KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 43


__ADS_3

Dira terhenyak dari lamunannya ketika mendengar notif pesan dari ponsel miliknya yang masih berada di dalam tas. Dia meraih tas yang tadi dia letakkan di atas nakas dan mengambil ponsel itu. Dira mengusap layar ponsel itu menekan beberapa nomor sandi untuk membuka kunci ponselnya. Dia menautkan alisnya setelah membaca pesan yang baru saja masuk tersebut.


"Apa maksudnya dia mengingatkan ini," gumam Dira.


Dira memilih untuk langsung menelpon orang yang baru saja mengirim pesan kepadanya.


"Kee, apa maksudmu mengingatkan kesepakatan kita?" tanya Dira kepada Keenan, karena orang yang baru saja mengirimi dia pesan adalah Keenan.


"Hanya sekedar mengingatkan saja, siapa tahu kamu lupa," jawab Keenan.


"Tenang saja aku tidak akan lupa dengan kesepakatan kita. Aku tidak akan dekat dengan laki-laki manapun saat kita masih berada dalam ikatan pernikahan," jawab Dira ketus. Dia kesal karena Keenan kembali mengingatkan dia tentang kesepakatan mereka. Tapi, reaksi berbeda ditunjukkan oleh Keenan di ujung sana, sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Oiya, satu hal lagi. Malam ini aku tidak pulang ke rumahmu," ujar Keenan memberitahu.


"Kenapa? Apa urusanmu belum selesai?" tanya Dira.


"Urusanku di kantor sudah selesai, tapi si jeri ...."


Keenan tidak melanjutkan perkataannya.


"Jeri? Jeri siapa? Kenapa dengan jeri?" tanya Dira bingung.


"Duh, kenapa aku sampai kelepasan ngomongin si jeri. Sial, sial, sial." umpat Keenan dalam hati.


"Kee, kamu masih di situkan?" tanya Dira karena Keenan masih diam.


"Iya, aku masih di sini," jawab Keenan.


"Kamu belum mengatakan siapa itu jeri, kenapa dengan jeri dan apa yang terjadi padanya?" cecar Dira, pasalnya dia masih penasaran dengan jeri yang di maksud.


"Jeri itu anak kecil yang sedang bermasalah, dia tidak bisa menahan gejolak yang timbul dari dalam dirinya. Makanya aku harus membuatnya tenang," dusta Keenan.

__ADS_1


"Kasihan sekali si jeri," ucap Dira. "Kee, apa masalahnya begitu berat? Apa aku bisa ikut membantunya? Jika aku bisa membantu permasalahan yang sedang dihadapi oleh si jeri aku akan kembali ke kantormu sekarang."


"Tidak usah, tidak usah. Biar aku yang menangani si jeri!" cegah Keenan cepat.


"Kenapa? Apa kamu berpikir aku akan merepotkan si jeri? Kamu tenang saja kalau soal anak kecil aku pasti bisa menanganinya? Kamu ingatkan Qilla saja bisa langsung menyukaiku," ucap Dira dengan kepercayaan diri yang tinggi.


"Bagaimana masalah si jeri akan segera teratasi kalau kamu datang? Ini saja si jeri masih belum tidur," jawab Keenan dalam hati.


"Kee?" panggil Dira saat Keenan kembali tidak merespon perkataannya.


"Iya," jawab Keenan.


"Aku kembali ke kantormu sekarang ya. Aku akan membantumu mengatasi masalah si jeri."


"Dira ja__"


Belum sempat Keenan menjawab Dira sudah menutup sambungan telponnya. Dira memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan mengganti pakaiannya. Dira tidak ingin kembali ke Wijaya grup dengan mengenakan pakaian yang di beli oleh Erik. Dira meraih tas yang tadi dia taruh di atas nakas dan segera keluar dari kamarnya.


"Aku mau kembali ke kantor suamiku, dia bilang ada masalah yang belum bisa diselesaikan di kantor. Jadi aku harus kembali ke sana untuk membantunya," jawab Dira. "Mama tidak berniat melarangku untuk menemuinyakan?" Dira menunjukkan senyumnya kepada Anita. Dira yakin ibu tirinya tidak akan berani melakukan apa pun jika itu berkaitan dengan anak dari keluarga Wijaya itu.


"Oiya, Ma. Aku pinjam mobilnya," ucap Dira seraya mengambil kunci mobil milik Anita yang kebetulan berada di atas meja. "Da, Mama."


Dira merasa bahagia karena hari ini dia berhasil membuat ibu tirinya kesal. Dengan senyum yang masih mengembang Dira masuk ke dalam mobil dan mulai melajukannya untuk menuju ke kantor Wijaya Grup.


****


Keenan benar-benar frustasi karena si jeri belum juga tertidur padahal dia sudah berusaha mengalihkan pikirannya ke pekerjaan. Dan Keenan merutuki kebodohannya yang harus menelpon Dira untuk mengingatkan kesepakatan mereka yang berujung dengan keputusan Dira untuk kembali menemuinya di kantor. Dan itu berarti akan semakin sulit untuk menidurkan jerinya.


"Kenapa Kee?" tanya Arya yang melihat sahabatnya terlihat gelisah.


"Dira akan kembali ke sini," jawab Keenan.

__ADS_1


"Lalu apa masalahnya?" tanya Arya.


"Masalahnya si jeri akan semakin menegang dan sulit untuk ditidurkan kalau dia datang," jawab Keenan keceplosan.


Mendengar jawaban jujur dari sahabatnya membuat Arya tertawa terpingkal.


"Tidak ada yang lucu."


"Kamu itu, bilangnya saja tidak ada rasa dengan si Dira, tapi kenyataannya .... " Arya kembali tertawa.


Keenan melempar Arya dengan bolpoin yang ada di depannya.


"Kee, Kee, tidak usah terlalu gengsi. Menidurkan si jeri itu mudah, tinggal masukin ke sarangnya, toh kalian sudah sah menjadi suami istri baik itu secara agama maupun negara. Kenapa harus di tahan-tahan? Itu namanya menyiksa diri sendiri," cerocos Arya.


"Aku bilang diam!"


"Ya sudah terserah kamu. Aku keluar dulu ya mau cari kopi," pamit Arya. "Da jeri selamat tersiksa ya," ucap Arya lagi sebelum meninggalkan ruang kerja Keenan.


"Sialan lo," umpat Keenan kepada sahabatnya.


Keenan berjalan mondar-mandir di ruangannya karena gelisah. Langkahnya terhenti saat ada seseorang yang masuk ke ruangannya dan tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Sepertinya kamu sudah jatuh cinta kepadaku," ucap Keenan sembari tersenyum.


"Bukankah sudah aku katakan tadi kalau aku memang masih mencintaimu."


Mendengar suara orang yang memeluknya, Keenan berbalik dan menatap orang itu.


🍁🍁🍁


Tetap berikan like, komen dan giftnya ya Gaes. Salam sayang dari otor ter--KECEH 🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2