KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 37


__ADS_3

"Kee, ada apa? Ibu dan anak itu membutuhkan uang ini?" tanya Dira.


"Lalu bagaimana kehidupan mereka setelah ini?" Keenan balik tanya dan tentu saja itu membuat Dira bingung.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Dira lagi.


"Dimana Ibu tinggal?" tanya Keenan pada ibu itu.


"Saya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil yang tidak jauh dari sini," jawab ibu tersebut.


"Bisa Kami berkunjung ke rumah Ibu?" tanya Keenan kepada ibu itu lagi.


"Kee, kamu takut ibu ini menipumu?" tanya Dira protes.


"Diam dan jangan berisik!" seru Keenan.


Dira hanya bisa menghela napas. Dia tidak percaya kalau Keenan akan menaruh curiga pada wanita yang tidak berdaya.


"Kalau Tuan ingin melihat rumah saya, mari silakan ikut!" ajak ibu yang membawa anak kecil tersebut.


"Tidak usah, Bu. Kami ...."


"Ayo!" jawab Keenan sebelum Dira menyelesaikan perkataannya.


"Kee, kamu serius mencurigai ibu itu?" tanya Dira lirih.


"Apa dari tadi aku mengatakan kalau aku mencurigai ibu itu?" jawab Keenan yang justru bertanya balik kepada Dira.


"Tidak sih, tapi ...."


"Mari, Bu!" kembali Keenan menyuruh ibu itu untuk menunjukkan tempat tinggalnya.


Ibu itu menggendong anaknya yang terlihat lemah dan berjalan untuk menunjukkan tempat tinggalnya kepada Keenan dan Dira. Cukup 20 menit waktu yang mereka butuhkan untuk sampai di rumah kontrakan ibu tersebut.


Setelah mumbuka kunci pintu rumahnya, ibu itu pun mempersilakan Keenan dan Dira untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Keenan mengedarkan pandangannya untuk mengamati keadaan rumah yang menjadi tempat tinggal ibu dan anak tersebut. Rumah berukuran sangat sederhana itu, hanya memiliki satu ruangan yang berfungsi sebagai kamar sekaligus dapur. Di sebelah kanan Keenan, tampak sebuah tikar dengan dua bantal yang sepertinya menjadi tempat untuk ibu dan anak itu melepaskan penatnya dan tidak jauh dari tempat tidur itu ada tungku yang kemungkinan di gunakan mereka untuk memasak.

__ADS_1


"Kamu masih mencurigai mereka?" tanya Dira lagi.


"Sudah aku bilang padamukan, kalau aku tidak mencurigai mereka," jawab Keenan.


"Lalu untuk apa kamu memaksa datang ke rumah ini kalau bukan untuk memastikan kalau mereka tidak sedang berbohong padamu?" tanya Dira lagi.


"Beginilah kalau orang yang terbiasa berbohong, bawaannya selalu curiga. Kamu pikir aku ingin datang ke tempat ini karena mencurigai ibu itu?"


"Lalu?" tanya Dira lagi.


Keenan menghubungi seseorang untuk datang ke tempat dia berada saat ini.


"Bu, Ibu silakan bereskan pakaian Ibu sekarang!" titah Keenan.


Mendengar perintah Keenan, ibu tersebut langsung bersujud di hadapan Keenan. Dia memohon agar Keenan tidak mengusirnya dari rumah itu.


"Tuan, Saya memang belum membayar kontrakan selama 3 bulan. Tapi, saya janji kalau saya ada uang saya akan segera membayarnya." Ibu tersebut mengatakan hal itu di seratai isak tangis. "Tolong kasihanilah anak saya Tuan!"


"Kee, kamu boleh bersikap arrogan terhadapku. Tapi jangan kepada ibu ini, kasihan dia Kee." Dira ikut berbicara.


"Bangunlah, Bu. Biar nanti Saya yang akan melunasi uang kontrakan ibu!" suruh Dira. Dia membantu ibu tersebut untuk berdiri. Dan di saat yang bersamaan, dua orang suruhan Keenan tiba di rumah kontrakan tersebut.


Keenan ingin mengeluarkan suaranya, namun Dira kembali menyelanya.


