
"Berani kamu melarikan diri dariku, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat papamu lagi!" ancam Anita.
"Apa maksudmu?" tanya Dira.
Anita menunjukkan senyum smirknya kepada Dira.
"Lihatlah ini!" Anita menunjukkan layar pada ponsel yang ada di tangannya. Di ponsel itu terlihat bagaimana Hendrawan sedang tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang sudah terikat.
"Apa yang kalian lakukan pada Papa?" sentak Dira.
"Saat ini kami belum melakukan apa pun padanya. Tapi, jika kamu tidak mau menuruti perintah kami, jangan harap kamu akan bisa melihat papamu lagi," jawab Anita.
Dira yang sudah memegang handle pintu, terpaksa melepaskannya. Dia tidak mau terjadi hal buruk dengan papanya. Untuk sesaat dia belum bisa berpikir apa yang sebenarnya terjadi dengan papanya. Bukankah tadi pagi, papanya masih berada di rumah sakit. Lalu kenapa sekarang papanya bisa dalam keadaan terikat dan tak sadarkan diri. Artinya, ada orang lain lagi yang ikut berperan dalam drama penculikan ini. Tapi siapa? Pertanyaan itu kini berkeliaran di otak Dira.
"Riska ikat dia!" suruh Anita pada putri kandungnya tersebut.
"Baik, Ma," jawab Riska. Dia berjalan mendekati Dira, kemudian mengikat dua tangan Dira ke belakang.
"Ma, lebih baik kita ubah rencana kita."
__ADS_1
"Mengubah rencana? Maksudmu?"
"Ma, aku yakin saat ini Keenan dan anak buahnya sedang mencari kita. Kalau kita bersikukuh menginginkan saham itu, pasti mereka akan dengan mudah merebut saham itu kembali dari tangan kita. Lebih baik sekarang kita minta saja semua uang perusahaan darinya, terus kita kabur ke luar negeri. Dengan uang semua uang itu, kita biaa mengganti identitas kita di luar sana dan kita juga bisa membuat usaha baru lagi di sana." Riska menyampaikan semua idenya kepada sang mama.
Anita tampak berpikir, sepertinya dia sedang mempertimbangkan ide dari putrinya itu. "Idemu boleh juga. Apa lagi kita harus berurusan dengan keluarga Wijaya pasti akan sangat sulit meskipun seluruh saham itu menjadi milik kita."
"Dira, kamu harus siapkan uang satu milyar untuk kami sekarang!" perintahnya.
"Ma, bagaimana aku bisa menyiapkan uang sebesar itu dalam sekejap. Apalagi ponselku jatuh, jadi aku tidak bisa menggunakan M-Banking. Aku hanya bisa mengambilnya langsung di bank. Sementara ini sudah hampir jam setengah lima, semua bank sudah tutup. Jadi, kita hanya bisa mengambilnya besok" jawab Dira.
Anita kembali berpikir. "Baiklah, besok kamu ambil uangnya di bank. Tapi, ingat jangan macam-macam atau kamu tidak akan bisa melihat papamu lagi!" ancam Anita.
"Aku harus tahu siapa lagi orang yang ikut berperan dalam drama penculikan ini, setelah itu aku harus memberitahu Keenan tentang keberadaanku, tapi bagaimana caranya?" Dira berbicara dalam hati.
"Ris, coba kamu beli makanan sana di luar!" suruh Anita. "Mama sudah lapar."
"Tidak mau ah, Ma. Di luar banyak security. Aku tidak mau tertangkap, Mama saja sana yang beli!" jawab Riska yang justru balik memerintah mamanya.
"Kalau begitu kamu telpon si Susi, suruh dia mengantarkan makanan ke sini. Suruh dia berpikir bagaimana caranya agar dia bisa mengantar makanan ke sini tanpa diketahui oleh security yang berjaga!" suruh Anita lagi.
__ADS_1
Riska melakukan perintah mamanya, dia menelpon Susi dan menyuruhnya untuk membawakan makanan ke tempat itu.
Tiga puluh menit kemudian, orang yang dipanggil Susi datang dengan membawa makanan untuk mereka. Dira mencoba melihat wajah wanita yang bernama Susi. Dia penasaran bagaimana cara Susi datang ke tempat ini tanpa mengundang curiga dari para security.
"Sus, kamu kok bisa melewati penjagaan tanpa diperiksa oleh pihak keamanan?" tanya Anita yang sepertinya memiliki rasa penasaran seperti Dira.
"Aku sudah biasa keluar masuk perusahaan menemani Pak Hendrawan. Tadi, aku cuma bilang, kalau Pak Hendrawan menyuruhku untuk mengambil berkas di ruang direktur. Tadinya sih mereka sempat curiga, terus aku berpura-pura akan melaporkan tindakan mereka ke Pak Hendrawan. Jadi, mereka membiarkan aku masuk," jawab Susi panjang lebar.
"Bagus, setidaknya sampai detik ini belum ada yang tahu tentang dirimu," puji Anita sambil menikmati makanannya.
"Jadi, siasatku waktu itu benar kan? Akhirnya aku bisa membuat Dira dan Keenan mempercayaiku."
"Iya, tapi, gara-gara kamu aku kehilangan kesempatan jadi istri keduanya Keenan. Padahal aku sudah membayangkan itu terjadi," keluh Riska.
"Tadinya aku berniat membantumu di kesempatan lain. Tapi, nyatanya kalian malah ketahuan."
"Apa!! Jadi Susi adalah ...."
🍂🍂🍂
__ADS_1
Yuk berikan like, komen dan gifynya. Otor sudah up dua bab lho 😁😁😁