KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 79


__ADS_3

Sejak kejadian hari itu hubungan Keenan dan Dira tampak semakin harmonis. Seperti malam ini, Keenan sengaja mengajak istrinya itu untuk makan malam romantis di salah satu restoran mewah milik keluarganya.


"Kee, kita kan bisa makan malam di rumah, kenapa harus ke restoran sih?" tanya Dira.


"Tidak apa-apa. Sekali-kali boleh dong aku mengajak istri sendiri makan malam romantis," jawab Keenan.


"Boleh sih, tapi ...."


"Sudah, nggak usah banyak tapi." sahut Keenan sebelum istrinya tersebut kembali berbicara. "Ayo sekarang kita masuk!" ajak Keenan. Dia menyuruh istrinya itu untuk memeluk lengannya.


"Selamat datang, Tuan muda," sambut salah seorang waitress.


"Apa semua sudah sesuai pesananku?" tanya Keenan pada waitress tersebut.


"Sudah, Tuan Muda. Semua sudah sesuai dengan yang Anda minta." Waitress itu kembali menjawab. Dia mempersilakan dua orang di hadapannya untuk mengikuti langkahnya.


"Kee, memang kamu memesan apa?" tanya Dira berbisik.


"Sudah, ayo kita masuk saja," jawab Keenan. Dia membawa istrinya itu menuju restoran yang terletak di lantai paling atas. Saat mereka memasuki tempat itu terbentang karpet merah yang menuju ke sebuah meja.



"Kee, aku tidak sedang berulang tahun. Kenapa kamu memberikan kejutan seperti ini."


"Apa mengajak istri dinner harus menunggu ulang tahun dulu?" tanya Keenan.

__ADS_1


"Enggak juga sih, tapi aneh saja tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba kamu ngajak aku dinner," jawab Dira panjang lebar. "Kamu tidak sedang merencanakan sesuatukan?"


Keenan menyentil kening istrinya. "Dasar kamu ini! Memang apa yang bisa aku rencankan?"


Keenan dan Dira melangkah ke meja yang sudah di sediakan. Begitu sampai, Keenan menarik kursi di hadapannya itu sedikit ke belakang dan mempersilakan istrinya untuk duduk di kursi tersebut.


"Bagaimana kamu suka?" tanya Keenan dengan senyum menawannya.


"Suka," jawab Dira.


"Sebentar." Keenan membisikkan sesuatu kepada waitress yang berdiri di sebelahnya.


"Baik, Tuan," jawab waitress tersebut. Kemudian waitress kemudian menyuruh waitress lain untuk mengambil menu yang sudah Keenan pesan sebelumnya. Semua menu sudah ada di meja makan. Namun, ada salah satu menu spesial yang Keenan berikan kepada Dira.


"Apa ini?" tanya Dira saat Keenan memberikannya sebuah wadah yang masih tertutup rapat.


Dira membuka wadah tersebut, dia terprerangah saat melihat isi wadah itu adalah sebuah kotak berisi cincin.


Keenan berjongkok di hadapan Dira. "Kalau memintamu menikah denganku, kita sudah menikah. Jadi, Dira, maukah kamu menua bersamaku?" tanya Keenan sambil memberikan kotak kecil berisi cincin berlian.



"Kee, ini apa?" tanya Dira.


"Kamu lihatnya apa?" Keenan malah balik tanya.

__ADS_1


"Maksudku, untuk apa cincin itu Kee?"


"Tentu saja untukmu. Dulu aku tidak ikhlas saat Mommy memberikan cincin pernikahan untukmu. Karena aku merasa, kamu bukanlah wanita yang pantas untuk menjadi istriku. Tapi, sekarang, hanya kamulah wanita yang aku inginkan untuk menjadi ibu dari anak-anakku dan menemaniku hingga ajal menjemputku," jawab Keenan.


"Kee, aku mau," jawab Dira di sertai senyum indahnya.


Keenan menyematkan cincin tersebut di jari manis tangan kanan Dira, karena di jari manis tangan kirinya sudah memakai cincin pernikahan mereka.


Keenan kembali duduk di kursinya. "Kamu harus makan yang banyak, karena malam ini aku tidak akan membiarkanmu tidur dengan nyenyak."


Dira hanya menggeleng sembari tersenyum, "Semoga, cintamu terhadapku tidak berubah saat tahu siapa ibu kandungku," batin Dira. Dira belum berani menceritakan soal ibu kandungnya kepada Keenan. Dia masih takut kalau pria yang saat ini sedang makan bersamanya akan meninggalkan dirinya jika tahu mengenai status ibunya.


Malam itu, mereka menghabiskan waktu bersama di hotel.


Di tempat lain, Anita masih berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Dia merasa frustasi karena belum berhasil membuat outri tirinya itu pergi dari perusahaan.


"Sepertinya, aku harus merubah rencanaku. Jika yang aku serang adalah Dira, masih ada anak Wiajaya itu yang akan membantunya. Jadi, satu-satunya cara adalah membuat Keenan pergi menjauh dari anak sialan itu. Tapi, bagaimana caranya?" Anita bermonolog.


Bertepatan dengan itu, ponsel milik Anita berdering.


"Sayang, sabar ya. Aku belum berhasil membuat anak sialan itu keluar dari perusahaan. Jadi, kamu bersabarlah!" jawab Anita pada orang di ujung sana.


Setelah berbincang cukup lama dengan orang di ujung sana, Anita segera menutup telponnya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Maaf baru upπŸ™, akhir-akhir ini kerjaan otor banyak. Sekali lagi maaf ya GaesπŸ™πŸŒΉ


__ADS_2