KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 22


__ADS_3

"Maaf ... maafkan aku karena ter ... lambat da ... tang," ucap orang itu dengan napas terengah.


Semua mata yang hadir tertuju pada sosok itu, termasuk Keenan. Dia melangkah mendekati gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa kamu terlambat?" tanya Keenan padanya.


"Ada orang yang sengaja meninggalkan aku saat aku sedang mandi, tanpa uang dan tanpa ponsel. Aku bahkan harus ke tempat ini dengan berjalan kaki, tapi beruntung karena aku bertemu dengan orang baik yang kebetulan juga ingin ke tempat ini," jelas Anindira. Orang yang baru saja datang adalah Anindira.


"Jangan membuat alasan!" bentak Keenan.


"Dia tidak bohong, Kee." Seseorang yang baru saja datang ikut menimpali. "Aku dan Kiara bertemu dengan dia sedang berjalan kaki menuju ke sini," tambahnya.


"Kak Tama," panggil Keenan. Dia langsung memeluk dengan erat kakak laki-lakinya itu. Ternyata orang yang menolong Dira dan memberikan tumpangan kepadanya adalah Tama, kakak laki-laki Keenan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Tama.


"Baik. Kenapa Kak Tama baru datang? Aku bahkan sempat mengira Kakak dan Kak Kia tidak bisa datang di hari pernikahanku ini."


"Mana mungkin Kakak tidak datang di hari pernikahan adikku satu-satunya."


"Jadi kamu tidak menganggapku adik?" sela Mikha yang memasang wajah cemberutnya.


"Oke, aku ralat. Adik laki-lakiku satu-satunya," ralat Tama.


Tama memeluk Keenan dan Mikha sekaligus.


"Kamu jahat, Tam. Kamu dan Kia menghilang selama hampir 6 tahun, bahkan kamu tidak memberi kabar kepada kami semua," protes Mikha.

__ADS_1


"Maafkan, Aku," ucap Tama dia mengusap punggung kedua orang yang ada di pelukannya.


Kini giliran Kiara yang mendekat ke arah mereka. "Kee, selamat ya, akhirnya kamu akan segera menikah. Ingatlah, bahagiakan istrimu," pesan Kiara kepada adik iparnya tersebut.


Keenan menatap sinis ke arah Anindira.


"Tama, Kiara, setelah acara pernikahan Kee dan Dira selesai, Mommy ingin bicara dengan kalian," ujar Bintang.


"Baik, Mom," jawab Tama dan Kiara serentak.


"Dira, Keenan, ayo penghulu sudah menunggu kalian!" seru Bintang kepada anak dan calon menantunya.


Keenan dan Dira duduk di hadapan penghulu yang memang sudah menunggu dari tadi.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Sang Penghulu kepada sepasang calon pengantin dihadapannya.


"Aku siap," jawab Keenan.


"Bisakah aku meminta mahar khusus?"


Jawaban Dira tidak hanya membuat Keenan menatap ke arahnya, tapi juga membuat hampir semua tamu.


"Mahar apa yang kamu inginkan? Emas, berlian, mobil mewah, atau rumah yang sebersar istana?" tanya Keenan.


"Aku tidak menginginkan itu semua," jawab Anindira.


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku hanya minta 25% saham milikmu yang ada di perusahaan ATMAJA GRUP," jawab Anindira mantap.


"Jadi ini tujuanmu menjebakku? benar-benar wanita licik," umpat Keenan dalam hati.


"Jika aku tidak mau, apa yang akan kamu lakukan?" Keenan kembali menatap Anindira sinis.


"Tidak masalah. Tapi, apa seorang putra dari Rangga Wijaya pemilik perusahaan terbesar nomor satu di Asia Tanggara dengan cabang dimana-mana, tidak bisa memenuhi sebuah mahar kecil yang diminta oleh calon istrinya."


Keenan begitu geram, dia tidak dapat menolak permintaan Anindira, apalagi permintaan itu dia katakan di depan umum.


"Baiklah, aku akan berikan mahar sesuai dengan permintaanmu," jawab Keenan. Dia sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Anindira. "Kamu masih ingat dengan ucapankukan? Aku akan membuatmu menderita dalam ikatan pernikahan yang kamu inginkan!" bisik Keenan.


Anindira meremas tangannya sendiri. Sebenarnya, dia sedikit takut dengan ancaman yang diberikan Keenan terhadapnya. Tapi, ini adalah salah satu cara yang harus dia ambil untuk bisa memegang kendali perusahaan milik almarhum ibunya.


"Tidak masalah," jawab Dira kemudian.


Keenan menyuruh Arya untuk memanggilkan pengacara perusahaan dan segera menyiapkan berkas pengalihan saham miliknya yang ada di ATMAJA GRUP menjadi milik Anindira.


Setelah semua urusan pemindahan saham itu selesai, barulah prosesi ijab qabul itu pun di mulai.


"SAH"


Itulah kalimat yang diucapkan para saksi dab tamu undangan setelah putra bungsu dari Rangga Wijaya itu mengucapkan kalimat ijabnya.


"Ayo, Nak. Cium punggung tangan suamimu!" suruh Sang Penghulu.


Dira mentap Keenan sebentar lalu mengambil tangan pria itu dan menciumnya. Keenan pura-pura tersenyum, kemudian mencium kening Dira.

__ADS_1


Anita mengepalkan tangannya, dia benar-benar kesal karena tidak bisa menggagalkan pernikahan putri tirinya itu. Bahkan kini putri tirinya sudah memiliki 35% saham di ATMAJA GRUP. sepuluh persen saham milik ibunya dan dua puluh lima persen saham mahar dari Keenan. Itu artinya saat usia pernikahan Dira dan Keenan 6 bulan, total saham yang dimiliki Dira akan bertambah menjadi 75%. Karena sesuai surat wasiat dari Darmawan, mertuanya, Dira akan mendapatkan 40% saham milik keluarga itu.


"Aku tidak akan membiarkan pernikahanmu bertahan hingga 6 bulan!" batin Anita.


__ADS_2