KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 36


__ADS_3

Pukul empat sore, Keenan dan Dira ke luar dari perusahaan. Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat parkir. Namun langkah keduanya terhenti saat ada seseorang yang memanggil nama Keenan.


"Kee," panggil orang itu, dia berjalan mendekat ke arah Keenan dan berdiri tepat dihadapan pria tampan tersebut.


"Jani," lirih Keenan. Dia menatap Anjani seraya mengedipkan mata beberapa kali. Keenan masih tidak percaya kalau wanita yang dia sukai ada di hadapannya.


"Benar, ini aku Kee," jawab Anjani.


Orang yang datang menemui Keenan adalah Anjani, wanita cantik yang pernah Keenan cintai, namun, wanita itu pula yang dulu sudah menolaknya.


"Dari mana kamu tahu kalau aku ada di sini?" tanya Keenan.


"Tadi sebelum kesini aku ke kantormu dan bertemu dengan Arya. Dia bilang kalau kamu ada di perusahaan milik keluarga istrimu," jelas Anjani.


"Jadi kamu sudah tahu kalau aku sudah menikah?" tanya Keenan lagi.


Anjani mengangguk. "Pernikahan kalian menjadi headline news di berbagai surat kabar."


Anjani beralih menatap Dira.


"Sebaiknya kita berbicara di tempat lain!" ajak Keenan.


"Bagaimana dengan istrimu?" tanya Anjani. Dia merasa tidak enak dengan Dira.


"Kamu tunggu aku di mobil!" titah Keenan kepada Dira. Dira menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.


"Ayo Jani kita berbicara di sana!" ajak Keenan, dia menunjuk taman kecil yang berada tidak jauh dari mereka berdiri.


Keenan dan Anjani berjalan beriringan menuju ke tempat yang dimaksud. Sementara Dira, dia menuruti perintah Keenan untuk masuk ke dalam mobil. Dira duduk di jok yang berada di samping jok kemudi dan menatap Keenan yang sedang berbicara dengan gadis bernama Anjani dengan tatapan nanar.


"Kenapa aku tidak suka meliahat itu?" batin Dira, dia bahkan memegang dadanya yang terasa sesak.


Sudah hampir satu jam Keenan berbicara dengan Anjani dan belum ada tanda-tanda keduanya mengakhiri pembicaraan mereka. Hal itu tentu saja membuat Dira semakin kesal.


"Berapa lama lagi aku harus berdiam diri di sini? Ah, menyebalkan sekali."


Bebarapa kali Dira mengetik sesuatu di layar ponsel miliknya kemudian menghapusnya lagi. "Apa aku pulang duluan saja ya?" Dira kembali bermonolog. "Iya, lebih aku pulang saja duluan."


Tepat di saat Dira hendak berpindah ke jok kemudi, di saat itu juga Keenan kembali.


"Mau kemana kamu? Jangan bilang kamu ingin meninggalkanku di sini?" tanya Keenan dengan tatapan penuh selidik.


Dira hanya menunjukkan deretan gigi-gigi putihnya sebagai jawaban.

__ADS_1


"Kamu yang menyetir!" titah Keenan lagi.


"T-tap ...."


"Aku tidak terima penolakan," sela Keenan sebelum Dira menyelesaikan kalimatnta.


"Iya, aku yang menyetir," jawab Dira kesal. Dia turun dari dalam mobil dan membanting pintu mobil tersebut.


"Buka pintunya untukku!" titah Keenan lagi.


"K-kau ...."


"Ingat, hanya aku yang bisa membantumu merebut perusahaanmu!" sela Keenan lagi.


Dengan terpaksa Dira membukakan pintu mobil untuk Keenan layaknya seorang sopir.


"Silakan masuk!" seru Dira ketus.


"Aku tidak suka mendengar orang berbicara denganku dengan tidak sopan," ujar Keenan.


Dira mendengkus. "Silakan masuk, suamiku!" kali ini Dira mempersilakan Keenan dengan lembut sambil tersenyum.


"Pintar," puji Keenan. "E ... mau kemana?" tanya Keenan saat Dira hendak melangkah mengitari mobil.


"Pasangkan dulu seatbeltku!" Lagi-lagi perintah tak masuk akal diperintahkan kepada Dira.


