KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 49


__ADS_3

Dira benar-benar kesal karena gara-gara Keenan lupa mengisi bensi, dia harus mendorong mobil pria itu sampai ke pom bensin.


"Ayo cepet dorong lagi! Pom bensin tinggal 2 km dari sini!" teriak Keenan dari dalam mobil.


Dira mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat mendorong mobil yang mereka tumpangi.


"Dasar Tuan muda! Harusnya diakan yang dorong mobilnya, kenapa malah aku? Pria macam apa dia?" gerutu Dira.


"Hei, kenapa berhenti? Kamu mau kita kemaleman sampai rumah? Atau kamu mau kehujanan? Lihat, langit sudah mulai mendung!" omel Keenan yang akhirnya turun dari dalam mobilnya.


"Kamukan cowok, harusnya kamu dong yang dorong!" keluh Dira.


"Ini mobil, mobil siapa?"


"Kamu."


"Jadi sudah jelaskan orang yang menumpang, wajib mendorong jika terjadi sesuatu dengan mobil yang di tumpanginya."


"Aturan dari mana itu?"


"Dariku? Kenapa? Kamu keberatan?" Keenan malah mengajak Dira berdebat.


"Tahu begini, aku pulang saja menggunakan mobil milik nenek sihir yang aku bawa dari rumah tadi," gumam Dira.


"Cepetan dorong lagi sebelum hujan!" titah Keenan. Dia kembali masuk ke dalam mobilnya. "Woi, Anindira. Kamu tidak budegkan? Buruan dorong!"


"Benar-benar ya nih cowok ngeselin banget," umpat Dira sembari berdecak pinggang.


Kebetulan tidak begitu jauh dari mobil mereka ada segerombolan pemuda yang berjumlah 5 orang sedang nongkrong. Dan itu membuat Dira menemukan sebuah ide.


"Cepat dorong!" teriak Keenan lagi.


"Sebentar," jawab Dira.


Bukannya mendorong Dira malah berjalan mendekati para pemuda yang sedang nongkrong tersebut.


"Ngapain tuh cewek malah nyari penyakit?" keluh Keenan. Dia masih memilih untuk diam di dalam mobil sambil terus mengawasi Dira.


Dira mendekati para pemuda yang dia lihat.


"Maaf, Mas Mas. Boleh minta bantuannya tidak?" tanya Dira kepada para pemuda itu.


"Bantuan apa, Neng?" tanya salah seorang dari mereka.


"E ... kebetulan mobil yang aku dan suamiku tumpangi kehabisan bahan bakar. Apa kalian bisa membantu kami untuk mendorongnya sampai ke pom bensin yang ada di depan sana?" jawab Dira sembari bertanya.

__ADS_1


Bukannya menjawab, para pemuda tersebut justru saling tatap, kemudian mereka memperhatikan penampilan Dira dari bawah hingga atas.


"Mangsa baru nih, Bos," ucap salah satu dari pemuda yang Dira mintai pertolongan.


"Mau apa kalian?" tanya Dira saat para pemuda tersebut memberikan tatapan anehnya kepada Dira dan mulai berjalan mendekat ke arahnya.


"Jangan kurang ajar ya!" bentak Dira ketika ada salah satu dari mereka yang hendak menyentuh tangannya.


"Ayolah, jangan sok jual mahal. Kami tahu kok kalau kamu itu bukan istri dari yang punya mobil itu. Buktinya dia diam saja tuh di dalam mobil."


"Palingan dia itu salah satu pelangganmu."


"Ayolah Nona, apa ruginya kamu melayani kami. Kami pasti lebih bisa muasin kamu dibanding laki-laki yang ada di dalam mobil sana."


Para pemuda itu terus berusaha menyentuh Dira.


"Aku bilang jangan kurang ajar!" bentak Dira lagi. "Lepaskan!"


Dira berusaha menghempaskan tangan dari salah satu pemuda yang sudah megangi pergelangan tangannya.


"Ayolah! Jangan sok jual mahal!"


"Aku bilang jangan bersikap kurang ajar ya!" sentak Dira lagi.


"Eleh, wanita murahan seperti kamu nggak usah sok-sokan deh. Kami jamin, kami pasti akan membuatmu puas."


"Ayolah!"


Dira sudah mulai ketakutan, dia terus melangkah mundur saat para pemuda itu semakin mendekat ke arahnya.


"Aku bilang jangan mendekat!" Dira mengatakan itu dengan terus berjalan mundur. Dan langkahnya terhenti saat tubuhnya menabrak seseorang di belakangnya yang ternyata adalah Keenan.


"Kalian menginginkan dia?" tanya Keenan tanpa ekspresi.


"Tentu saja." jawab salah satu dari berandalan itu.


"Sayangnya, saat ini dia baru akan melayaniku," ucap Keenan lagi.


"Kalau begitu, bagaimana kalau sesudah dia melayanimu barulah wanita ini melayani kami? Tidak apa-apa deh, kalau kita harus menunggu sampai kalian selesai bermain," sahut salah seorang dari para pemuda itu.


