KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 93


__ADS_3

Dira mulai membuka matanya perlahan, saat ini dia merasa tubuhnya sangat lemah.


"Dimana ini?" tanya Dira dalam hati, dia mulai mengingat kejadian yang terjadi padanya beberapa jam yang lalu.


"Aku ingat kalau ada yang membekapku dari belakang."


Dira kembali berpura-pura menutup matanya saat mendengar langkah kaki memdekat ke arahnya.


"Bagaimana apa dia sudah bangun, Ris?"


"Bukankah itu suara Mama Anita? Jadi, ternyata mereka yang menculikku," batin Dira.


"Belum, Ma. Si Dira benar-benar ngerepotin, kenapa kita nggak langsung habisi dia aja sih Ma?" tanya Riska.


"Kita pasti akan habisi dia, tapi tidak sekarang. Kita harus mengambil alih saham perusahaan atas nama dia dulu, terus kita jual saham itu dan uangnya kita gunakan untuk kabur dari sini dan bersenang-senang." Jawab Anita.


"Memangnya mau dijual kepada siapa saham itu nantinya?" tanya Riska lagi.


"Kebetulan Mama punya kenalan orang asing, dia sudah lama mengincar saham perusahaan itu, kita bisa langsung jual kepadanya setelah mendapat tanda tangan dari anak sialan ini." Anita menjelaskan.


"Mama sudah siapin semua berkas untuk mengalihkan saham perusahaan itu?"


"Semua sudah beres tinggal nunggu dia sadar saja. Begitu dia sadar, kita paksa dia agar mau memberikan tanda tangan itu."


"Kalau dia tidak mau bagaimana?"


"Tenang saja, aku punya cara untuk memaksanya," jawab Anita yakin.


"Baiklah, kita tunggu sampai dia sadar," kembali Riska menimpali.


"Gawat, apa yang harus aku lakukan? terus ini di mana?" Dira kembali membatin.

__ADS_1


"Ma, kenapa kita malah sembunyi di sini sih? Bagaimana kalau persembunyian kita terendus anak dari Rangga Wijaya itu, kan bisa gawat, M?"


"Kamu tenang saja, Ris. Mama sudah memperhitungkannya."


"Tapi tetap saja, Ma. Aku khawatir kalau kita akan cepat ditemukan kalau kita masih bersembunyi di sini." Riska menyampaikan kekhawatirannya.


"Tidak ada yang mengetahui ruangan ini, selain Mama dan Diana. Dulu ini menjadi tempat Mama dan juga Diana untuk menenangkan diri saat Kami punya masalah," jelas Anita lagi.


"Tapi, masa Tuan Hendrawan tidak mengetahui ruangan ini, Ma? Inikan masih di lingkungan perusahaannya?"


"Benar, ini memang di lingkungan perusahaannya. Tapi yang membangun tempat ini adalah aku dan Diana. Jadi, tidak ada yang tahu."


"Jadi, ini masih di lingkungan perusahaan? Aku harus menemukan cara untuk bisa membari tahu Keenan tentang keberadaanku, tapi bagaimana caranya?" Dira yang masih berpura-pura belum siuman masih mencoba untuk berpikir.


"Kapan sih nih orang akan sadar? Aku sudah ingin secepatnya pergi dari tempat ini?" keluh Anita.


"Aku juga, Ma. Aku takut kalau kita masih di sini, Keenan akan cepat menemukan kita. Mama tahu sendiri kan kekuatan dari keluarga Wijaya itu bagaimana?"


"Ya sudah, kita siram saja dia pakai air biar cepat sadar, lalu suruh dia tanda tangan!" seru Anita.


"Gawat! Lebih baik, aku pura sadar saja," bati Dira lagi.


Riska sudah kembali dengan membawa seember air dan siap menyiramkannya ke tubuh Dira. Dan pada saat itulah, Dira berpura-pura menggeliatkan tubuhnya. Dia membuka matanya perlahan.


"Ris, Ma, jadi ini ulah kalian?" Dira mulai bersuara. "Dimana ini?" Dira pura-pura bertanya, padahal dia sudah mendengar obrolan ibu dan anak itu, kalau tempat ini masih dilingkungan perusahaan ATMAJA. Hanya saja dia tidak tahu di posisi sebelah mana ruangan ini berada.


"Tidak usah banyak tanya, jika kamu ingin selamat dan bisa keluar dari tempat ini, maka kamu harus menuruti permintaan kami," ucap Anita.


"Permintaan apa?" tanya Dira lagi, dia kembali berpura-pura seolah dia belum mengetahui rencana mereka.


Anita mengambil beberpa kertas dari dalam tas dan membawanya ke hadapan Dira. Dia menaruh kertas-kertas itu tepat di depan gadis itu. "Kamu tanda tangan di sini!" suruhnya sambil menunjuk sudut paling bawah dari kertas tersebut.

__ADS_1


"Mama, mau mengambil alih saham perusahaan?" tanya Dira. "Tidak! Aku tidak akan sudi untuk menandatanganinya!" tolak Dira kemudian.


"Jadi, kamu tidak mau menanda tanganinya?!" tanya Anita marah. "Kalau kamu tidak mau menandatanganinya, maka kami akan membunuhmu sekarang juga."


"Bunuh saja, kalau kalian membunuhku, kalian tidak akan pernah bisa mendapatkan apa-apa dariku." Dira menjawabnya dengan enteng.


"Aku yakin mereka tidak akan berani membunuhku sekarang." Dira berbicara dalam hati.


"Kamu kira kami takut?" tanya Anita sembari menarik rambut panjang Dira.


"Aw," pekik Dira.


"Dengar ya anak ingusan, jika dulu aku bisa menyingkirkan ibumu tanpa jejak, aku pun bisa melakukan itu kepadamu."


"Apa maksudmu?"


"Kamu ingat ketika ibumu kejang-kejang di depanmu waktu itu? Aku memasukkan racun di dalam makanan yang di makan oleh ibumu."


"Tapi, bukankah menurut dokter tidak ada zat apa pun di dalam sample makanan dan minuman yang ibuku makan?" tanya Dira.


"Karena aku sudah mengganti makanan dan minuman yang diperiksa oleh Dokter. Jadi, semua orang mengira kalau ibumu bunuh diri dengan meminum racun itu sendiri karena depresi. Karena baik di makanan atau di minuman itu tidak ditemukan racun apa pun," jawab Anita dengan senyum smirknya.


Dira mengepalkan tangannya. Dia memang merasa ada yang janggal saat polisi mengatakan hasil penyelidikan mereka.


"Jadi, cepat tanda tangani itu!" sentak Anita. "Atau kamu ingin aku melakukan hal yang sama kepadamu?!" ancamnya.


"Lebih baik aku berpura-pura mau menuruti permintaan mereka sambil mencari cara untuk memberitahu Keenan tentang keberadaanku," batin Dira.


"Cepat tanda tangani itu atau ...."


"Baiklah," jawab Dira sebelum Anita menyelesaikan kalimat ancamannya.

__ADS_1


"Lepaskan ikatan tangannya, Ris!" suruh Anita.


"Baiklah," jawab Riska, dia hendak meletakkan ember berisi air yang dia bawa untuk menyiram Dira. Namun....


__ADS_2