KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 78


__ADS_3

Keenan sudah membersihkan dirinya di ruang kerja sang istri, Dira. Dia juga sudah mengganti pakaiannya yang kotor dengan pakaian yang di bawa oleh Arya. Pun demikian dengan Dira, wanita itu juga sudah mengganti bajunya yang basah dengan bajunya yang lain.


"Kee, bagaimana kamu bisa datang ke sini? Bukankah sebelumnya, kamu masih marah padaku karena tahu kalau akulah orang yang merencanakan kejadian yang menimpa Qilla?" tanya Dira.


Keenan menggengam kedua tangan Dira. "Aku sudah katakan padamu, kalau aku tidak percaya kalau kamu pelakunya."


"Tapi, Kee memang ak__"


Sebelum Dira menyelesaikan kalimatnya, Keenan sudah membungkam mulutnya dengan bibir seksinya.


"Akulah yang ...."


Kembali Keenan membungkam mulut Dira dengan bibirnya. "Apa kamu masih mau aku cium lagi?"


Dira menggeleng cepat.


"Baguslah. Jadi, berhenti menjelekkan dirimu di depanku!" Keenan mengusap rambut indah istrinya dengan lembut. Kemudian menarik tubuh Dira kedalam dekapannya.


"Kenapa kamu begitu percaya padaku, Kee? Apa kamu tidak takut aku akan memanfaatkan kepercayaanmu?" tanya Dira sembari mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan suaminya.


"Aku percaya kalau kamu tidak akan melakukannya. Seandainya pun itu terjadi, itu karena kemauanku sendiri. Aku yang ingin kamu manfaatkan."


Dira mengeratkan pelukannya, demikian juga Keenan. Laki-laki tampan itu mencium pucuk kepala istrinya tersebut berkali-kali.


Beberapa saat sebelumnya ....


Keenan yang waktu itu kembali ke ruang kerjanya setelah bertengar Arya. Langsung mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. Tangannya masih memegang sapu tangan berisi es batu untuk mengompres luka lebam akibat pukulan yang diberikan oleh sahabatnya. Tepat saat dia hendak meletakkan sapu tangan itu kedalam baskom kecil, tanpa sengaja matanya tertuju pada cincin yang melingakar di jari manisnya. Cincin yang terbuat dari palladium yang merupakan cincin pernikahannya dengan Dira, membuatnya mengingat semua hal yang dilakukan oleh sang istri untuknya. Dia yakin perasaan yang diberikan Dira itu nyata dan bukan rekayasa.


Keenan kembali mengingat perubahan Dira semalam, perubahan itu terjadi setelah istrinya tersebut berbicara dengan sang ibu tiri. Dia yakin kalau ibu tirinya itu sudah mengatakan sesuatu yang membuat sikap istrinya berubah.

__ADS_1


"Shit! Kenapa aku bisa kemakan jebakan tuh nenek sihir!" umpat Keenan. Dia segera bangkit dari tempat duduknya. Keenan bergegas ke luar meninggalkan ruang kerjanya tersebut.


"Kee, kamu mau kemana?" tanya Arya saat melihat sahabatnya itu terburu-buru meninggalkan kantor.


"Aku akan menyelamatkan istriku," jawab Keenan. Arya tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya tersebut.


"Bagus, akhirnya kamu sadar juga." Arya berujar sambil menepuk bahu sang sahabat.


"Ini berkat bogem mentahmu. Awas saja, kalau sampai wajah tampanku ini berkurang gara-gara bogem yang kamu berikan. Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu," desis Keenan yang di sambut tawa renyah oleh Arya.


"Hei, harusnya kamu tuh berterimakasih karena aku sudah menyadarkanmu dari otakmu yang hampir melenceng," jawab Arya. "Ya sudah, aku ikut sama kamu."


"Ar, aku juga ikut!" pinta Alea.


"Kamu pakai mobilmu sendiri. Aku harus secepatnya sampai di kantor Dira sebelum dia kena masalah." Setelah mengatakan itu Keenan meninggalkan perusahaan Wijaya.


Tidak lama setelah Keenan berangkat menuju ke perusahaan Dira, Arya dan Alea ikut menyusul.


"Aku memang belum pernah bertemu dengan almarhumah ibumu, tapi aku yakin, kalau ibumu pasti wanita yang sangat baik."


Kembali Dira mengeratkan pelukannya. "Aku sangat mencintaimu, Kee," ucap Dira sambil kembali mendongak menatap wajah tampan sang suami.


"Aku juga sangat mencintaimu." Keenan kembali mencium pucuk kepala Dira.


'Ehem'


Arya mengeraskan suara dehemannya. "Ya, Tuhan. Tolong segera bukakan pintu hati orang yang aku cintai agar dia bisa menerima dan membalas cintaku. Amin." Arya menengadahkan kedua tangannya kemudian mengusap wajahnya.


"Tuh, Al. Kamu gak mau balas perasaan Arya? Kasihan dia gara-gara nunggu balasan cinta dari kamu, dia jadi bujang lapuk," kelakar Keenan. Dan membuat orang yang ada di ruangan itu tertawa.

__ADS_1


Pada saat itulah, Anita datang. Dia memasang wajah menyesal dihadapan orang yang ada di ruangan itu.


"Dira, maafkan Mama ya. Mama tidak bersamamu saat para wartawan pembuat onar itu datang," ucap Anita.


Keenan melepaskan pelukannya, dengan wajah datar dan tatapan dinginnya, dia berjalan mendekati ibu tiri dari istrinya tersebut dan berhenti tepat di hadapan wanita penuh tipu muslihat tersebut.


"Siapa pun dalang di balik peristiwa ini, aku pasti akan menemukannya." Keenan mengatakan itu dengan memberikan tatapan tajamnya kepada wanita yang baru saja masuk ke ruangan itu.


"I__iya, Nak Kee. Kamu memang harus menemukannya agar dia jera." Anita mengatakan itu dengan sedikit tergagap.


"Pasti," jawab Keenan mantap.


"Ya sudah. M__Ma__Mama kembali ke ruang kerja Mama dulu. Permisi ya semuanya," pamit Anita. Dia segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Kee, kamu benar-benar menantu kurang ajar. Masa ibu tiri sendiri di hardik seperti itu," ucap Arya bergurau.


Keenan kembali mendekati istrinya. Dia menangkup wajah istrinya itu dengan kedua telapak tangannya.


"Sayang. Ingat, jika dia mengancam atau mengatakan hal yang membuatmu sedih. Kamu harus memberitahuku!"


Dira mengangguk. Keenan kembali menarik istrinya itu kedalam pelukannya.


"Al, ayo kita ke luar! Aku tidak mau makin ngenes karena melihat keromantisan mereka!" ajak Arya kepada Alea.


"Sana sana, kalian keluar! Jangan mengganggu kami!" usir Keenan kepada dua orang sahabatnya.


Arya dan Alea segera meninggalkan ruangan itu.


🍂🍂🍂

__ADS_1


yuk, tetap berikan like, komen dan giftnya untuk babag Kee dan Mbak Dira.


🍂🍂🍂


__ADS_2