KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 35


__ADS_3

"Apa sekarang kamu baik-baik saja?" tanya Keenan.


Dira baru sadar kalau dia sudah memeluk Keenan cukup lama. Namun, saat dia hendak melepaskan diri dari pelukan Kee, pria itu malah menahannya.


"Anggap saja hari ini aku sedang ingin berbuat baik kepadamu," ucap Keenan tanpa menatap wajah wanita yang dia peluk.


Kembali Dira mendongak menatap wajah tampan pria yang memeluknya. Tidak bisa dipungkiri kalau pelukan dari putra bungsu Rangga Wijaya tersebut terasa begitu nyaman baginya. Namun, Dira memilih untuk mengakhiri kenyaman yang saat ini dia rasakan.


"Terimakasih ya Kee," ucap Dira. Wanita yang saat ini berstatus istri sah dari Keenan itu menarik tubuhnya dari pelulan hangat yang Keenan berikan. Pelukan yang tidak hanya membuatnya nyaman, tapi juga mampu membuatnya melupakan kepedihan yang pernah dia rasakan.


"Apa kamu masih ingin melanjutkan rencanamu?" tanya Keenan.


Dira mengangguk.


"Baiklah, apapun yang akan kamu lakukan hari ini aku pasti akan berada di belakangmu untuk mendukungmu," tambah Keenan.


Dira segera menghubungi beberapa dewan direksi dan segera melakukan rapat dadakan dengan para Dewan Direksi tersebut tanpa di hadiri Anita. Sesuai perkiraan, awalnya para Direksi itu menolak dengan usul yang diberikan oleh Dira. Namun, saat melihat Keenan ikut menghadiri rapat itu dan dia mendukung Dira, para Dewan Direksi itu dengan senang hati menyetujui segala aturan yang Dira sampaikan. Bahkan mereka setuju untuk mengganti posisi Anita sebagai Direktur utama dan memilih Dira sebagai Direktur Utama sementara sampai Dira benar-benar menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan itu.


***


"Terimakasih ya Kee, berkat dirimu aku selangkah lebih maju dari wanita ular itu," ucap Dira.


"Aku sudah membantumu mendapatkan jabatan yang kamu inginkan dan kamu hanya memberiku ucapan terimalasih sebagai imbalannya?" tanya Keenan.


"Lalu hadiah apa yang kamu inginkan? Tidak mungkinkan kamu meminta uang karena aku yakin uangmu jauh lebih banyak dari uang yang aku miliki."

__ADS_1


"Kamu benar, uangku tidak akan habis meski aku menghabiskan waktuku untuk berfoya-foya," jawab Keenan narsis. "Tapi, apa tidak ada hal berharga yang kamu miliki untuk dijadikan hadiah?" tanya Keenan lagi.


Dira tampak berpikir. Beberapa detik kemudian dia berjalan menghampiri Keenan dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Keenan dengan sedikit **********. Keenan memang sempat terkejut, tapi dia tidak menolaknya.


"Walau kamu tidak percaya, tapi itu adalah ciuman pertamaku dan itu adalah hal berharga yang aku miliki," ucap Dira setelah mengakhiri ciumannya.


"Ayo kita makan siang, perutku sudah kembali lapar!" ajak Dira. Dia berjalan lebih dulu meninggalkan ruang rapat. Keenan tersenyum sembari menyentuh bibirnya sendiri . Kemudian dia berjalan mengikuti Dira dari belakang.


Dira mengajak Keenan makan di kantin perusahaan. Kedatangan Dira dan Keenan di kantin otomaris menjadi pusat perhatian karyawan yang kebetulan sedang makan di sana. Keduanya mengedarkan pandangan mencari tempat duduk kosong yang ada di sana dan pilihan mereka jatuh di bangku kosong yang letaknya dekat jendela.


"Kamu mau makan apa?" tanya Dira.


"Apa saja," jawab Keenan.


Dira mengambil makanan untuk Keenan dan dirinya dalam satu nampan. Kantin itu memang di design agar para karyawan bisa mengambil sendiri makanan yang mereka suka, jadi tidak ada pelayan khusus yang melayani mereka.


"Aku dengar sih, dia berhasil menikahi putra Wijaya itu karena dia menjebaknya," sahut karyawan yang lain.


"Masa sih?"


"Aku juga dengar sih begitu."


"Sssttt, jangan keras-keras nanti kalau Mbak Dira dengar bisa bahaya!" tegur karyawan yang lain.


Keenan menatap ke arah Dira. Dia yakin kalau wanita yang saat ini duduk di sebelahnya mendengar percakapan karyawannya barusan. Tapi sepertinya wanita itu enggan untuk menanggapi perkataan tersebut.

__ADS_1


"Dira," panggil Keenan.


"Apa?" tanya Dira seraya menoleh ke arah Keenan.


"Sepetinya aku harus melakukan ini untuk membungkam mulut karyawanmu."


Dira berusaha mencerna ucapan Keenan barusan. "Maksudmu melakukan ap--"


Belum sempat Dira menyelesaikan perkataannya, Keenan sudah membungkam mulut Dira dengan bibirnya.


"Apa yang kamu lakukan barusan?" protes Dira.


"Membungkam mulut karyawanmu," jawab Keenan tanpa ekspresi.


Benar saja, karyawan yang tadinya beranggapan miring tentang Dira langsung memuji-muji Dira karena berhasil meluluhkan hati salah satu ahli waris perusahaan Wijaya.


"Terimaksih," ucap Dira.


Dira dan Keenan kemudian melanjutkan makan siang mereka.


Pukul empat sore, Keenan dan Dira ke luar dari perusahaan. Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat parkir. Namun langkah keduanya terhenti saat ada seseorang yang memanggil nama Keenan.


🍁🍁🍁


Sebelumnya otor minta maaf karena baru bisa up hari ini, kalian yang sudah follow akun ig otor pasti sudah tahu alasannya.

__ADS_1


Terimakasih untuk semua doanya, jangan lupa tetap tinggalkan like, komen dan gift-nya untuk Babang Kee dan Mbak Dira. Salam sayang dari Otor ter--KECEH 🌹🌹


__ADS_2