KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 34


__ADS_3

Dengan memakai kemeja berwarna putih, rok sepan berwarna abu-abu, dan rambut yang diikat ke belakang, serta tas jinjing di tangan kanannya, Dira keluar dari dalam kamar. Dia berjalan menuruni anak tangga yang berada di dalam rumah selangkah demi selangkah untuk menuju ke lantai satu rumahnya.


"Mau kemana?"


Suara dari Keenan yang tengah duduk di atas sofa menghentikan langkah Dira. Wanita itu menatap ke arah Keenan yang sama sekali tidak melihat ke arahnya karena pria tersebut masih fokus dengan koran yang ada di tangannya.


"Aku mau ke perusahaan," jawab Dira.


"Untuk apa?" tanya Keenan dan kali ini pria itu menatap ke arah Dira.


"Aku harus mulai menyusun aturan baru yang akan aku berlakukan di perusahaan nantinya," jawab Dira.


"Kamu yakin para pemegang saham yang lain akan menerima aturan yang akan kamu ajukan?" tanya Keenan lagi. "Kamu harus ingat, kalau kamu baru bisa mendapatkan warisan dari mendiang kakekmu setelah usia pernikahan kita 1 tahun. Jadi kamu belum bisa untuk mengubah aturan di perusahaanmu sekarang."


Keenan melipat koran yang sedang ia baca dan menaruhnya di atas meja. Kemudian dia berjalan menghampiri Dira yang saat itu tampak sedang memikirkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, Dira maju satu langkah untuk bisa lebih dekat dengan tubuh suaminya itu.


Keenan yang memiliki perawakan lebih tinggi darinya, memaksanya untuk mendongak ketika mengajaknya berbicara. "Aku yakin, kamu pasti bisa membantuku untuk melakukan hal itu," jawab Dira.


"Kalau aku tidak mau?" tanya Keenan.


"Seorang putra dari Rangga Wijaya tidak akan mengingkari ucapannya sendiri," jawab Dira penuh percaya diri.

__ADS_1


"Kamu benar, aku tidak mungkin mengingkari ucapanku sendiri. Jadi, sekarang katakan padaku apa yang harus aku lakukan!"


"Ikutlah denganku ke perusahaan, nanti kamu akan tahu peranmu di sana," jawab Dira.


Akhirnya dengan ditemani oleh Keenan, Dira berangkat menuju ke perusahaan milik keluarganya.


Dari balik jendela sebuah kamar seorang pria yang duduk di atas kursi roda tersenyum saat melihat Keenan akhirnya mau menemani Dira pergi ke perusahaan. Dia begitu senang karena akhirnya sang putri memiliki seseorang yang bisa melindunginya. Orang itu ialah Hendrawan, ayah Dira. Sejak pagi dia tidak diijinkan untuk keluar dari kamar oleh istrinya, Anita.


"Jangan senang dulu."


Suara itu langsung membuyarkan senyum yang baru saja terlukis di wajah Hendrawan.


"Aku sudah menyiapkan rencana yang begitu indah untuk putri kesayanganmu," lanjut Anita. Dia mengatakan hal tersebut tepat di samping telinga Hendrawan.


"Aku akan menyingkirkan putrimu sama seperti aku menyingkirkan istrimu."


Hendrawan berusaha mengepalkan tangannya, namun, kondisi tubuh yang terbatas membuatnya tidak mampu untuk melakukan itu. Dia hanya bisa berdoa semoga Dira bisa melawan wanita licik yang saat ini berdiri di belakangnya.


****


Hanya membutuhkan waktu 20 menit bagi Dira dan Keenan untuk sampai di perusahaan keluarga milik Dira. Mereka langsung masuk ke perusahaan tersebut. Tentu saja itu menjadi pusat perhatian seluruh karyawan. Pasalnya sejak kematian almarhum ibunya, Dira tidak pernah lagi datang ke perusahaan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Keenan ketika tiba-tiba istrinya itu hanya berdiri di depan pintu sebuah ruangan. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat dengan raut wajah ketakutan.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Keenan sekali lagi. Dira masih diam.


"Apa ini ruang kerjamu?" Dira menjawabnya dengan anggukan.


"Kalau begitu ayo masuk, kenapa kamu malah berdiri di sini?" Keenan membuka pintu ruangan tersebut.


"Di... di kursi itu aku melihat ibuku kejang-kejang dengan banyak busa yang keluar dari mulutnya," Dira mengatakan itu dengan suara bergetar seperti menahan kepedihan.


"Aku sudah berusaha membawa ibuku ke rumah sakit, tapi semuanya terlambat. Ibuku tidak bisa di selamatkan, dia meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit."


Dengan segera Keenan menutup pintu ruangan itu dan membawa Dira masuk ke ruangan lain. Dia memeluk Dira untuk membuatnya sedikit tenang.


"Tenanglah! Aku di sini bersamamu, jangan takut!" Keenan mengatakan hal itu sambil mengusap punggung Dira dengan sangat lembut.


Dira mengangguk, pelukan Keenan sungguh membuat dirinya begitu nyaman.


🍂🍂🍂


Maaf baru update, silakan tinggalkan jejak dengan cara like, komen dan jangan lupa berikan giftnya untuk Babamg Kee dan Mbak Dira.

__ADS_1


Salam sayang dari otor ter--KECEH 🌹🌹


__ADS_2