
"Ra, Dira! Ada apa? Kenapa kamu teriak?" tanya Keenan sembari mengetuk daun pintu kamar mandi. Dira membuka pintu kamar mandi tersebut dan langsung memeluk tubuh Keenan.
"Kee, di dalam bath up ada cicak yang jatuh tadi."
"Jadi, barusan kamu teriak hanya karena cicak?" tanya Keenan.
"Iya," jawab Dira sembari mengangguk. "Dari kecil aku paling takut dengan cicak."
"Astaga, Dira. Aku kira kamu kenapa sampai teriak kenceng banget. Tahunya hanya karena cicak." Keenan meletakkan telapak tangannya di atas keningnya sendiri.
"Kan sudah aku bilang, aku takut dengan cicak. Salah deng bukan takut, tapi lebih tepatnya geli karena cicak itu memiliki bentuk yang menjijikkan," jelas Dira.
"Di mana cicaknya?"
"Itu, cepat buruan ambil!" jawab Dira dengan menunjuk sudut bath up yang ada di hadapannya. Dan memang benar, di sudut bath up itu ada cicak kecil yang sudah mati. Keenan mengambil cicak tersebut menggunakan tangannya dan membuangnya melalui saluran closet.
"Sudah tidak adakan sekarang cicaknya? Buruan mandi, aku juga sudah gerah pingin mandi!" seru Keenan.
"Apa kamu ingin kita mandi bersama?" goda Keenan dengan mengerlingkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Ih, apaan? Dasar mesum!"
Keenan hanya tertawa mendengar ucapan istrinya yang mengatainya mesum.
"Ya, sudah. Makanya lepaskan pelukanmu dan sana mandi, jangan sampai si jeri bangun lagi!" suruh Keenan.
"Kenapa kamu membicarakan jeri? Kan jeri tidak ikut bersama kita?" tanya Dira sembari mendongak menatap wajah Keenan. "Apa jangan-jangan si jeri itu anak kamu dengan seseorang?" kali ini Dira kembali dengan pikiran negatifnya.
"Gimana ngejelasin tentang si jeri sama Dira?" batin Keenan, dia memikirkan kata yang tepat untuk memberikan penjelasan kepada wanita yang saat ini masih nyaman berada di dalam pelukannya.
"Kee."
"Aku menunggu penjalasan kamu!" sekali lagi Dira bertanya.
"Benar kamu ingin tahu soal jeri?"
Dira mengangguk dengan cepat karena tadi alasan dia datang ke kantor karena ingin membantu Keenan menidurkan si jeri yang di dalam pikiran Dira adalah sesosok anak kecil.
Keenan menarik tangan Dira untuk menyentuh benda inti miliknya yang berada di balik celana. Mata Dira membulat, dia segera menjauhkan tangannya dari benda yang di sebut dengan sebutan jeri oleh Keenan. "Si jeri akan berdiri dan susah untuk di tidurkan, apalagi jika melihatmu dengan kondisi seperti ini," tambah Keenan. Dia menatap wanita yang berstatus istrinya tersebut dari atas hingga bawah.
__ADS_1
Gleg. Dengan bersusah payah Keenan menelan salivanya, apalagi saat ini tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh wanita yang sedang memeluknya.
"Dasar mesum!" ucap Dira. Dia menutup tubuhnya dengan kedua tangannya. Dira lupa kalau tadi dia sudah melepaskan semua bajunya untuk mandi.
"Kamu tahu, kamu sudah menyiksaku dengan membuat si jeri berdiri seharian ini. Dan sekarang kamu kembali menyiksaku dengan membuatnya bangun lagi."
Dira memperhatikan si jeri yang masih berada di dalam sana. Dia tahu kalau benda itu memang sudah kembali menegak, meskipun dia tidak melihatnya secara langsung.
"Kee, aku ...."
"Aku tidak akan memaksamu untuk melayaniku, jika kamu memang belum siap atau belum mau untuk melayaniku. Aku akan berusaha menidurkan si jeri sendiri," sela Keenan. Dia tidak ingin memaksa Dira untuk melayaninya, dia ingin agar saat wanita yang berstatus istrinya tersebut melayaninya. Itu dia lakukan karena keinginannya sendiri.
"Mandilah! Aku akan ke luar sekarang!" seru Keenan. Keenan mulai melangkah untuk ke luar dari dalam kamar mandi tersebut. Namun, langakahnya terhenti saat Dira kembali memanggil namanya.
"Kee." Dira kembali mendekat ke arah Keenan. "Aku akan membantumu menidurkan si jeri."
🍂🍂🍂*
Hmm, kira-kira apa ya yang akan di lakukan Dira untuk membantu menidurkan si jeri?
__ADS_1
Yuk, berikan like, komen dan giftnya! Salam sayang dari otor ter--KECEH 🌹🌹