KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 29


__ADS_3

Dira terkesiap saat seseorang mengambil jarinya yang terluka.


"Makanya hati-hati," ucapnya tanpa melihat ke arah Dira.


"Kee, tidak apa-apa. Aku bisa mengobati lukaku ini sendiri."


Orang yang menolong Dira dan mengambil tangannya adalah Keenan. Pria itu bahkan menghisap jari Dira yang terluka akibat goresan kaca.


"Ayo duduk, biar pelayan yang membersihkan itu!"


Keenan membawa Dira untuk duduk. Dia juga menyuruh pelayan lain untuk mengambil kotak P3K.


"Kenapa kamu berjalan sambil melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Keenan sambil membantu mengobati luka di jari tangan istrinya tersebut.


"Tidak ada," jawab Dira.


"Lain kali kalau jalan itu hati-hati, jangan sampai kamu membuatku malu karena ulahmu!"


"Iya, aku tahu. Aku minta maaf," ucap Dira.


Dari kejauhan Erik memperhatikan keduanya. Dia merasa kesal karena melihat perhatian yang diberikan Keenan pada Dira.


"Apa yang kamu lakukan?" sentak Keenan, dia terkejut ketika tiba-tiba Dira mencium pipi kanannya sekilas.


"Itu ucapan terimakasihku untuk suamiku tercinta," jawab Dira dengan menunjukan deretan gigi putihnya. Dia sengaja melakukan hal tersebut untuk membuat Erik marah.


Melihat hal itu, Erik mengepalkan tangannya, dia segera pergi dari tempat dia berdiri.


"Kamu tidak lihat, kita dimana sekarang?" tanya Keenan lirih.


Pipi Dira memerah menahan malu saat menyadari kalau ternyata dirinya berada ditengah-tengah keluarga besar Wijaya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau semua sudah berkumpul disini?" bisik Dira.


"Kamu saja yang tidak fokus, bukannya aku sudah bilang tadi kalau semua orang sedang menunggu kita."


"Dira, Kee, apa kita sudah bisa memulai sarapan kita?" tanya Bintang. Dia dan suaminya duduk dimeja yang tidak jauh dari keduanya.


"Bisa kok, Mom, bisa," jawab Keenan cepat.


Pagi itu keluarga Wijaya memulai hari mereka dengan sarapan bersama seperti kebiasaan mereka dirumah.

__ADS_1


"Kee, Mommy dan yang lainnya akan check out siang ini. "Setelah ini, kalian bisa memilih akan tinggal dimana. Di rumah orang tua Dira, rumah Kami atau rumah kalian sendiri? Kalian bicarakan setelah ini."


"Baik, Mom," jawab Kee dan Dira bersamaan.


"Tante baik, Tante tinggal di rumah Omah aja supaya Qilla bisa sering main sama Tante." Si kecil Qilla ikut menimpali.


"Qilla, Sayang. Jangan berbicara saat mulutmu penuh, ngerti!" tegur Mikha kepada putrinya.


"Iya, Mommy," jawab Qilla. Dia kembali mengunyah makanannya.


"Tama, Kiara, ada yang harus kalian jelaskan kepada Daddy dan Ayah Nando. Usai sarapan kalian harus menjelaskan kepada kami kemana kalian menghilang selama hampir 6 tahun." Rangga berbicara dengan menantu dan anaknya.


Tama dan Kiara hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.


Usai sarapan Tama dan Kiara mengikuti Rangga dan Nando kesebuah kamar. Sementara Dion dan Mikha memilih untuk kembali ke kamar mereka. Dan si kecil Qilla, dia bermain bersama Keenan dan Dira di kamar mereka.


"Tante baik, sejak kapan Tante baik kenal sama Uncle?" tanya si kecil Qilla kepada Dira.


Dira melirik ke arah pria yang dipanggil Uncle oleh gadis kecil yang ada di pangkuannya. Dira tidak tahu harus memberikan jawaban yang seperti apa kepada gadis kecil itu.