Meskipun kesal Dira menuruti perkataan Keenan, dia memasangkan seatbelt untuk pria galak yang berstatus suaminya itu. Namun, hal tak terduga terjadi Keenan menarik tubuhnya hingga tak ada jarak diantara keduanya.



"Apa yang kamu lakukan?" protes Dira, dia menatap kesal ke arah Keenan.


"Aku lihat sejak aku bertemu dengan Jani barusan sepertinya kamu kesal padaku," ujar Keenan.


"Hei, bangun kamu dari mimpimu! Untuk apa aku kesal?" tanya Dira ketus.


"Baguslah, kalau kamu tidak merasa kesal. Jadi, aku tidak perlu mengkhawatirkan perasaanmu jika suatu saat aku akan kembali mengejar Jani," jawab Keenan. Dia tersenyum sambil menatap Dira.


"K-kembali saja kalau mau, aku tidak peduli," sahut Dira.


"Oke." Keenan melepaskan tubuh Dira. Namun, wanita itu masih tetap terdiam.


"Hei, kenapa masih diam? Menyesal karena sudah merestuiku untuk kembali mengejar Jani?"

__ADS_1


Dira hanya memutar bola matanya malas. Dira menjauh dari tubuh Keenan dan berjalan memutar kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di jok kemudi. Dira menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukannya.


"Apa yang tadi kalian bicarakan?" tanya Dira tiba-tiba. Pertanyaan Dira sukses membuat Keenan menatap ke arahnya.


"Sepertinya dugaanku benar, kalau kamu mulai menyukaiku," jawab Keenan yang kembali dengan sikap narsisnya.


"Aku tidak peduli jika akhirnya kamu bersama dia. Tapi, jangan sampai perasaanmu padanya membuatku gagal untuk mendapatkan perusahaan itu kembali."


"Jangan khawatir, aku selalu menepati janjiku. Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum kamu berhasil mendapatkan semuanya," jawab Keenan.


Keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Sesekali Dira melirik ke arah Keenan, menurutnya sejak pertemuannya dengan Anjani pria galak itu menjadi sosok yang lebih pendiam dari biasanya. Namun, Dira terkejut ketika Keenan tiba-tiba mengambil alih kemudinya dan membanting setir ke kiri jalan.


"Apa yang barusan kamu lakukan? Kita hampir saja kecelakaan?" protes Dira saat mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan.


"Harusnya aku yang bertanya padamu apa yang sedang kamu pikirkan?!" bentak Keenan. "Kamu hampir saja menabrak seorang anak dan ibu yang sedang menyebrang."


Mendengar perkataan Keenan barusan, sontak membuat Dira melihat ke arah depan. Ternyata benar ada anak kecil yang sedang berpelukan bersama dengan ibunya berdiri tidak jauh dari mobil mereka. Keduanya tampak ketakutan.


Keenan dan Dira segera turun dari mobil mereka dan mendekat ke arah mereka.


"Anda tidak apa-apakan?" tanya Dira cemas.


"Tidak Mbak, Mas. Kami cuma kaget saja," jawab ibu yang sedang memeluk putrinya.


"Syukurlah, saya lega mendengarnya." Dira menghela napasnya lega.


"Tapi Bu, apa tidak sebaiknya kita periksakan kondisi ibu dan anak ibu ke Dokter?" tanya Dira.


"Tidak usah, Mbak," jawab Ibu itu. "Tapi kalau boleh saya cuma ingin meminta sedikit uang untuk membeli makanan, sudah 2 hari ini kami belum makan," lanjut ibu itu ragu.


"Sebentar ya, Bu."


Dira kembali ke dalam mobil dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Kemudian dia kembali lagi ke arah ibu itu.


"Ambillah ini, ini untuk makan ibu dan putri ibu." Dira memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada ibu tersebut. Namun, saat Dira sedang mengacungkannya kepada ibu itu Keenan justru menahan tangan Dira.


"Kee, ada apa? Ibu dan anak itu membutuhkan uang ini?" tanya Dira.


🍁🍁🍁


Hai, otor KECEH balik lagi neh. Yuk berikan like, komen dan giftnya untuk pasangan Keenan dan Dira. Nah, kira-kira kenapa ya Keenan menahan Dira ketika Dira akan membantu ibu dan anak itu? Terus akankah Keenan kembali mengejar Anjani sama seperti yang dia katakan pada Dira?


Tunggu jawabannya di next chapter, lope you reader tercintah-ku 🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2