"Kamu tidak perlu mengusir ibu ini, biar aku bayar uang kontrakkannya sekarang," sela Dira.


Dira merogoh isi dalam tasnya, dia lupa kalau dia sudah tidak punya uang lagi selain uang yang tadi mau diberikannya kepada ibu tersebut.


"Kenapa apa kamu sudah tidak punya uang?" tanya Keenan saat melihat reaksi wajah Dira.


"Aku mohon Kee, jangan usir ibu itu, kasihan dia dan anaknya kalau harus pergi dari rumah ini!" pinta Dira.


Keenan tidak memperdulikan perkataan Dira barusan, dia kembali menghampiri orang suruhannya.


"Apa kalian sudah menemukan tempat tinngal wanita ini?" tanya Keenan.

__ADS_1


"Sudah, Tuan. Kami sudah mencarikan tempat tinggal sesui dengan yang Tuan minta," jawab orang suruhan Keenan.


"Bu, ibu jangan salah paham. Aku meminta Ibu untuk berkemas karena aku ingin memberikan tempat tinggal yang baru untuk ibu. Di sana, ibu bisa memulai usaha ibu dengan berjualan."


Mendengar penjelasan Keenan, ibu itu benar-benar bahagia. Dia kembali bersujud, namun sujudnya kali ini dia peruntukkan kepada Tuhan YME karena telah mengirim malaikat untuk membantunya.


"Sekarang ibu kemasi semua barang ibu, kemudian ikutlah dengan mereka. Oiya, ini uang untuk keperluan sehari-hari ibu dan yang ini untuk ibu membuka usaha. Aku harap setelah ini kehidupan ibu bisa berjalan lebih baik lagi dan tidak lagi berkeliaran di jalan." tutur Keenan.


"Sekali lagi terimakasih Tuan," ucap ibu tersebut.


Usai dengan persoalan ibu tersebut, Keenan dan Dira segera meninggalkan tempat itu.


Kini keduanya sudah berada di dalam sebuah taksi karena memang mobil yang tadi mereka kendarai juga penyok di bagian depan. Keenan juga sudah menyerahkan urusan mobil yang penyok itu kepada anak buahnya.


"Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri? Sudah gila ya kamu karena kecelakaan kecil barusan?" tanya Keenan saat melihat Dira yang dari tadi senyum-senyum sendiri.


"Tidak, ternyata aku tidak salah memilih orang untuk membantuku," jawab Dira.


"Maksudmu?"


"Kamu tampan, baik, kaya raya dan peduli sesama. Aku rasa akan mudah bagi orang untuk jatuh cinta kepadmu," puji Dira.


"Termasuk dirimu?" tanya Keenan.


Pertanyaan Keenan membuat Dira terdiam seketika. Tatapan mata Keenan membuat jantungnya kembali berpacu dengan cepat bahkan terasa seperti hampir melompat.


"Aku ...."


"Apa kamu mulai menyukaiku?" tanya Kenan lagi. Sambil terus menatap kedua mata Dira, Keenan memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah cantik Dira.


"Katakan apa kamu mulai menyukaiku?" tanya Keenan sekali lagi sambil terus mendekatkan wajahnya ke arah Dira.


Dira memejamkan matanya saat jarak wajah mereka tinggal beberapa centik lagi.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Maaf ya telat update. Ada yang komen kok kali ini alurnya lambat nggak seperti dua kisah Kontrak Pernikahan sebelumnya. Gini ya author kasih penjelasana dikit, kenapa kali ini alurnya terkesan lambat. Author ingin menunjukkan kalau cinta itu butuh proses dan nggak ujug-ujug jatuh cinta. Apalagi Bang Kee ini kan sudah punya tambatan hati meski tambatan hatinya sudah nolak dia. Tapi bagaimanapun kali ini, author ingin menunjukkan secara perlahan proses hadirnya perasaan cinta di hati mereka berdua. Jadi, terus ikuti kisah Babang Kee dan Mbak Dira ya. Jangan lupa untuk selalu berikan like, komen dan gift-nya.


Salam sayang dari otor ter--KECEH 🌹🌹


__ADS_2