KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 69


__ADS_3

Keenan melihat Dira yang sudah tertidur di atas ranjang. Dia berniat untuk mandi terlebih dulu sebelum memutuskan untuk menyusul istrinya itu tidur. Namun, ketika hendak melangkah masuk ke dalam kamar mandi tiba-tiba Keenan mendengar isakan tangis. Isakan itu memang sangat lirih, tetapi masih mampu di tangkap oleh indera pendengar milik Keenan.


Keenan kembali melangkah mendekati ranjang tempat di mana istrinya sedang berbaring.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Keenan.


"Tidak ada apa-apa," jawab Dira, dia masih memgalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Jangan bohong! Aku tahu kamu baru saja menangis," ujar Keenan. "Katakan padaku, siapa yang membuatmu menangis!"


"Aku bilang tidak ada yang menangis, memang siapa yang menangis? Kenapa aku harus menangis? Memang siapa dirimu yang bisa membuatku menangis?"


Jawaban Dira malah semakin membuat Keenan yakin, kalau dirinyalah penyebab istrinya itu menangis. Keenan naik ke atas tempat tidur. Dengan bersandar pada sandaran tempar tidur, satu tangan Keenan mengusap rambut panjang istrinya tersebut.


"Dira yang aku kenal, tidak akan mudah mengeluarkan air matanya untuk hal-hal yang belum pasti. Dira yang aku kenal adalah sosok yang kuat dan selalu optimis dengan hal yang dia kerjakan."


Mendengar ucapan Keenan, membuat Dira mau tak mau menatap ke arahnya. "Memang seberapa besar kamu mengenalku? Apa kamu mengenaliku lebih baik dari kamu mengenal Anjani?"


"Sayang, aku tidak tahu apa yang sudah Mama Anita katakan padamu tentang aku. Tapi percayalah, jika itu menyangkut perasaanku pada Anjani. Itu semua tidak benar." Keenan mulai berujar.


"Maksudmu?" tanya Dira.

__ADS_1


"Aku, memang memiliki perasaan pada Anjani. Tapi ...."


Dira menepis tangan suaminya dari rambutnya, dan kembali memalingkan wajahnya. Keenan hanya menghela napasnya berat.


"Dira, aku belum selesai bicara, aku mohon dengarkan aku dulu!" pinta Keenan. "Kamu salah paham mengenai perasaanku pada Jani."


Dira bangun dari posisinya, kemudian dia ikut bersandar pada sandaran tempat tidur. "Salah bagaimana?" tanya Dira.


Keenan mengubah posisinya, dia menghadap ke arah Dira. Dia menangkup wajah cantik istrinya itu menggunakan kedua telapak tangannya. "Aku memang memiliki perasaan pada Anjani, tapi itu dulu sebelum aku bertemu denganmu. Memang benar, awal aku menikah denganmu aku membencimu dan berniat ingin menyiksamu. Tapi percayalah kalau saat ini orang yang ada di hatiku hanya kamu. Bukan Anjani atau wanita lain," ucap Keenan penuh keyakinan.


"Lalu kenapa kamu baru pulang selarut ini? Kamu bahkan tidak memberiku kabar?" tanya Dira.


"Bagaimana aku tidak salah paham, setiap kamu bersama Anjani kamu selalu melupakan aku," ujar Dira.


"Maafkan aku jika kamu merasa begitu." Keenan mengecup kening Dira lembut. "Besok aku akan menyelesaikan semuanya."


Dira mengangguk.


"Kee," panggil Dira.


"Apa?"

__ADS_1


"Kamu bau." Dira menutup hidungnya.


Keenan tertawa mendengar perkataan istrinya, "Aku mandi dulu ya atau kamu ingin membantuku mandi," goda Keenan dengar mengerlingkan sebelah matanya.


"Tidak mau, dasar mesum."


"Aku hanya mesum terhadapmu, jika aku tidak mesum bagaimana aku bisa memuaskanmu," jawab Keenan seenaknya.


"Ih, apaan sih."


"Aku mandi dulu, setelah itu aku akan tunjukkan seberapa mesumnya diriku padamu." Kembali Keenan menggoda istrinya.


"Sudah ah, sana mandi!" seru Dira sembari tersenyum.


"Kamu terlihat semakin cantik bila tersenyum seperti itu," puji Keenan.


"Ih, sudah sana mandi!" seru Dira dengan wajah yang semakin merona.


"Iya, aku mandi sekarang."


Keenan mendaratkan bibirnya sekilas di atas bibir sang istri, setelah itu barulah dia turun dari tempat tidur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2