
Semalam setelah selesai memeriksa USB yang diberikan oleh Arya, Keenan memilih tidur di kamar sahabatnya tersebut dan pagi ini dia baru kembali ke kamarnya. Keenan melihat koper milik Dira sudah ada di depan pintu, mungkin orang suruhan yang dia suruh untuk mengambil pakaian istrinya itu yang menaruhnya disana. Dia menghela napasnya ketika pintu kamar tersebut masih terkunci dari dalam.
"Tuh, cewek ngapain sampai jam segini belum bangun," gumam Keenan.
Keenan meminta kunci serep kamarnya pada petugas hotel. Setelah mendapatkan kunci tersebut, dia segera membuka pintu kamarnya dan masuk sambil membawa koper yang tadi berada di depan pintu.
Keenan menggeleng saat melihat Dira yang
masih tidur nyenyak di atas sofa, bahkan berkali-kali dia mencoba membangunkannya, wanita itu masih enggan untuk membuka mata. Akhirnya dengan sengaja Keenan menggebrak sebuah koper yang baru saja dia bawa disamping Dira yang tengah tertidur lelap dengan sangat keras. Gebrakan keras itu seketika membuat Dira terbangun dengan kedua mata yang membeliak.
"Kamu stres ya? Ngapain menggebrak koper itu keras-keras?" kesal Dira. Dia bahkan sampai mengelus dada guna menetralkan jantungnya yang bedegup kenjang akibat terkejut.
"Salah sendiri tidur sudah kayak hewan yang sedang hibernasi. Mungkin, kalau ada gempa kamu akan jadi korban pertama yang terkena reruntuhan saking pulasnya kamu tidur," jawab Keenan ketus.
"Ini semuakan juga gara-gara kamu, semalam aku tidak bisa tidur gara-gara banyangan benda itu terus muncul di otakku," Dira menjawab itu dalam hati.
"Kenapa malah bengong?" tanya Keenan saat melihat Dira masih diam di tempatnya. "Buruan sana mandi semua orang sudah menunggu kita dibawah untuk sarapan!" suruh Keenan.
__ADS_1
"Iya-iya, aku mandi sekarang." Dira bangun dari tempat dia duduk.
Gleg. Kembali Keenan menelan ludahnya saat bayangan tubuh sintal Dira kembali nampak dari balik hem yang gadis itu kenakan. Bahkan paha mulusnya terekspos dengan jelas karena hem yang dia pakai memiliki panjang di atas lutut.
"Dasar mesum!" teriak Dira ketika menyadari apa yang sedang Keenan perhatikan. Dia menyilangkan kedua tangannya diatas dada.
"Siapa yang kamu bilang mesum?"
"Tentu saja kamu. Lihat kamu menatapku seperti singa yang siap menerkam mangsanya."
"Dih, najis!" elak Keenan.
"Ini mataku, jadi, suka-suka akulah," jawab Keenan.
"Sana palingkan wajahmu, awas saja kalau kamu berani menatapku lagi!" ancam Dira.
"Tidak akan." Keenan melewati Dira dan kembali keluar dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Sok-sok'an bilang najis, semalam saja itumu menegang gara-gara melihatku," ceros Dira.
"Aku mendengarnya. Sudah cepat mandi dan susul aku ke bawah!" seru Keenan dari luar kamar.
"Iya."
Dira segera melakukan hal yang di perintahkan oleh Keenan. Cukup 20 menit, waktu yang dia butuhkan untuk menyelesaikan ritual mandinya. Dia membuka koper dan mengambil satu set pakaian dari dalam koper miliknya. Dia berdandan dengan rapi karena ingin terlihat sempurna di depan keluarga Wijaya. Apalagi ini adalah hari pertama Dira menyandang sebagai menantu dari keluarga Wijaya.
"Aku harus terlihat sempurna, setidaknya aku harus menunjukkan kepada nenek lampir itu kalau aku bisa menjadi menantu yang di sayangi oleh keluarga Wijaya." Dira membatin. Ini adalah langkah awal bagi Dira untuk merebut kembali perusahaan yang pernah dikuasi oleh ibu tirinya.
Dira keluar dari dalam kamar. Dia menuruni anak tangga menuju ke restoran tempat semua anggota keluarga Wijaya sudah berkumpul. Namun, dia begitu terkejut ketika ada seseorang yang menarik tangannya dan membawanya ke tempat sepi.
"K-Kamu--"
Dira terkejut saat tahu siapa yang menarik tangannya.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Jangan lupa like, kasih bunga, kopi, hati atau apa aja buat otor. Maaciew, salam sayang dari otor ter--KECEH 🌷🌷