KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 24


__ADS_3

"Maaf, aku terlalu lama di toilet," ucap Dira.


Keenan menyipitkan kedua matanya saat melihat sosok yang datang bersama istrinya tersebut.


"Sejak kapan kalian kenal?" tanya Keenan. Dia menatap dua orang dihadapannya bergantian.


"Tante ini adalah Tante baik yang Qilla ceritain sama Uncle," jawab gadis kecil yang datang bersama Dira. Gadis kecil tersebut adalah Qilla, keponakan Keenan.


"Tante baik?" Keenan mengulang perkataan keponakannya.


"Iya, Uncle. Dia ini Tante baik yang sudah nganterin Qilla pulang waktu itu," jelas Qilla.


Keenan mengesah kasar. Dia tidak menyangka kalau gadis yang telah menjebaknya adalah Tante baik yang sudah menolong keponakannya.


"Jadi kamu yang waktu itu mengantarkan Qilla pulang?" kini giliran Mikha yang ikut bertanya. Dia berjalan mendekati gadis yang sekarang sudah berstatus sebagai adik iparnya tersebut.


"Iya, Mommy. Tante baik ini yang sudah nolongin Qilla. Waktu itu Qilla hampir diculik sama preman dan Tante baik ini yang membawa Qilla kabur dari preman-preman itu terus Tante baik juga nganterin Qilla pulang," cerocos Qilla.


"Kee, sepertinya do'a kamu waktu itu benar-benar diijabah," ucap Mikha. Dia melirik adiknya sembari tersenyum.


Mikha kembali mengingat hari dimana putri kecilnya itu menghilang dari sekolah. Dia bersama dengan suaminya, berkeliling mencari keberadaan Qilla. Namun, hingga hari menjelang senja putri kecilnya itu belum juga kembali.


"Sabar, Kak. Kee yakin sebentar lagi Qilla pasti akan kembali dalam keadaan baik. Kakak jangan nangis seperti ini. Kee juga akan membantu Kakak mencari Qilla." Keenan mengusap punggung kakaknya pelan.


"Seandainya Kakak tidak lupa memberitahu Mas Dion kalau aku ada operasi dadakan, mungkin Qilla tidak akan hilang seperti ini." Mikha terus menangis, dia menyesali kecerobohannya.


"Mik, jangan menangis, ini bukan salahmu." Dion juga berusaha untuk menenangkan istrinya. Sejak tahu Qilla hilang, Mikha terus saja menangis dan itu membuat Dion juga tidak fokus untuk mencari keberadaan Sang putri.


"Kak Dion, jaga Kak Mikha saja. Biar aku dan beberapa anak buahku yang mencari Qilla," ujar Keenan.


"Tidak, aku mau ikut mencari Qilla, ini semua terjadi karena kecerobohanku, salahku," tolak Mikha. Dia juga ingin ikut mencari keberadaan putrinya.


"Kak, percayalah. Kee pasti akan secepatnya menemukan Qilla. Kalau perlu, Kee akan buat pengumuman di semua surat kabar dan medsos bagi siapapun yang menemukan Qilla, jika dia laki-laki akan aku jadikan saudara dan jika dia perempuan akan aku jadikan istri, kayak di dongeng-dongeng yang sering Mommy ceritain ke kita dulu," ucap Keenan lagi.


Mikha sedikit tersenyum mendengar penuturan adiknya.


"Kamu itu ya, Kee, dalam keadaan seperti ini pun masih sempat-sempatnya membuat Kakak tertawa."

__ADS_1


"Kak Dion, tolong jaga Kak Mikha, aku cari Qilla sekarang," pamit Keenan. Namun, sebelum dia sempat melangkah terdengar suara Qilla dari luar.


"Mommy, Daddy."


Mikha, Dion, dan Keenan langsung lari ke luar rumah. Mereka sangat bahagia melihat Qilla kembali dalam keadaan baik-baik saja.


"Qilla, kamu tidak apa-apakan Sayang?" tanya Mikha. Dia memutar tubuh putrinya untuk memastikan kalau semua memang dalam keadaan baik.


"Qilla tidak apa-apa, Mommy," ucap Qilla.


"Siapa yang mengantarmu kesini Nak?"


"Tante baik. Dia nganterin Qilla cuma sampai di depan gerbang, Tante baik bilang dia sedang ada urusan, makanya langsung pulang," jelas Qilla.


Qilla menceritakan semua kejadian yang dialaminya setelah meninggalkan sekolah. Mulai dari dia meminta bantuan orang untuk mengantarkannya pulang, namun tidak diindahkan oleh orang-orang itu. Hingga dia bertemu preman yang memaksa dia untuk mengemis dijalan. Dan pada saat itulah seorang wanita yang di panggil Tante baik oleh Qilla datang menolongnya. Tante baik itu juga membelikan Qilla makanan kemudian mengantarkan gadis kecil itu pulang.


"Kee, coba kamu kejar siapa orang yang telah nolongin Qilla. Siapa tahu dia masih belum jauh!" titah Mikha.


