KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 99


__ADS_3

Saat Keenan sedang mandi, Dira mebuka selimutnya. Dia mengambil sesuatu yang dia beli saat pulang kerja dari dalam tas. Dia memandang benda itu lekat-lekat.


Dira menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Dia mengambil segelas air mineral untuk dia gunakan untuk meminum pil penunda kehamilan yang ada di tangannya. Dira sudah mengeluarkan satu pil dari dalam bungkusnya dan bersiap memasukan pil tersebut ke dalam mulut. Namun, sedetik kemudian dia urung melakukannya.


"Tidak! Ini tidak benar! Aku harus membicarakan semuanya dulu bersama Keenan. Aku tidak mau mengambil keputusan yang salah. Keenan dan suaminya Fira adalah dua orang yang berbeda, aku yakin prinsip mereka juga berbeda. Aku tidak boleh mengambil keputusan apa pun sepihak," ucap Dira lirih. Dia melempar pil yang sudah dia buka, kemudian menaruh pil yang lain ke dalam laci.


Saat Keenan selesai mandi, Dira kembali memanggil suaminya itu.


"Mas," panggil Dira lagi.


"Ada apa Sayang?" tanya Keenan. Dia keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe atau yang biasa di sebut dengan handuk kimono.


"Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Dira agak ragu.


Mata Keenan menyipit menatap istrinya. Dia penasaran dengan hal yang ingin istrinya itu bicarakan.


"Bicara apa sepertinya serius?" tanya Keenan lagi.


Dira mengangguk sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Keenan, karena memang ada hal serius yang ingin dia bicarakan dengan suaminya. Keenan kembali naik ke atas ranjang dan duduk tepat di samping istrinya.


"Ingin bicara apa?"


"Mas, apa setelah aku hamil kamu tidak akan mengijinkan aku bekerja lagi?" tanya Dira to the point.


"Jujur, iya. Karena aku ingin kamu menjaga kesehatan calon anak kita nantinya."


Mendengar jawaban Keenan, raut wajah Dira berubah sedikit muram. Dia bahkan mengalihkan pandangannya dari Keenan.


"Tapi...." Keenan menjeda kalimatnya.


Dira kembali menatap wajah suaminya serius.


"Tapi aku tahu kalau kamu adalah putri satu-satunya dari papa Hendrawan, cucu yang di harapkan oleh Kakek Darmawan untuk bisa meneruskan dan mengembangkan perusahaan keluarga kalian, jadi, aku tidak akan melarangmu untuk tetap bekerja. Kamu masih boleh berkarir asal kamu tidak pernah lupa akan kodratmu sebagai istri dan juga ibu dari anak-anak kita nantinya," jawab Keenan panjang lebar.


Mendengar jawaban Keenan, Dira tersenyum lebar. Kekhawatiran kalau dia akan mengalami hal yang sama dengan Fira, hilang sudah. Dia yakin suaminya berbeda dengan suami Fira. Keenan adalah orang yang bertanggung jawab, penyanyang dan pengertian. Dia tidak akan memaksakan kehendaknya, apalagi menyuruhnya berdiam diri di rumah dan mengacuhkan perusahaannya.


"Terimakasih ya Mas, karena kamu sudah menjadi suami yang pengertian. Aku sangat mencintaimu, i love you." Dira mengalungkan tangannya di leher Keenan.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu sengaja menggodaku lagi?" tanya Keenan yang menyadari kalau istrinya belum mengenakan pakaian apa pun. Bahkan kini gunung kembar itu menyembul karena selimut Dira yang tersingkap sebagian.


"Jika kamu mau, kita bisa melakukannya lagi. Mungkin dengan begitu akan hadir Keenan junior di sini." Dia meraih tangan Keenan dan menuntunnya untuk menyentuh perutnya yang masih datar.


"Kamu curang, tahu begini aku tidak akan mandi terlebih dulu," desis Keenan.


Dira hanya terkekeh mendengarnya. Dia kembali mengalungkan kedua tangannya di leher Keenan dan kali ini dia berinisiatif untuk mendaratkan bibirnya terlebih dulu di atas bibir sang suami. Mereka pun kembali melakukan aktivitas panas mereka.


Setelah dua kali pelepasan, mereka mengakhiri kegiatan panas tersebut. Tidak seperti sebelumnya mereka mengakhiri kegiatan itu dengan Keenan mandi terlebih dulu. Kali ini mereka mengakhirinya dengan mandi bersama, barulah setelah selesai mereka pun melanjutkan istirahat mereka.


***


Pagi itu Dira ikut menyiapkan sarapan pagi mereka. Walau itu tidak dia lakukan tiap hari karena memang dirinya juga sibuk mengurus perusahaan keluarganya, tetapi sesekali Dira akan membantu ART-nya memasak di dapur. Dan Keenan tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.


