"Iya, Nak." Jawab Hendrawan.
Dira keluar dari kamar ayahnya dan memberinya kesempatan untuk bersiap-siap. Setelah selesai, mereka pun berangkat menuju ke rumah sakit.
Saat sang ayah sedang melakukan terapi tiba-tiba ada panggilan masuk di ponsel milik Dira. Namun, karena itu dari nomor yang tidak dia kenal, Dira memilih untuk merejectnya. Tetapi beberapa saat kemudian ponselnya itu kembali berdering.
"Jawab saja Nak, siapa tahu itu dari perusahaan!" suruh sang ayah.
"Baiklah, Dira keluar sebentar ya Pa." Dira pun ke luar dari ruang terapi ayahnya.
"Hallo, ini siapa ya?" tanya Dira, namun tidak ada jawaban dari ujung sana. Dira menatap nomor asing yang menghubunginya tersebut. "Aneh, kenapa dia tidak bersuara."
__ADS_1
Akhirnya Dira memilih menutup panggilan tersebut dan berniat kembali ke tempat ayahnya yang sedang menjalani terapi. Namun, ketika dia baru saja berbalik tiba-tiba ada yang membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah dibubuhi dengan obat bius sehingga membuatnya langsung tak sadarkan diri.
Orang itu segera membawa Dira meninggalkan rumah sakit sebelum ada yang melihatnya.