Keenan segera melakukan perintah dari kakaknya. Namun, begitu dia sampai diluar gerbang utama, sudah tidak ada siapapun di sana. Sejak saat itulah Qilla selalu berangan-angan ingin menjodohkan Unclenya dengan Tante baik.


"Kee," panggil Mikha.


"Sebaiknya kamu ajak Dira kembali ke pelaminan, soalnya dari tadi banyak tamu yang ingin berfoto dengan kalian!" suruh Mikha.


"Iya, Kak," jawab Keenan. "Ayo!" ajak Keenan tanpa melihat ke arah Dira.


"Qilla, Tante ke sana dulu ya. Nanti setelah selesai kita ngobrol lagi." Dira mengacak rambut Qilla sambil tersenyum kepada gadis kecil itu. Kemudian dia mengikuti langkah Keenan untuk kembali ke pelaminan.


"Al, apa kamu sedih karena Kee akhirnya nikah sama orang lain?" tanya Arya.


"Sedikit," jawab Alya jujur. Dia terus menggoyang-goyangkan minuman yang sejak tadi ada tangannya.


"Jangan terlalu sedih, doakan saja, semoga Kee bisa bahagia bersama istrinya," ucap Arya.


"Ar, bukankah Kee mencintai Anjani, kenapa dia malah menikah dengan wanita lain? Apa kamu kenal dengan wanita itu?" cecar Alya. Dia penasaran kenapa Kee tiba-tiba menikah, bahkan dia sama sekali tidak mengenal siapa pengantin perempuannya.


"Kalau aku cerita wanita itu sengaja menjebak Kee agar bisa dinikahi, pasti Alya akan heboh. Lebih baik aku tidak menceritakan hal itu pada Ale." Arya membatin.

__ADS_1


"Aku tidak tahu," jawab Arya berbohong.


Di sisi yang lain di tempat yang sama. Ana yang sedang bersama Dewi begitu bahagia saat melihat putrinya Alea dekat dengan Arya. Sejak dulu dia memimpikan Arya menjadi menantunya, namun sayang, Ale selalu menghindar jika ibunya itu membicarakan soal perjodohannya dengan Arya.


"Dew, sebentar lagi giliran anak-anak kita yang akan menikah," ujar Ana senang.


"Kita serahkan kepada mereka berdua saja ya, An. Aku tidak mau memaksakan kehendakku kapada anak-anak," jawab Dewi bijak.


"Aku cuma bisa berdoa, semoga anak-anak kita benar-benar bisa berjodoh, Dew. Aku ingin bisa berbesan dengan sahabatku, sama seperti kamu berbesan dengan Bintang," sahut Ana.


Dewi hanya bisa menggeleng mendengar perkataan sahabatnya. "Dasar Ana. Sejak dulu impianmu tidak pernah berubah," batin Dewi sambil mengulas senyum.


***


Hari semakin larut, semua tamu sudah kembali ketempat masing-masing menyisakan piring-piring kotor sebagai tanda bahwa di sana baru saja ada pesta.


Anita sudah berpamitan dengan keluarga Wijaya dan putri tirinya. Dia memang kesal karena semua rencananya hari ini gagal. Tapi, dia masih belum menyerah. Dia yakin suatu hari nanti dia bisa mendapatkan celah untuk menghancurkan putri tirinya itu.


Rangga, Bintang, Mikha, Dion, Kiara, Tama, Nando dan Dewi, ikut menginap di hotel tersebut. Mereka sudah berada di kamar masing-masing untuk beristirahat. Pun demikian dengan Keenan dan Dira, keduanya kini berada dalam satu kamar, kamar yang sama tempat Dira menjebak Keenan seminggu yang lalu.


"Kamu tidak mandi?" tanya Keenan tanpa menatap Dira, tangannya sibuk melepas dasi yang terpasang di lehernya.


"Kamu saja dulu," jawab Dira gugup. Dira meremas tangannya sendiri untuk menahan kegugupan yang dia rasakan.


Keenan, menatap Dira. Dia mendekati gadis itu setelah melempar dasi yang dia lepas.


Gleg.


Dira menelan ludahnya, dia sedikit ketakutan saat Keenan mendekat ke arahnya. Dia mundur naik ke atas ranjang dan berhenti saat tidak ada ruang baginya untuk mundur.


"Sekarang aku adalah laki-laki yang halal untukmu, jadi ...."


Keenan sengaja menggantung perkataannya. Dia kembali menatap Dira. Jarak keduanya kini semakin dekat.


Dira memejamkan matanya saat wajah tampan Keenan tepat berada di depan wajahnya. Jantungnya semakin berdetak tak karuan saat hembusan napas Keenan menyapu hangat di kulit wajahnya. Apalagi saat satu tangan Keenan sudah mendekat ke arahnya dan itu semakin membuatnya gugup.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Yuk, like, komen dan votenya untuk Babang Kee dan Mbak Dira. Lope lope untuk semua reader kesayangan otor.


Salam sayang dari Otor ter--KECEH 😁


__ADS_2