
Namun, Dira mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Keenan yang tiba-tiba seperti menahan tawa. Dan tidak hanya Keenan saja yang menahan tawa semua orang yang kebetulan melihat ke arahnya juga menahan tawa.
"Ada apa?" tanya Dira bingung.
Keenan menjawab pertanyaan Dira dengan menggunakan isyarat mata. Dira mengikuti isyarat yang di berikan oleh Keenan saat itulah matanya membulat.
"Ma__ma__maaf, Rik," ucap Dira saat melihat wajah Erik yang justru belepotan dengan mulut yang penuh dengan makanan karena Dira terus menyuapinya. Dira meletakkan sendok yang dia gunakan untuk menyuapi Erik, kemudian bergegas mengambil tisu dan membantu membersihkan wajah Erik.
"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud membuat wajahmu jadi kotor seperti ini," ucap Dira dengan tangan yang masih sibuk membersihkan wajah Erik menggunakan tisu.
"Tidak apa-apa, ini hanya masalah sepele," jawab Erik seraya memegang tangan Dira. "Sudah, aku bisa membersihkannya sendiri."
"Tapi, Rik. Gara-gara aku wajahmu jadi kotor seperti ini," ucap Dira dengan raut wajah menyesal.
Erik menarik kedua tangan Dira kemudian menggenggamnya. "Sudah tidak apa-apa," ucap Erik lembut.
Keenan yang tadinya ingin tertawa memilih untuk diam. Tiba-tiba hatinya merasa panas melihat adegan yang dia lihat di depan matanya.
"Sekali lagi maafin aku ya, Rik," ucap Dira. "Sudah kubilang tidak apa-apa. Ini kan cuma makanan, jadi tidak masalah."
Erik melepaskan satu tangannya yang menggenggam tangan Dira, dia ulurkan tangan itu untuk menyentuh pipi mulus milik Dira. Namun, sebelum hal itu terjadi, Keenan tiba-tiba menghampiri mereka dan menarik tangan Dira dari genggaman Erik.
"Rik, kita memang teman sejak SMA. Tapi, bukan berarti kamu bisa menyentuh tangan istriku sesukamu." Keenan memberikan tatapan tajamnya kepada Erik.
__ADS_1
"Kee, aku cuma__"
"Pak Keenan. Ingat, aku adalah atasanmu!" tukas Kenan.
"Maaf Pak Keenan, aku tidak bermaksud menyentuh tangan istri Anda. Aku hanya ingin sedikit menghiburnya," jawab Erik.
"Tidak perlu. Karena dia punya suami yang bisa menghiburnya," sahut Keenan. "Qilla, kita pulang sekarang!" seru Keenan.
"Iya, Uncle." Qilla meletakkan es krimnya yang belum habis dan menghampiri Keenan.
"Terimakasih Jani, karena kamu sudah membawa Qilla jalan-jalan dan mentraktirnya. Tapi, lain kali, bisakah kamu minta izin dulu sebelum membawanya pergi dari sekolah?" Keenan beralih memberikan tatapan tajamnya kepada Anjani.
"Iya, Kee. Maafkan aku, lain kali aku akan meminta izin sebelum membawa Qilla pergi," jawab Anjani.
"Erik, kamu antar Anjani pulang!" suruh Keenan kepada Erik. "Biar urusan Dira itu menjadi urusanku dan kamu tidak perlu ikut campur dalam urusan rumah tangga kami."
Keenan berjalan semabari memegang pergelangan tangan Dira dengan cukup kuat. Dan Qilla mengikuti langkah Uncle-nya itu dari belakang. Mereka bertiga berjalan meninggalkan restoran tersebut, begitu sampai di depan restoran Keenan menghempaskan tangan Dira kasar.
"Aw, kenapa sih kamu kasar?" protes Dira.
"Apa maksudmu memberikan perhatian sama si Erik? Kamu masih cinta sama dia? Mau balikan lagi sama dia?" cecar Keenan marah.
"Iya, kenapa? Bukannya kamu lebih senang diperhatikan oleh si Anjani. Jadi wajarkan kalau aku memperhatikan pria lain," jawab Dira sekenanya.
__ADS_1
"Siapa yang bilang aku lebih suka di perhatikan oleh Anjani?"
"Lalu tadi itu apa? Kamu menyuruhku menunggumu, tapi kamu malah makan siang dengan si Jani Jani itu. Maksudnya apa coba?"
"Dira itu__"
"Sudahlah Tuan Keenan, aku persilakan kamu untuk makan atau kalau perlu kamu balikan lagi sama si Anjani itu. Aku akan mencari cara lain untuk merebut perusahaanku tanpa harus melibatkanmu lagi," tukas Dira yang masih kesal dengan perbuatan Keenan.
Dira dan Keenan terus berdebat dan saling menyalahkan. Mereka baru berhenti berdebat setelah menyadari kalau Qilla tidak ada di tempatnya.
"Dimana Qilla?" tanya Keenan kebingungan.
"Bukannya tadi Qilla di sini?" Dira tak kalah bingung.
Dua orang yang tadinya saling menyalahkan itu akhirnya bersama-sama mencari keberadaan Qilla.
"Kee, kita harus mencari Qilla di mana? Bagaimana kalau dia di culik atau tersesat? Harusnya tadi kita tidak bertengkar," ujar Dira penuh penyesalan.
"Maafkan aku, ini semua juga salahku. Harusnya aku tidak marah-marah padamu. Pasti Qilla pergi karena takut melihatku marah-marah, apalagi dia tidak pernah melihatku marah seperti itu," ucap Keenan.
"Ya, sudah. Kita jangan saling menyalahkan. Yang terpenting sekarang kita harus bisa menemukan keberadaan Qilla."
Keenan mengangguk mengiya-kan. Keduanya kembali mengelilingi tempat itu sambil terus meneriakkan nama Qilla.
__ADS_1
🍂🍂🍂
Tetap berikan like, komen dan giftnya. Terimakasih❤️