"Sayang, kamu kok belum bersiap? Memang kamu tidak mau berangkat ke perusahaan?" tanya Keenan saat melihat Dira masih memakai pakaian rumahan.


"Berangkat sih, Mas. Tapi agak siangan dikit mumpung tidak ada meeting pagi," jawab Dira disertai cengiran kudanya. "Lho, Mas nggak jadi berangkat ke sekarang?" tanya Dira saat Keenan sedikit mengendurkan dasinya.


"Aku terbiasa berangkat bersamamu, rasanya agak aneh jika aku berangkat tanpamu pagi ini. Jadi, aku juga akan berangkat agak siang. Kita berangkat bersama-sama seperti biasanya."


"Akukan bosnya, terserah dong aku mau berangkat pagi atau siang. Lagian aku bisa melakukan meeting lewat zoom," jawab Keenan santai.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Asal itu tidak mengganggu pekerjaanmu Mas." Dira duduk di bangku kosong di sebelah Dira. Namun, sebelum dia sempat mendaratkan bokongnya tepat di atas kursi, Keenan sudah menariknya ke dalam pangkuannya.


"Mas, sebentar lagi papa ke luar dari kamar lho." Dira berusaha bangun dari pangkuan suaminya. Tetapi, Keenan sudah terlebih dulu mengunci tubuhnya, sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.


"Aku akan melepaskanmu, jika kamu menciumku," jawab Keenan.


Dira mencium pipi suaminya itu sekilas. "Sekarang lepas!"


Keenan menggeleng, dia memonyongkan bibirnya sebagai tanda kalau dia ingin istrinya mencium di sana.


"Kalau papa melihat bagaimana?" bisik Dira sembari.


"Aku rasa tidak masalah kan kita bukan pasangan zina, kita suami istri yang sah baik di mata agama mau pun hukum."


Dira hanya bisa menggeleng, dia sudah tahu kalau dia tidak akan bisa beradu argumen dengan suaminya. Karena dalam hal itu, Keenan adalah juaranya, selalu ada saja jawaban yang dia berikan meskipun terkadang jawaban itu tidak masuk akal bagi orang lain. Mungkin jika dia ikut kandidat pilpres, dia akan menang saat melakukan debat, dia pasti akan dengan mudah mengalahkan pesaingnya.

__ADS_1


Dira melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan ayahnya belum datang. Setelah yakin, ayahnya masih berada di dalam kamar, dia pun melakukan hal yang di minta suaminya.


"Bukan kecup, aku ingin ciuman yang manis," protes Keenan saat Dira hanya menciumnya sekilas.


"Tapi ...."


Belum sempat Dira menyelesaikan ucapannya, Keenan sudah membungkam mulutnya dengan bibirnya. Dia sedikit ******* dan menyesap bibir berwarna merah muda itu. Awalnya Dira ingin protes karena takut papanya akan memergoki kegiatan mereka. Namun lama-lama dia ikut melakukan hal yang sama, yang dilakukan oleh Keenan. Mereka pun saling ******* dan menyesap hingga tidak menyadari kehadiran Hendrawan di sana.


'Ehem'


Hendrawan sengaja mengeraskan suara dehemannya dan sontak itu membuat Dira dan Keenan terkejut. Mereka langsung mengakhiri ciuman mereka. Dira langsung bangun dari pangkuan suaminya.


"Pa--papa mau sarapan apa?" tanya Dira gugup dengan wajah bersemu merah karena menahan malu. Berbeda dengan Keenan, laki-laki itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia malah menyodorkan piring ke tangan Dira.


"Ambilkan sarapan juga untukku!" seru Keenan.


"Kamu apa-apaan sih, Mas? Aku kan sedang menawari papa," protes Dira lirih.


"Aku kan juga ingin sarapan," jawab Keenan santai.


Melihat kebahagiaan putrinya, Hendrawan pun tersenyum. Dia bahagia karena putrinya menikah dengan pria yang tepat.


***


Keenan memperhatikan benda yang ada di tangannya dengan seksama. "Apa ini?" lirihnya.


"Mas, yuk kita berangkat se__" Dira tidak melanjutkan perkataannya saat melihat benda yang sedang di pegang oleh suaminya. Suaranya tiba-tiba tercekat di tenggorokan membayangkan hal yang akan terjadi. Dia bahkan menelan salivanya beberapa kali.


...^^^LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE^^^...


...VOTE VOTE VOTE VOTE...


...KOMEN KOMEN...


...😁😁...


...✌️...

__ADS_1


__ADS_2