
Keesokan harinya ....
"Mas, hari ini kita akan jalan-jalan kemana?" tanya Dira di sela-sela kegiatannya memasak.
Keenan memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Kenapa kamu masak? Bukankah kita bisa beli di warung kemarin?" ucap Keenan sambil mencium ceruk leher sang istri dari belakang.
"Tidak apa-apa, Mas. Selama tinggal di rumah papa, aku bahkan belum pernah memasak untukmu. Jadi, selama di sini, aku akan belajar menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik," jawab Dira dengan tangan yang masih sibuk dengan pisau dan wortel.
"Tapi, aku lebih suka kita menghabiskan waktu kita di dalam kamar," bisik Keenan. Bahkan tangan jahilnya sudah menelusup masuk ke dalam kaos yang Dira kenakan.
"Menghabiskan waktu di dalam kamar juga membutuhkan tenaga, Sayang. Jadi, biarkan aku menyelesaikan masakanku!" pinta Dira. "Memangnya, kamu tidak lapar?"
"Tidak, aku tidak la__"
Sebelum Keenan menyelesaikan kalimatnya, perut Keenan sudah berbunyi tanda kalau perutnya minta di isi.
"Tuh kan... biarkan aku menyelesaikan masakanku ya?"
__ADS_1
"Baiklah, tapi ijinkan aku membantumu," jawab Keenan. Dia mengambil pisau dan wortel dari tangan istrinya. "Sekarang apa yang harus aku lakukan dengan ini?"
"Tap__"
"Katakan! Aku tidak suka dibantah!" sela Keenan.
"Wortel itu kamu kupas kulitnya kemudian diiris membentuk potongan dadu," jawab Dira menjelaskan. Keenan pun melakukan hal yang dikatakan oleh sang istri. Dia mengupas wortel kemudian mengirisnya membentuk potongan dadu.
"Memang kamu mau masak apa?" tanya Keenan di sela-sela dia mengiris.
"Capcay kering, telur dadar sama tempe goreng. Dulu, nenek sering buatin itu."
"Aku beli di tukang sayur keliling, Mas, sebelum kamu bangun tadi," jawab Dira.
"Pagi begini sudah ada penjual yang keliling?" tanya Keenan lagi. Dia melihat jam yang terpajang di dinding dapur. Jam itu baru menunjukkan pukul enam pagi.
"Iya, yang lebih pagi dari ini juga ada kok. Rata-rata orang di sini akan berangkat bekerja sebelum subuh. Mereka tidak akan membiarkan matahari bangun lebih dulu dari mereka." Terang Dira. "Mas, nanti kita jalan-jalan ke pantai yuk! Aku kangen pingin lihat pemandangan pantai di sini."
__ADS_1
"Baiklah, jadi jadwal kita hari ini selain kegiatan di kamar adalah berjalan-jalan ke pantai."
"Kenapa kegiatan di kamar harus di sebutkan juga sih?" protes Dira.
"Biar kamu tidak lupa, kalau tujuan kita ke sini untuk berbulan madu. Jadi, kapan pun itu, kegiatan di kamar harus selalu di prioritaskan," tandas Keenan.
Dira hanya menggeleng sambil tersenyum. Mereka berdua kembali melanjutkan kegiatan masak mereka. Dan benar saja, Keenan membuktikan ucapannya. Selesai memasak dan sarapan, mereka melanjutkan kegiatan kamar mereka. Dan setelah puas, barulah mereka pergi ke pantai sesuai permintaan Dira.
Dira dan Keenan, mengendarai motor matic yang mereka pinjam dari Pak Karyo untuk menuju pantai. Dan anehnya, sepanjang perjalanan dari rumah menuju pantai, Keenan merasa ada yang mengawasi gerak gerik mereka.
"Ada apa, Mas?" tanya Dira ketika melihat suaminya terus memperhatikan kaca spion.
"Kalau aku bilang pada Dira ada yang mengawasi kita, dia pasti akan panik. Lebih baik, aku tidak memberitahunya," batin Keenan.
"Mas, ada apa?" tanya Dira memastikan.
"Tidak, apa-apa kok, Sayang," jawab Keenan.
__ADS_1
Keenan tetap melanjutkan perjalanan mereka menuju pantai.