"Tante ...."


"Qilla sayang, Uncle dan Tante baik sudah lama saling kenal, makanya Uncle dan Tante bisa menikah. Benarkan?" jawab Keenan. Pria itu memberikan tatapan tajamnya kepada Dira.


"Oiya, Qilla. Kenapa Qilla masih memanggil Tante dengan sebutan Tante Baik? Kenapa Qilla tidak panggil Tante ini, Aunty?" tanya Dira.


"Qilla sudah punya Aunty, Tante," jawab gadis kecil itu.


"Benarkah? Siapa?" tanya Dira lagi.


Qilla menatap ke arah Keenan, seoalah sedang meminta izin kepada unclenya untuk memberitahu siapa aunty yang dia maksud.


"Qilla, Qilla belum cerita sama Uncle soal Qilla yang nolongin Tante baik kemarin," Keenan berusaha mengalihkan pembicaraan.


Dengan penuh semangat gadis kecil itu menceritakan bagaimana dia menolong Dira yang terkurung di kamar mandi waktu itu.


"Begitu Uncle ceritanya," ucap Qilla mengakhiri ceritanya. "Qilla hebatkan Uncle?"


"Iya, keponakan Uncle memang selalu hebat," puji Keenan. Dia mengacak rambut keponakannya.


"Ih, Uncle kebiasaan deh, rambut Qilla kan jadi jelek," protes Qilla.

__ADS_1


"I'am sorry keponakan Uncle yang paling cantik." Keenan mengatupkan tangannya sembari tersenyum.


Hampir dua jam Qilla bermain bersama dengan Dira dan Keenan, setelah itu dia kembali ke kamar mommy dan daddynya karena hari itu mereka akan langsung pulang ke rumah mereka.


"Kee, apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Dira.


"Apa? Katakan saja!"


"Bisakah kita tinggal dirumah orang tuaku untuk sementara?" pinta Dira seraya bertanya.


"Kenapa?"


"Aku yakin tanpa aku mengatakannya-pun , kamu pasti sudah tahu alasannya," jawab Dira.


"Sebentar."


Keenan berjalan ke arah lemari, dia mengambil sebuah amplop besar dari dalam sana dan memberikannya pada Dira.


"Apa ini?" tanya Dira.


"Kesepakatan, kamu baca saja isi kesepakatannya. Kalau ada hal yang ingin kamu tanyakan, tanyakan sekarang."


Keenan kembali duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya.


Dira membuka amplop tersebut dan membaca isi kesepakatan yang ada di dalamnya. Kesepakatan itu berisi sebuah pasal yang mengharuskan Dira untuk tidak mencampuri urusan pribadi Keenan dan sebaliknya. Pernikahan keduanya hanya bersifat sementara sampai Keenan berhasil membantu Dira merebut semua hal yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Keenan bebas memilih untuk melanjutkan pernikahan itu atau berhenti setelah semua tujuan Dira berhasil.


"Bagaimana? Apa ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Keenan.


"Tidak ada," jawab Dira.


"Ada satu lagi yang belum tertulis didalam kesepakatan itu."


"Apa?" tanya Dira.


"Selama menjalin pernikahan denganku, kamu tidak boleh berhubungan dengan laki-laki manapun dan kamu harus menjaga nama baik keluarga Wijaya, mengerti!"


"Lalu bagaimana dengan dirimu? Kalau aku tidak boleh berhubungan dengan laki-laki manapun, apa kamu juga tidak diizinkan untuk menjalin hubungan dengan wanita lain?"


"Itu bukan urusanmu," jawab Keenan.


"Sudahlah, dia mau dengan siapapun juga tidak masalah, bukankah yang terpenting tujuanku berhasil," batin Dira.

__ADS_1


"Oke, aku setuju dengan semuanya," ucap Dira.


Dira dan Keenan berjabat tangan sebagai simbol kalau mereka sudah sepakat.


__ADS_2