
Keenan masih merasa kesal saat mengingat pil penunda kehamilan yang ia temukan dari dalam laci. Dia kecewa karena Dira tidak membicarakan soal itu sebelumnya. Dia sudah berusaha untuk bersikap profesional dengan tidak mencampur adukkan pekerjaan dengan masalah pribadi. Namun, tetap saja itu tidak bisa dia lakukan. Bahkan beberapa berkas yang masuk ke mejanya selalu dia lempar, padahal belum di baca isinya. Seperti sekarang ini, setelah salah seorang karyawan meletakkan sebuah berkas di atas mejanya, Keenan langsung melemparkannya ke pintu begitu karyawan itu keluar dari ruangannya.
Namun, kali ini berkas itu hampir saja mengenai kepala seseorang yang baru saja memasuki ruangannya. Orang itu berhasil menangkap berkas yang Keenan lempar sebelum berkas itu mengenai kepalanya.
Keenan terlihat gugup mendapati tatapan tajam orang tersebut.
"Maaf tidak sengaja," ucap Keenan sambil menunjukkan cengiran kudanya.
"Kee, ini ruang kerja apa kapal pecah sih?" tegur orang itu saat melihat ruang kerja adiknya itu penuh dengan map yang berserakan. Iya, orang yang barusan datang adalah Mikha.
"Nanti aku bereskan, Kak. Oiya, ada apa Kak Mikha ke sini?" tanya Keenan.
"Hanya mengantar Qilla, katanya dia kangen sama kamu dan Dira," jawab Mikha. Dia duduk di bangku kosong yang ada di depan adiknya.
"Terus di mana dia? Kok nggak ikut masuk?" tanya Keenan. Dia melihat ke arah pintu dan tidak ada siapa pun di sana.
"Dia nunggu kamu di restoran depan," jawab Mikha.
"Berarti Kakak ke sini bareng Kak Dion ya?"
"Tidak."
"Lalu Qilla bareng siapa di restoran? Kenapa Kak Mikha tinggalin dia sendirian di sana? Nanti kalau dia kenapa-napa seperti waktu itu bagaimana? Kak Mikha bener-bener ya, sering sekali ceroboh," cerocos Keenan tanpa memberi kesempatan kepada kakaknya untuk menjawab.
"Sudah selesai ngomelnya?" tanya Mikha sembari menatap Keenan. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang dia duduki. "Kamu kalau ngomel sudah kayak emak-emak tahu nggak."
"Namanya juga khawatir, Kak. Soalnya kadang-kadang kecerobohan Kakak melebihi anak kecil umur 5 tahun," ucap Keenan.
"Enak saja." Mikha melempar kertas yang ada di hadapannya ke arah Keenan. Dan di sambut tawa oleh adiknya itu.
"Tapi beneran Kak, Qilla sama siapa di restoran?" kembali Keenan menanyakan hal yang belum di jawab oleh Mikha sebelumnya.
__ADS_1
Keenan memang sangat mengkhawatirkan keponakannya itu.
"Pokoknya ada yang menemani Qilla di sana," jawab Mikha santai. "Jadi gimana, mau ikut makan bareng Kakak nggak?"
"Boleh deh, siapa tahu setelah ketemu Qilla moodku jadi membaik," jawab Keenan.
"Memang kenapa dengan mood--mu? Ada masalah dengan perusahaan?"
Keenan menggeleng.
"Atau ada kontrak kerja sama yang dibatalkan?"
Kembali Keenan menggeleng.
"Kalau bukan masalah perusahaan, bukan masalah kerjasama juga... pasti masalahnya berkaitan dengan rumah tanggamu," tebak Mikha. "Kamu berantem sama Dira?"
Keenan tidak menjawab, dia hanya menghela napas berat.
Keenan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangannya. Ternyata benar, ruangannya tidak terlihat seperti kantor justru lebih terlihat seperti gudang.
"Astaga, apa yang aku lakukan dengan ruanganku?" pekik Keenan setelah melihat ruangan tersebut. Ternyata bertengkar dengan Dira membuat akal sehatnya mendadak hilang.
"Bereskan ruanganmu setelah itu ikut Kakak ke restoran!" suruh Mikha.
"Iya, Kak," jawab Keenan. Dia mulai membereskan ruang kerjanya dari kertas yang berserakan. Setelah ruangan itu kembali rapih, dia mengikuti langkah Mikha ke luar dari ruangan itu. Mereka berjalan beriringan menuju ke restoran yang letaknya tepat di seberang perusahaan.
***
"Kee, kamu masuk duluan. Mas Dion menelpon." Mikha sedikit menjauh dari adiknya untuk menjawab telepon tersebut.
Keenan langsung masuk ke restoran itu dan mendapati Qilla duduk sendirian di sana.
__ADS_1
"Sayang, kok sendirian? Bukannya kata mommy-mu, kamu bersama seseorang?" tanya Keenan begitu sampai di depan tempat duduk keponakannya.
"Ada kok Uncle," jawab Qilla. "Oiya, ada sesuatu buat Uncle." Qilla memberikan selembar kertas yang di lipat kepada pamannya.
"Apa ini?"
"Buka saja, Uncle!"
Keenan membuka lipatan kertas pemberian keponakannya. Dia terkejut saat melihat hal yang tertulis di sana.
"Siapa yang ngasih ini ke Qilla?" tanya Keenan lagi.
"Aku." Seseorang berdiri dibelakang Keenan.
...LIKE, KOMEN DAN VOTE JUGA YA...
...SALAM SAYANG DARI...
...OTOR TER--KECEH...
...💙💙💙...
Nah, bagi kalian yang suka novel komedi bisa baca yuk karya keren dari temen otor dibawah ini:
Di tunggu kunjungan ya, jangan lupa tinggalkan jejak.
...TERIMAKASIH...
...🌷🌷🌷...
__ADS_1