
Dan dari arah yang lain, ada orang yang kembali melemper Dira dengan plastik yang berisi air comberan. Tepat saat itulah, seseorang datang dan menjadi tameng untuk Dira. Dia menyelematkan Dira dari tumpahan air comberan itu.
"Kamu tidak apa-apakan?" tanya orang itu sambil menatap kedua netra indah Dira. Mata Dira berkaca-kaca menatap netra orang yang menyelamatkannya. Cukup lama mereka saling tatap.
"Kee," lirih Dira. Iya, orang yang datang dan menjadi tameng untuk Dira adalah Keenan.
"Siapa yang berani melempar istriku dengan air kotor ini? Siapa?!" sentak Keenan. Dia memandang satu per satu semua wartawan yang berada di hadapannya. Tangan Keenan mengepal, rahangnya mengeras dengan sorot mata elang yang siap menerkam mangsanya.
Semua yang ada di tempat itu seketika terdiam, terutama dua orang yang tadi melempar plastik ke tubuh Dira. Wajah kedua orang itu tampak pias, kaki mereka gemetar, apalagi saat Keenan berjalan mendekat ke arah mereka.
"Jadi kalian yang melempar istriku dengan air kotor itu?" tanya Keenan. Dia memberikan tatapan tajamnya kepada dua orang tersebut.
"Maaf, Tuan Wijaya. Kami__"
"Siapa pun, tidak akan aku biarkan menyentuh istriku. Apa lagi sampai mempermalukannya seperti ini." Keenan mengucapkan itu dengan memberikan tekanan di setiap kalimatnya.
"Cepat minta maaf kepadanya atau aku akan melaporkan kalian kepada pihak yang berwajib atas tuduhan perbuatan yang tidak menyenangkan!" ancam Keenan.
"Ny__Nyona Wijaya, kami minta maaf atas tindakan bodoh yang baru saja kami lakukan!" ucap dua orang yang melempar plastik berisi air kepada Dira. "Tolong, maafkan kami Nyonya!"
"Iya, tidak apa-apa. Kalian aku maafkan, sekarang kalian bisa pergi dari sini," jawab Dira yang tidak mau berurusan dengan mereka.
"Tunggu!"
Seru seseorang yang baru saja datang. Dia adalah Arya. Arya datang menyusul bersama dengan Alea.
"Kee, sepertinya mereka berdua bukanlah wartawan asli. Mereka hanya wartawan gadungan yang sengaja di kirim oleh seseorang untuk memprovokasi wartawan lain."
__ADS_1
Arya memegang kerah baju kedua orang itu dari belakang. Sementara Alea bertugas mengambil kartu pass yang di miliki oleh dua wartawan yang tadi membuat ulah.
"Ar, sepertinya mereka wartawan gadungan," ucap Alea setelah melihat kartu pass yang di pakai oleh dua orang wartawan yang membuat ulah tadi.
"Biar aku bawa mereka ke kantor polisi," ucap Arya.
Namun, sebelum Arya berhasil membawa mereka, dua orang itu berhasil kabur.
"Tidak usah di kejar, Ar!" cegah Keenan saat melihat Arya hendak mengejar dua orang tadi. "Sepertinya aku tahu siapa dalang dari semua kejadian ini. Dan untuk yang lainnya silakan bubar. Video itu hanya video pertengkaran biasa antar suami dan istri. Memang kalian tidak pernah bertengkar dengan pasangan kalian?"
"Maafkan Kami, Pak. Tadi ada yang mengirim itu ke kantor kami. Jadi, kami kira ada masalah dengan pernikahan kalian. Sekali lagi kami mohon maaf atas ketidak nyamanan yang kami ciptakan." Salah seorang dari perwakilan wartawan itu menyampaikan permohonan maafnya.
"Tidak, apa-apa. Tapi lain kali, jika ada berita atau vodeo yang di kirimkan ke redaksi kalian harap di lihat dulu siapa pengirimnya. Jangan asal grusa-grusu!" tergur Keenan kepada mereka semua.
"Siap, Pak. Sekali lagi maaf dan terimakasih karena sudah memaklumi segala tindakan kami." Semua wartawan yang tadi datang itu pun segera membubarkan diri.
"Tidak apa-apa," jawab Keenan.
"Tidak apa-apa bagaimana? Ini biru lho, kee."
"Ini hadiah dari teman," ujar Kee seraya melirik ke arah Arya.
"Hadiah? Masa hadiah pukulan sih?"
"Tidak apa-apa. Tapi, aku beruntung mendapatkan pukulan ini," jawab Keenan.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Pukulan ini sudah mengembalikan akal sehatku untuk bisa berfikir jernih," jawab Keenan. "Ar, kamu ambikan aku baju ganti. Aku mau membersihkan badanku dari air comberan ini!" perintah Keenan kepada sahabatnya, Arya.
"Oke. Aku dan Ale, pergi dulu. Baik-baik di sini." Arya membawa Alea ikut bersamanya.
"Kee, ayo kita ke ruang kerjaku! Kamu bisa mandi di sana sambil menunggu Arya datang."
ajak Dira. Dia menarik tangan Keenan agar ikut bersamanya.
"Kee, kenapa malah diam?" tanya Dira.
"Aku tidak tahu alasanmu mengatakan kalau orang-orang tadi adalah orang suruhanmu. Tapi, aku percaya kalau Dira-ku tidak akan mungkin melakukannya."
"Kee."
"Jadi, berhentilah berpura-pura. Karena aku tidak akan percaya."
Mendengar perkataan Keenan, membuat Dira berkaca-kaca. Dia langsung memeluk suaminya.
"Sayang, badanku bau comberan." Dira tidak perduli akan hal itu dan dia semakin mengeratkan pelukannya.
Dari kejauhan Erik tersenyum melihat mereka sudah baikan. Tadi, saat melihat Dira hendak di lempar air comberan oleh wartawan gadungan itu. Dia hampir saja berlari untuk menyelamatkan Dira. Namun, saat melihat Keenan tiba-tiba muncul, dia memilih mundur dan melihat semuanya dari kejauhan.
"Aku tidak salah melepaskanmu kepada Kee. Aku percaya, Kee akan bisa menjagamu jauh lebih baik dari aku," lirih Erik.
🍂🍂🍂
Hayo, ada yang salah paham ya dengan Babang Kee?
__ADS_1
Yuk, berikan like, komen dan giftnya untuk Babang Kee dan Mbak Dira. Terimakasih🌹