
Keenan tidak menjawab seruan kakaknya, dia hanya berjalan mendekat ke arah istrinya sembari memberikan tatapan yang sulit diartikan oleh Dira. Dan ....
Greb.
Lelaki tampan yang berstatus suami Dira itu, memeluknya erat. "Maafkan aku ya, Sayang. Karena aku sempat marah padamu tadi," ucap Keenan. Dia memberikan kecupan pada pucuk kepala istrinya.
"Iya, Mas. Aku bisa ngerti kok kenapa kamu sampai marah tadi. Tapi lain kali tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan, jangan langsung pergi saja!" jawab Dira. Dia membalas pelukan suaminya.
Keenan mengendurkan pelukannya dan menatap manik indah sang istri, kemudian dia sedikit menundukkan wajahnya sebelum akhirnya mencium bibir istrinya. Ciuman itu terasa begitu manis hingga membuat Keenan lupa keberadaan mereka saat ini. Bahkan Mikha sampai menutup mata putrinya dengan menggunakan telapak tangan, sebelum akhirnya mengeluarkan suara dehemannya..
'Ehem.'
Sontak saja dua orang yang sedang saling bertukar saliva di depan Mikha menghentikan kegiatan mereka. Wajah dua orang itu tampak merah menahan malu begitu menyadari banyak pasang mata yang melihat kegiatan mereka barusan. Bahkan tatapan tajam sang Kakak yang mengisaratkan bentuk protes sukses membuat Keenan sedikit kelabakan.
"I'am sorry," ucap Keenan disertai cengiran kudanya. Keenan menggandeng tangan sang istri dan membawanya ke tempat duduk dimana kakak dan keponakannya berada. Mereka memesan berbagi menu makan siang sesuai dengan permintaan Qilla. Saat menu itu sudah tersaji di depan mata, mereka pun segera menikmatinya.
"Uncle, Tante, Mommy bilang, Uncle dan Tante akan buatin aku dedek bayi yang lucu ya?"
'Uhuk uhuk'
Dira dan Keenan langsung tersedak mendengar pertanyaan keponakannya. Mereka menatap kakaknya meminta penjelasan. Sementara Mikha tetap santai menikmati makan siangnya tanpa merasa berdosa dan membiarkan adik serta adik iparnya itu memberikan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh putrinya.
"Qilla, do'ain ya, semoga Tante dan Uncle bisa segera memilikinya." Dira menjawab pertanyaan Qilla dengan suara lembut. Dia juga membersihkan sisa makanan yang menempel pada sudut bibir gadis kecil itu menggunakan tisu.
"Memang Uncle dan Tante tidak bisa membuatkannya sekarang? Apa bikin dedek bayi itu sulit ya Tante?" tanya Qilla yang memang memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi.
Dira melirik ke arah Keenan dan berharap kalau suaminya akan bisa membantunya memberikan jawaban kepada Qilla.
"Apa bikin dedek bayi sama seperti saat Mommy bikin kue?" lagi-lagi pertanyaan polos Qilla terucap.
__ADS_1
"Qilla Sayang, bikin dedek bayi lebih sulit dari pada bikin kue. Tapi, Mommy yakin kalau Uncle dan Tante akan sangat senang saat membuatnya," jawab Mikha.
"Benarkah Mommy? Kalau Uncle dan Tante senang membuatnya berarti Qilla bakalan cepet punya dedek bayi dong?" kini pertanyaan itu Qilla ucapkan dengan mata berbinar-,binar.
Mikha mengangguk. "Sekarang habiskan makan Qilla!" seru Mikha.
"Kenapa Kakak limpahkan keinginan Qilla ke aku dan Dira? Kenapa bukan Kakak dan Kak Dion saja yang bikin?" tanya Keenan di telinga kakaknya. Bahkan dia menanyakan itu dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya dan Mikha.
"Aku dan Mas Dion selalu bikin kok, hanya saja emang belum jadi. Makanya waktu Qilla bilang ingin memiliki adik bayi, aku bilang aja kalau kalian lagi proses bikinin dia dedek kecil juga," jawab Mikha tanpa perasaan berdosa.
"Dasar." Keenan mengatakan itu sambil mencebikkan bibirnya.
Mereka pun kembali menikmati makan siang mereka. Usai makan siang, mereka segera kembali ke tempat kerja masing-masing.
***
Erik dan Arya saling tatap, melihat perubahan sikap Keenan setelah kembali dari makan siang. Bos sekaligus teman mereka itu terlihat tampak bahagia, bahkan sekali-kali terdengar dia bersenandung saat kerja.
"Kenapa memang?" Keenan menjawab pertanyaan Arya dengan pertanyaan.
"Nggak kenapa-kenapa sih, tapi kan tadi pagi kamu ngomel-ngomel nggak jelas, bahkan hampir semua karyawan kamu jadiin sasaran kemarahan. Dan sekarang kamu kelihatan begitu bahagia, sudah persis cewek labil yang lagi menstruasi," jawab Arya panjang lebar.
"Kenapa mengibaratkan sikapku dengan cewek yang lagi menstruasi? Pakai ditambah kata labil lagi," protes Keenan.
"Bukannya kenyataannya memang seperti itu? Cewek yang lagi menstruasi selalu sensi dan kadang marah-marah gak jelas persis seperti sikap kamu hari ini," jawab Arya.
Keenan mengambil bolpoin dari atas meja dan melemparkannya ke tubuh Arya. Namun, pria itu berhasil menghindar.
"Tuhkan, geje banget sikap kamu," ujar Arya.
__ADS_1
"Sudah, sudah, stop debat soal sikap aneh Keenan hari ini!" lerai Erik. "Lebih baik sekarang kita beresin semua berkas-berkas yang tadi pagi di lempar oleh Kee. Kita susun ulang biar pas digunakan kita nggak kerepotan."
Arya menghela napasnya. Benar yang dikatakan Erik, mereka harus mengumpulkan berkas-berkas yang berhamburan di ruang kerja bos mereka secepatnya.
***
Akhirnya hari dimana Dira dan Keenan akan melakukan perjalanan bulan madu mereka. Keduanya sudah berada di bandara dan bersiap untuk memasuki terminal keberangkatan karena pesawat mereka akan segera take off.
"Sayang mana tiketnya?" tanya Keenan saat petugas bandara menanyakan tiket mereka.
"Sebentar, Mas," jawab Dira. Dia merogah tas untuk mengambil tiket yang dia taruh didalamnya.
"Mana Sayang?" tanya Keenan saat istrinya belum juga memberikan tiket kepadanya.
"Mas," panggil Dira.
"Apa?"
"Itu... em...."
Keenan menatap Dira penuh tanda tanya. Apalagi saat Dira menunjukkan senyum aneh yang menyisakan tanda tanya untuknya.
🍂🍂🍂
Kira-kira kenapa ya kok mbak Dira kayak gitu? Berhasilkah mereka melakukan perjalanan honeymoon mereka? Tunggu di next bab🤭✌️.
Ohya, baca juga yuk karya temen otor di bawah ini. Di jamin keren dan nggak akan rugi kalau kalian baca.
__ADS_1
Di tunggu kunjungannya ya, gaes. salam sayang dari otor ter--KECEH.
...MAACIEW😍...