KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 42


__ADS_3

Akhirnya mobil yang di kemudikan oleh Erik tiba juga di depan rumah Dira. Erik mengurangi laju mobil yang dia kendarai saat memasuki area halaman rumah tersebut.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dira saat dia tidak bisa membuka pintu mobil yang dia tumpangi.


"Kamu sangat cantik dengan pakaian itu," puji Erik seraya menatap Dira dari kaca spion yang berada di atas dashboard bagian tengah. "Ternyata ukuran badanmu masih sama seperti dulu."


"Berhenti berbicara omong kosong!" sentak Dira.


Erik menghela napasnya, kemudian dia sedikit menyerongkan badannya agar lebih mudah menatap Dira.


"Dira, aku tahu kamu menikah dengan Keenan hanya demi bisa merebut kembali perusahaan almarhum ibumu, aku tahu kamu tidak mencintai dia."


"Jika ada yang ingin kamu katakan, katakan saja! Tidak usah berputar-putar?!"


"Aku tahu kalau kamu masih memiliki perasaan padaku, kamu hanya kecewa karena waktu itu aku tidak mengakuimu sebagai pacar dan lari meninggalkanmu di saat kamu membutuhkan pertolonganku. Tapi, bukankah kamu sudah tahu alasanku melakukan itu?"


"Iya, aku tahu bahkan sangat tahu dan kejadian itu pula yang membuatku sadar akan satu hal kalau kamu bukan orang yang tepat yang pantas untuk aku cintai. Dan seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta kepadamu," jawab Dira. Dia mengatakan itu sambil memberikan tatapan tajamnya kepada Erik.

__ADS_1


"Dira, aku minta maaf soal itu. Tapi, aku benar-benar tidak berniat untuk meninggalkanmu. Aku hanya pergi untuk mencari cara agar bisa membantumu."


"Cara? Katakan padaku cara seperti apa yang kamu dapatkan dengan meninggalkan aku!" Dira sedikit meninggikan suaranya. "Tidak adakan? Jadi, jangan pernah bermimpi kalau aku masih memiliki perasaan yang sama kepadamu!"


Erik terdiam.


"Cepat buka pintu mobil ini sekarang!" seru Dira.


"Dira, asal kamu tahu perasaanku padamu masih sama seperti dulu. Kamu tetaplah wanita satu-satunya yang berada di hatiku."


"Berhentilah mengoceh! Karena aku tidak akan perduli dengan perasaanmu sekarang!" Dira kembali memberikan tatapan tajamnya. "Cepat buka pintunya!"


"Aku mencintaimu Dira dan aku masih di sini saat kamu membututuhkan bantuanku, kali ini apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


Ucapan Erik membuat Dira berhenti melangkah. "Aku sudah tidak perduli dengan perasaanmu."


Dira kembali melangkah menuju ke rumah. Setelah Dira masuk ke dalam rumahnya, Erik kembali menyalakan mesin mobil yang ia kendarai. Diapun segera membawa mobil itu keluar meninggalkan halaman rumah tersebut.

__ADS_1


Dira langsung masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian dia menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba bayangan kebersamaan dirinya bersama Erik berkeliaran di dalam otaknya. Dia ingat bagaimana awal mula dia bertemu dengan Erik hingga akhirnya dia jatuh cinta dan menjalin kasih dengan pria yang akhirnya membuat hatinya sakit.


Iya. Dira bertemu dengan Erik ketika di sekolahnya ada pertandingan basket antar SMU. Saat itu Dira yang notabennya adalah seorang anggota cheerleader ikut bersorak memberikan semangat kepada kakak kelasnya yang sedang bertanding basket. Tanpa henti Dira dan anggota cheerleader yang lain terus bersorak di pinggir lapangan. Namun, karena apes tanpa sengaja bola yang di lempar oleh Erik mengenai kepalanya dan tentu saja hal itu membuat Dira tiba-tiba pingsan. Semua siswa baik yang sedang bertanding atau yang hanya sekedar menonton langsung mendekat ke arah Dira yang pingsan. Dira langsung di bopong oleh siswa yang lain dan di bawa ke UKS untuk mendapat perawatan. Cukup lama Dira berada di ruang UKS tersebut hingga akhirnya dia tersadar. Dira terkejut saat melihat ada pria asing yang duduk di bangku yang ada di sebelah ranjang tempat dirinya berbaring.


"Siapa kamu?" tanya Dira kepada pria yang sedang duduk tersebut.


"Namaku Erik, maaf ya tadi tanpa sengaja bola yang aku lempar mengenai kepalamu," ucap pria yang mengaku bernama Erik.


Dira baru ingat kalau dia berada di ruang UKS karena pingsan di lapangan. Dia bangun dan duduk di pinggir ranjang.


"Tidak apa-apa kok." sahut Dira. "kenalkan aku Dira." Dira ikut mengenalkan dirinya.


Dan sejak saat itu hubungan Dira dengan Erik semakin dekat. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk menjalin kasih.


Dira terhenyak dari lamunannya ketika mendengar notif pesan dari ponsel miliknya yang masih berada di dalam tas. Dia meraih tas yang tadi dia letakkan di atas nakas dan mengambil ponsel itu. Dira mengusap layar ponsel itu menekan beberapa nomor sandi untuk membuka kunci ponselnya. Dia menautkan alisnya setelah membaca pesan yang baru saja masuk tersebut.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Yuk berikan like, komen dan giftnya untuk Babang Kee dan Mbak Dira.


Salam sayang dariku otor ter--KECEH 🌹🌹


__ADS_2