KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 59


__ADS_3

"Ada apa, Kee?" tanya Anjani.


"Jani sepertinya aku dan Qilla harus pamit," jawab Keenan.


"Tapi kenapa, Kee?"


"Aku lupa kalau ...."


Keenan tidak melanjutkan perkataannya saat mendengar keponakannya memanggil seseorang.


"Tante baik." Panggil Qilla. Gadis kecil itu berlari ke arah Dira dan memeluknya.


"Tante, kenapa Tante bisa ada di sini?" tanya Qilla.


"Ada orang yang menyuruh Tante untuk menunggunya, tapi ternyata orang itu malah pergi makan dan tidak mengingat Tante sama sekali," jawab Dira sambil melirik tajam ke arah Keenan.


"Siapa Tante?" tanya Qilla lagi.


"Tidak penting."


"Tante Baik, ayo ikut makan bareng kami!" ajak Qilla.


"Em ... boleh. Tapi, Tante datang ke sini bersama teman, apa teman Tante boleh ikut gabung ke meja Qilla?" tanya Dira kepada keponakannya tersebut.


"Boleh Tante," jawab Qilla.


"Sebentar, teman Tante sedang memarkirkan mobilnya," jawab Dira.


"Tante, nanti kalau teman Tante sudah datang, suruh gabung ke meja Qilla ya. Qilla mau melanjutkan makan es krimnya."


"Tentu saja Qilla, nanti temen Tante, Tante ajak gabung di tempat duduk Qilla." Dira mengusap rambut Qilla pelan. Gadis kecil itu pun kembali ke tempat duduknya.


"Apa Tante tidak mau duduk bareng kita, Sayang?" tanya Keenan saat keponakannya itu kembali ke tempat duduknya.


"Mau kok Uncle, hanya saja Tante sedang menunggu temannya," jawab Qilla seraya menyendok eskrim dan memasukkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Dira pasti marah," batin Keenan.


"Qilla, Uncle ke tempat Tante baik dulu ya!" Pamit Keenan. Keenan bangun dari tempat duduknya dan hendak menghampiri Dira yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya. Namun, baru saja dia berdiri, Keenan mengurungkan niatnya saat melihat ada seorang pria yang menghampiri istrinya. Pria itu terlihat tidak asing bagi Keenan.


"Sorry ya, Ra. Parkirannya agak ramai jadi memerlukan waktu yang cukup lama agar aku bisa memarkirkan mobilku," ucap orang itu yang berdiri memunggungi Keenan.


"Tidak apa-apa kok, Rik." Dira menjawab permintaan maaf Erik sambil tersenyum.


"Terimakasih ya, Ra. Karena kamu sudah mau memaafkan aku," ucap Erik lagi.


"Sama-sama," jawab Dira sambil tersenyum. "Oiya, Rik. Keponakanku mengajak kita untuk makan bersamanya. Kamu tidak keberatankan?" tanya Dira.


"Keponakan? Maksudmu Qilla?" tanya Erik.


"Iya, keponakan suamiku. Dia ngajak kita bergabung ke mejanya," jawab Dira.


"Jika di sini ada Qilla itu artinya ...."


"Iya, suamiku juga ada di sini," sela Dira. "Itu mereka." Tunjuk Dira.


"Dia sudah tahu kalau kamu adalah mantan pacarku." Lagi-lagi Dira menyela perkataan Erik. "Dan aku juga tahu siapa wanita yang duduk di sebelahnya." kali ini nada bicara Dira terdengar tidak suka.


Sekarang Erik tahu maksud dari Dira mengajaknya bertemu. Tapi dia tidak meresa keberatan, apa pun yang Dira lakukan kepada dirinya, asal wanita itu mau memaafkan kesalahannya dulu, Erik sama sekali tidak keberatan. Walau dia tahu saat ini dia sedang di manfaatkan untuk membuat Keenan cemburu. Dira dan Erik berjalan mendekat ke arah tempat duduk Qilla.


"Selamat siang, Pak," sapa Erik kepada Keenan.


"Siang," jawab Keenan. "Pak Erik kenapa bisa sampai ke tempat ini?"


