KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 94


__ADS_3

Baiklah," jawab Riska, dia hendak meletakkan ember berisi air yang dia bawa untuk menyiram Dira barusan. Namun, dengan sengaja Dira menendang kakinya hingga air yang dia bawa tumpah sebagian dan membuat berkas yang ada di hadapan Dira menjadi basah.


"Apa yang kamu lakukan, Ris?" Anita mencoba menyelamatkan berkas-berkas yang basah tadi.


"Maaf, Ma. Kakiku di tendang olehya tadi," Riska mencoba membela diri.


"Aku tidak menendangnya Ma. Dia saja yang kurang hati-hati," Dira juga ikut berbicara.


"Aku tidak bohong, Ma. Dia tadi menendang menendang kakiku," desis Riska. Dia kembali membela diri.


"Tidak, Ma. Riska bohong!" kembali Dira berusaha menyanggahnya.


Keduanya pun beradu mulut dengan Riska yang menuduh Dira sudah menendang kakinya yang membuat air yang dia bawa tumpah. Dan Dira yang berusaha kekeh mengatakan kalau dia tidak melakukan yang dituduhkan oleh Riska.


"Sudah, hentikan pertengkaran kalian! Kalian membuatku pusing saja!" teriak Anita kepada Riska dan Dira. Dia menantap Riska dan Dira bergantian.


"Riska, kamu bereskan ember itu! Aku tidak ingin ada kejadian yang sama saat kertas-kertas ini kering nantinya!" seru Anita kepada putrinya.


"Baik, Ma." Riska pun membawa ember itu pergi dari ruangan tersebut.


"Dan kamu, Dira. Awas saja kalau kamu membuat ulah lagi!" ancam Anita.


"Iya, Ma," jawab Dira. Dia sedikit lega karena bisa mengulur sedikit waktu.


"Aku harus segera memberitahu Keenan tentang keberadaanku sebelum kertas-kertas itu kering. Tapi bagaimana caranya?" Dira kembali berbicara dalam hati.


Dira sedikit memutar otaknya. Kemudian dia memasang wajah meringisnya dan berpura-pura sakit perut.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Anita saat melihat Dira meringis seperti menahan sesuatu.


"Perutku sakit, Ma. Sejak semalam aku belum makan," jawab Dira. Dia berpura-pura meringis.


"Jangan bohong kamu! Kamu sengajakan pura-pura seperti itu agar bisa kabur dari sini? Dengar ya Dira sayang, aku tidak akan tertipu oleh siasat bodohmu itu," sentak Anita.


"Tapi beneran, Ma, perutku memang sakit. Kalau Mama tidak percaya terserah. Tapi, jika berkas-berkas itu kering dan aku pingsan karena menahan sakit di perutku ini, jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa menanda tangani itu," jawab Dira, dia tetap memasang wajah meringisnya seolah sakit di perutnya makin parah.


"Ris, kamu beli makanan untuk anak sialan itu! Mama tidak mau dia pingsan saat harus menandatangani berkas-berkas ini!" akhirnya Anita menyuruh putrinya untuk membeli makanan.


"Tapi, Ma ...."


"Jangan membantah, beli saja!" seru Anita, dia menyela ucapan putrinya. "Kenapa masih diam?" tanya Anita saat Riska masih bergeming di tempatnya.


"Ma, uang kita sudah habis," jawab Riska lirih.


"Mama lupa saat pengusiran itu, Mama tidak membawa uang banyak. Mama hanya membawa uang sisa di dalam dompet."


"Ma, perutku benar-benar sakit." Dira sengaja membuat keruh suasana agar Anita tidak bisa berpikir jernih. "Aku lapar, aku sangat lapar," keluh Dira sambil terus memasang wajah meringisnya.


"Bagaimana ini, Ris? Kalau dia pingsan, kita akan makin lama mendapatkan tanda tangan itu?"


"Ya ... kalau begitu, Mama harus belikan dia makanan. Selain itu aku juga lapar, Ma. Bukankah terakhir kita makan juga semalam?" jawab Riska.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Anita.


Riska dan Anita teridiam mereka sama-sama sedang berpikir bagaimana dirinya bisa mendapatkan uang untuk bisa membeli makanan.

__ADS_1


"Ma, aku ingat kalau ada uang di laci meja kerjaku. Aku bisa mengambilnya dan memberikannya pada kalian," Dira menawarkan.


"Ris, kamu ambil uang di meja kerja Dira sekarang. Ingat, jagan sampai kamu ketahuan!"


"Tunggu, Ma!"


"Ada apalagi?" tanya Anita.


"Aku baru mengubah keamanan diperusahaan."


"Maksudmu?"


"Ruang kerjaku hanya bisa dibuka menggunakan sidik jariku," jawab Dira.


"Menyusahkan sekali," keluh Anita. Dia melihat ke arah jam yang terpasang di dinding. Sebentar lagi waktunya para karyawan pulang.


"Kita, tunggu sampai semua karyawan pulang!" suruh Anita.


Setelah beberpa saat menunggu dan memastikan kalau lingkungan perusahaan sudah sepi. Anita dan Riska membawa Dira keluar dari tempat persembunyian.


"Ternyata ruangan ini ada di bawah ruang perpustakaan," batin Dira setelah Riska dan Anita membawanya ke luar dari tempat persembunyian.


"Cepat ambil uangnya!" suruh Anita. Dia menyuruh Dira segera mengambil uang yang di maksud.


Dira menempelkan sidik jarinya di pintu direktur, tidak lama pintu pun terbuka. Mereka bertiga masuk ke ruangan itu. Saat Anita dan Riska sibuk dengan uang yang ada di laci, Dira memutuskan untuk kabur. Namun, langkahnya kembali terhenti saat mendengar ancaman dari Anita.


"Berani kamu melarikan diri dariku, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat papamu lagi!" ancam Anita.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Dira.


Anita menunjukkan senyum smirknya kepada Dira.


__ADS_2