"Baiklah. Akan aku serahkan dia saat aku sudah selesai."


Dira membeliak mendengar jawaban yang di berikan Keenan kepada para pemuda itu. Bisa-bisanya dia ingin menyerahkan dirinya kepada para berandalan itu setelah dia bosan.


"Kee, kamu cuma pura-purakan?" bisik Dira.

__ADS_1


"Tidak, aku serius."


"Jadi kamu akan menyerahkan aku pada mereka?"


"Iya," jawab Keenan santai. "Kenapa?"


"Keterlalaluan kamu, Kee. Aku ini istrimu, kenapa kamu malah ingin menyerahkan istrimu pada mereka?"


"Masa sih? Bukankah hubungan kita ini hanyalah sebuah kesepakatan dan tidak tertulis tuh di kesepakatan kita, kalau aku di larang menyerahkanmu pada orang lain," jawab Keenan panjang lebar yang di sertai dengan senyum smirk-nya.


"Kee, jadi kamu benar-benar akan menyerahkanku ke mereka?" Dira mengulang pertanyaannya.


"Sudah, kalian jangan ribut! Cepat selesaikan urusanmu dengan wanita itu sekarang juga, kami sudah tidak sabar ingin menikmati tubuh wanita ini!" timpal salah seorang dari pemuda berandalan tadi.


"Bagaimana kalau aku jawab urusanku dan wanita ini tidak akan selesai secepat itu. Apa kalian masih mau menunggu kami?" tanya Keenan memastikan.


"Maksudmu apa?"


"Ya... urusanku dan dia tidak akan selesai dalam waktu 1 atau 2 jam, mungkin lebih dari itu," jawab Keenan.


"Memang butuh waktu berapa lama agar kamu puas bermain-main dengan wanita ini?" tanya pemuda yang lain. "1 malam? 2 malam? atau berapa malam lagi? Memang kamu tidak bosan bermain dengan satu wanita yang sama tiap malam?" cibir salah seorang dari mereka dan di sambut gelak tawa dari pemuda yang lain.


"Mungkin aku akan membutuhkan dia seumur hidupku," jawab Keenan.


"Hei, kamu ingin bermain-main dengan kami?"


"Lho siapa yang ingin bermain dengan kalian? Kalian barusan-kan tanya aku butuh waktu berapa lama untuk bermain dengan wanita ini? Ya aku jawab dong, aku membutuhkan waktu seumur hidupku untuk bermain dengan dia. Jadi, tidak akan aku biarkan orang lain untuk bermain dengan wanitaku selamanya." Keenan memberikan tatapan tajamnya kepada kelima pemuda yang berdiri di hadapannya.


"Dasar kurang aja! Serang dia!" suruh salah satu dari mereka.


Kelima pemuda itu mulai meyerang Keenan bersamaan. Namun, Keenan dapat menghindari serangan mereka. Satu tangan Keenan memegang pergelangan Dira dan satu tangannya yang lain menghajar ke lima pemuda di depannya. Tinjuan hingga tendangan mampu dia layangkan kepada kelima pemuda berandalan tadi hingga kelimanya jatuh terkapar.


"Ingat! Jangan pernah mengganggu siapa pun lagi di kawasan ini! Kalau sampai aku melihat kalian masih mengganggu wanita dan membuat ulah di sekitar sini, aku pastikan kalian akan menghabisakan sisa hidup kalian di penjara!" Keenan memberikan peringatan kepada kelima pemuda tadi. Kemudian dia menarik tangan Dira untuk meninggalkan tempat itu.


"Apa maksudmu meminta bantuan mereka? Hah?!" tanya Keenan dengan nada membentak. Dia bahkan menghempaskan tangan Dira dengan kasar.


"Apa kamu begitu bodoh sampai tidak bisa membedakan mana orang baik yang bisa kamu mintai pertolongan dengan orang jahat yang malah bisa membahayakan kamu?!" Keenan menatap Dira marah, dia tidak habis pikir bagaimana wanita itu malah mencari kesulitan untuk dirinya sendiri.


"Pantas saja, kamu bertindak bodoh hanya untuk merebut perusahaanmu dari ibu tirimu itu," imbuh Keenan.


"Kau benar, aku memang bodoh. Hanya demi merebut sebuah perusahaan, aku sampai menjebakmu dan melakukan kesepakatan bodoh itu," jawab Dira. "Aku bahkan tidak pernah memikirkan apa dampaknya untuk diriku dan dirimu. Aku lupa kalau aku dan kamu memiliki hati dan bisa saja hati kita terluka karena kesepakatan itu." Dira membalas tatapan Keenan. "Dan aku merasakan itu sekarang. Hatiku sakit saat aku melihatmu dan Anjani berciuman."


Dira menyeka air matanya yang jatuh membasahi pipi, kemudian dia berlari meninggalkan Keenan.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan giftnya ya. Agar otor selalu semangat buat update. Salam sayang dari otor ter--KECEH ❤️🌹


__ADS_2