KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 50


__ADS_3

Dira menyeka air matanya yang jatuh membasahi pipi, kemudian dia berlari meninggalkan Keenan.


Untuk sesaat Keenan terdiam mendengar pengakuan Dira barusan. Dan saat dia sadar, Dira sudah berlari jauh meninggalkan dirinya


"Dira, tunggu!" teriak Keenan. Dia ikut berlari untuk mengejar wanita yang berstatus istrinya tersebut.


"Kamu mau kemana?" tanya Keenan saat berhasil meraih tangan Dira.


Dira tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya. Keenan lebih mendekatkan dirinya ke arah Dira. Jemarinya menelusuri lekuk telapak tangan Dira, siku, lengan, bahu, leher lalu pipi mulusnya. Keenan menangkup wajah Dira dengan kedua telapak tangannya.


"Maafkan aku, Dira. Maafkan aku karena aku mengatakan hal buruk tentangmu. Aku tidak bermaksud mengataimu bodoh. Tolong maafkan aku!" pinta Keenan sembari menatap intens kedua bola mata Dira.


"Kamu tidak salah kok, karena semua yang kamu katakan benar, aku memang orang bodoh." Dira berusaha menghindari tatapan Keenan.


"Hsttt." Keenan menaruh jari telunjuknya di depan bibir Dira yang berwarna merah. "Bukan hanya kamu yang bodoh. Tapi aku juga bodoh karena aku harus menjilat ludahku sendiri."


"Maksudmu apa?" Kini Dira membalas tatapan intens Keenan.


"Aku selalu bilang kalau aku tidak akan pernah menyukaimu. Tapi, hatiku mengkhianati akal sehatku," jawab Keenan.


"Maksudmu, kamu juga.... "


"Iya, Dira. Aku mulai menyukaimu, aku sudah berusaha untuk mengelak, tapi aku tidak bisa. Hatiku tetap saja mengkhianatiku, bahkan dia sudah mengukir namamu di sini," ucap Keenan seraya menunjuk dadanya sendiri.


Keenan kembali menangkup wajah Dira dengan kedua tangannya. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Dira dan membuat dahi mereka bersentuhan.


"Maafkan aku, jika selama ini aku selalu berbuat semena-mena terhadapmu. Aku hanya ingin menghindari perasaanku terhadapmu." Wajah Keenan yang begitu dekat dengan wajah Dira, membuat hembusan nafasnya, menyapu hangat menerpa wajah cantik di depannya.


"Kee," panggil Dira.


"Hmmm."

__ADS_1


"Apa kita masih akan tetap seperti ini? Hujan sudah mulai turun lho." Dira mengingatkan.


Keenan melepaskan tangan yang menangkup wajah Dira, kemudian dia mengecup dahi Dira sekilas. Keenan kembali meraih tangan Dira untuk membawanya berteduh karena hujan akhirnya benar-benar turun dengan sangat lebat.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan? Kita tidak bisa pulang," desis Dira kesal.


Keenan dan Dira berteduh di depan sebuah ruko yang kebetulan sudah tutup.


"Aku akan hubungi Arya untuk menjemput kita di sini."


Keenan merogoh saku celananya.


"Kenapa? Pasti ponselmu ketinggalan di dalam mobilkan?" tanya Dira menebak.


"Sepertinya begitu," jawab Keenan.


"Ponselku juga tertinggal di dalam tas dan itu semua gara-gara kamu menyuruhku mendorong mobilmu," ketus Dira.


Sungguh, Dira tidak bisa mengontrol degup jantungnya. Perlakuan lembut yang Keenan berikan padanya kali ini membuat ritme jantungnya kembali tak beraturan.


"Apa kamu kedinginan?" tanya Keenan saat melihat tubuh Dira sedikit menggigil.


"Sedikit."


Keenan melepas jas yang dia pakai dan memakaikannya pada tubuh Dira.


"Kalau kita kembali ke mobil, pasti tubuh kita akan semakin basah kuyup. Di sebelah ruko ini sepertinya adalah hotel, kita bisa berteduh di sana sementara. Nanti saat hujan sudah mulai reda, aku akan mengambil ponsel kita yang berada di dalam mobil dan menghubungi Arya untuk menjemput kita. Kamu tidak keberatankan?"


"Tentu saja tidak. Asal itu bersamamu aku tidak akan merasa keberatan," jawab Dira.


"Ya, sudah. Ayo kita ke sana!" ajak Keenan.

__ADS_1


Keenan membawa Dira masuk ke sebuah hotel kecil yang ada tepat di sebelah ruko. Mereka memesan satu kamar untuk berteduh.


"Maaf, Mas. Bisa saya pinjam payungnya, saya mau mengambil ponsel dan uang kami yang berada di dalam mobil. Kebetulan mobil kami berada agak jauh dari sini."


"Boleh, Pak. Sebentar saya ambilkan." Resepsionis hotel itu mengambil payung dan memberikannya pada Keenan. "Ini, Pak."


"Terima kasih," ucap Keenan seraya menerima payung dari sang resepsionis.


"Ra, kamu tunggu di sini sebentar. Aku akan kembali ke mobil untuk mengambil ponsel dan tasmu yang ada di dalam sana," pamit Keenan.


"Tapi.... "


"Jangan takut, aku akan segera kembali." Seperti bisa menebak hal yang sedang dipikirkan oleh Dira, Keenan berusaha membuat menenangkan istrinya.


Keenan segera ke luar dari hotel untuk mengambil ponsel dan tas Dira dari dalam mobil.


Dira terus melihat ke arah jam tangannya, dia takut kalau Keenan tidak akan kembali ke hotel itu dan meninggalkan dirinya di sana.


"Kenapa lama," gumam Dira. Dia terlihat cemas karena sudah hampir tiga puluh menit Keenan meninggalkan hotel, suaminya belum juga kembali.


"Jangan-jangan, dia sengaja meninggalkan aku di sini." Dira kembali pada pikiran buruknya. Apalagi saat dia melihat seorang wanita yang tengah melabrak suaminya yang sedang bermesraan dengan wanita lain di sana. "Apa Kee mau menjualku disini? Tidak! Aku harus kabur dari sini."


Dira mengedarkan pandangannya untuk memastikan kalau tidak ada orang yang sedang mengawasinya. "Aku harus segera kabur," batin Dira.


Dengan langkah perlahan Dira mulai berjalan untuk meninggalkan tempat itu.


"Mau kemana?"


Dira terkesiap mendengar suara itu. "Aduh, pasti mereka akan menangkapku. Dan memaksaku untuk melayani pria hidung belang yang ada di sini. Matilah aku." Dira terus berbicara sendiri.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Yuk, terus dukung Kee dan Dira dengan cara berikan like, komen dan giftnya. Salam sayang dari otor ter--KECEH ❤️🌹


__ADS_2