"Aku yang menyuruhnya datang, kenapa keberatan?" justru Dira yang menjawab pertanyaan Keenan.


"Tentu saja tidak. Hanya saja apa pekerjaan yang saya perintahkan sudah selesai dia kerjakan karena aku tidak mau karyawanku menunda-nunda pekerjaan hanya karena masalah pribadi," ucap Keenan lagi.


"Saya sudah menyelesaikan tugas saya, Pak."


"Dengarkan? Dia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Seandainya pun belum, ini jam makan siang, jadi dia juga bisa pergi ke sini untuk beristirahat sebentar." ketus Dira.

__ADS_1


"Kee, menurutmu makanan ini rasanya sama nggak kayak biasanya? Soalnya menurutku rasanya seperti ada yang berubah." Anjani menyuapkan makanannya ke mulut Keenan. Tentu saja hal itu membuat Dira makin kesal.


"Qilla, Tante duduk di bangku sebelah sana saja ya. Soalnya kan tempat duduk yang kosong di meja Qilla tinggal satu doang nih, kan nggak mungkin kalau Tante nyuruh teman Tante duduk sendirian," ujar Dira.


Qilla memandang bangku kosong di mejanya yang memang ternyata hanya tersisa satu karena kebetulan tatanan kursi di restoran itu tiap satu meja hanya untuk empat kursi.


"Baiklah, Tante. Habis Qilla ngabisin es krimnya, Qilla pindah ke bangku Tante ya, soalnya Qilla kangen banget sama Tante. Qilla pingin ngobrol bareng Tante," jawab Qilla.


"Iya, Sayang. Tante juga kangen sama Qilla." Setelah mengatakan itu, Dira mengajak Erik untuk duduk di bangku yang tidak jauh dari Keenan dan Qilla duduk. Erik memesankan semua makanan yang menjadi makanan favorit Dira selama mereka pacaran dulu.


"Kamu masih ingat semua makanan kesukaanku, Rik. Uh, so sweet banget sih," Dira sengaja mengeraskan suaranya agar Keenan mendengarnya. Dan benar saja Keenan menatap ke arahnya, saat itulah Dira mengambil tisu dan mengelap bibir Erik dengan tisu yang dia ambil.


"Bibirmu kotor, aku bantu bersihin ya." Lagi, Dira mengatakan itu dengan suara keras.


Keenan meletakkan garpu dan sendok di tangannya dengan sedikit membantingnya di atas piring. Dia tidak suka melihat wanita berstatus istrinya tersebut memberikan perhatiannya kepada pria lain.


"Uncle ada apa?" tanya Qilla.


"Tidak ada apa-apa, Uncle hanya sudah kenyang," jawab Keenan.


Anjani yang duduk di depan Keenan, melihat Keenan dan Dira bergantian. Dia tahu kalau Keenan sedang cemburu. Anjani menarik napasnya pelan kemudian menghembuskannya. Satu sisi dia merasa bersalah karena membuat dua orang yang saling mencintai itu terbakar api cemburu. Tapi di sisi lain dia juga bahagia karena akhirnya Keenan menemukan tambatan hatinya yang baru.


"Kamu coba ini ya, Rik. Makanannya enak banget, aku suapin ya," ujar Dira. Dia mengambil sendok dan menyuapkan makanan ke mulut Erik.


"Dira, ini ...."


"Kamu mau lagi? Ini-ini aku suapin lagi." Dira terus saja memasukkan makanan ke mulut Erik tanpa mentap pria yang dia suapi itu, matanya masih tertuju pada Keenan yang juga sedang melihat ke arahnya.


Namun, Dira mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Keenan yang tiba-tiba seperti menahan tawa. Dan tidak hanya Keenan saja yang menahan tawa semua orang yang kebetulan melihat ke arahnya juga menahan tawa.


"Ada apa?" tanya Dira bingung.


Keenan menjawab pertanyaan Dira dengan menggunakan isyarat mata. Dira mengikuti isyarat yang di berikan oleh Keenan saat itulah matanya membulat.


🍂🍂🍂

__ADS_1


Jangan lupa untuk tetap berikan like, komen dan giftnya. Salam sayang dari otor ter--KECEH🌹.


__ADS_2