
Sudah setengah jam mereka berkeliling mencari Qilla, tapi gadis kecil itu belum mereka ketemukan.
"Aduh, Kee. Bagaimana ini? Kita sudah mengelilingi tempat ini, tapi Qilla belum ketemu juga, aku makin mengkhawatirkan keadaan dia," ucap Dira cemas.
"Jangan khawatir. Bukankah kamu bilang kalau Qilla itu cerdas, dia pasti baik-baik saja saat ini." Keenan berusaha untuk menenangkan Dira walau sebenarnya dia lebih mencemaskan gadis kecil itu. Apalagi selama ini Qilla tidak pernah pergi jauh tanpa pengawasan kedua orang tuanya.
"Kita ambil mobil dulu di sekolah, setelah itu kita lanjutkan pencarian kita." Keenan memberikan usulannya.
"Baiklah."
Keenan dan Dira memutuskan untuk kembali ke sekolah. Mereka akan melanjutkan pencarian mereka dengan mengendarai mobil yang tadi mereka parkirkan di halaman sekolah. Begitu sampai di depan sekolah mereka bergegas masuk ke dalam mobil mereka. Namun, ada hal yang janggal yang terjadi dengan mobil mereka. Keenan bisa langsung membuka pintu mobilnya, padahal dia belum menggunakan kunci yang dia pegang.
"Ada apa, Kee?" tanya Dira saat melihat perubahan ekspresi Keenan.
"Kamu lihat inikan?" tanya Keenan.
"Tentu saja lihat, itukan kunci mobilmu," jawab Dira ketus.
"Iya, aku tahu ini kunci mobilku. Tapi yang jadi persoalan adalah kenapa pintu mobil ini bisa terbuka, padahal aku belum menggunakan kunci ini," jelas Keenan.
"Kee, jangan-jangan ada orang yang berniat mencuri mobilmu," sahut Dira.
Keenan dan Dira bergegas masuk ke dalam mobil mereka untuk melihat barang apa yang sudah hilang dari mobil tersebut. Mata mereka langsung berbinar saat pandangan mereka menangkap sesuatu dan sesuatu itu adalah sosok yang mereka cari-cari sejak tadi. Iya, dia adalah Qilla. Gadis kecil itu sedang meringkuk di jok belakang. Dengkuran halus yang keluar dari mulut Qilla menandakan kalau gadis kecil itu sedang tertidur pulas.
Keenan dan Dira sama-sama bernapas lega karena gadis kecil yang sejak tadi mereka cari ternyata sudah berada di dalam mobil. Bahkan dengkuran halus yang mereka dengar menandakan kalau gadis kecil tengah tidur nyenyak.
"Syukurlah, ternyata Qilla tidak hilang. Ternyata dia ada di mobil kita," ucap Dira bahagia.
"Iya, aku sangat bahagia karena Qilla baik-baik saja. Tapi yang jadi pertanyaan bagaimana Qilla bisa masuk ke dalam mobil kalau kuncinya saja masih berada di tanganku." Keenan menatap kunci di tangannya.
"Sudahlah, kita bisa tanyakan itu nanti saat Qilla bangun. Yang terpenting sekarang adalah Qilla baik-baik saja dan dia tidak hilang." Dira mengucapkan itu sembari tersenyum.
"Kamu benar. Yang paling penting Qilla tidak apa-apa dan sekarang dia sedang tertidur pulas," jawab Keenan. Dia menarik satu tangan Dira dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, karena aku sering kali tidak tegas soal Anjani," ucap Keenan. Dia menatap netra indah Dira.
"Sudahlah, jangan bicarakan dia lagi. Aku juga minta maaf karena tadi aku menyuruh Erik untuk menemuiku. Kamu tahu kan kenapa tadi aku melakukan itu? Jujur, aku selalu kesal tiap ada Anjani."
"Kenapa?"
"Karena tiap dia hadir, kamu selalu melupakan aku." Ada rasa sedih yang Keenan tangkap dari jawaban Dira barusan.
Keenan menggenggam tangan Dira. "Maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi," ucap Keenan, dia menatap netra indah Dira dan mencium punggung tangan istrinya itu.
"Tapi aku merasa ada hal yang berbeda dari Anjani. Dia seperti tertekan dan ...."
Keenan tidak melanjutkan perkataannya saat melihat perubahan dari raut wajah Dira.
"Sayang, dengarkan aku. Anjani dulu bukan orang yang seperti itu. Dia tidak akan mengejar orang yang dia tidak suka."
"Mungkin saja sekarang dia menyukaimu," celetuk Dira.
"Sudahlah ya, aku sedang malas jika harus membahas soal Anjani." Dira memilih memalingkan wajahnya dari Keenan.
Keenan menghela napasnya. Kemudian dia memilih untuk menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya meninggalkan halaman sekolah Qilla.
"Kita mau mengantar Qilla ke rumahnya atau membawanya bersama kita dulu?" tanya Keenan.
"Kamu tanyakan dulu sama Kak Mikha dan Kak Dion, mereka sudah berada di rumah apa belum? Jangan sampai kita nganterin Qilla pulang, ternyata kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah kan kasihan Qillanya," jawab Dira.
"Aku hubungi Kak Mikha dan Kak Dion dulu ya." Keenan memasang headset di telinganya kemudian dia menghubungi kakak dan kakak iparnya bergantian.
"Bagaimana?" tanya Dira saat Keenan selesai menelpon kedua kakaknya tersebut.
"Kak Mikha masih ada pasien, sementara Kak Dion ada masih meeting dengan client-nya," jawab Keenan.
"Kalau begitu, bawa saja Qilla ke rumah. Kasihan kalau dia harus di tinggal sendirian di rumahnya."
__ADS_1
Keenan mengangguk. Dia melajukan mobilnya menuju ke rumah orang tua Dira. Saat memasuki gerbang rumah Dira, Keenan melihat orang yang dia kenal baru saja ke luar dari dalam rumah.
"Ra, apa kamu kenal dengan orang yang baru saja ke luar itu?" tanya Keenan sembari menunjuk ke arah orang yang baru saja meninggalkan rumah tersebut.
"Entahlah, aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Mungkin kenalan ibu tiriku," jawab Dira.
Keenan turun terlebih dulu dari mobil, dia meminta Dira membukakan pintu belakang mobilnya agar bisa menggendong keponakannya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Setelah meletakkan Qilla di tempat tidur, Keenan segera mengirim pesan kepada Arya untuk mengawasi seseorang. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas setelah Arya membalas pesannya.
"Apa kehadiran orang itu di rumah ini ada hubungannya dengan kepulangan dan perubahan sikap Anjani? Apa ibu tirinya Dira terlibat dengan semua ini?" Keenan menerka-nerka dalam hati. Lamunan Keenan buyar saat melihat Dira yang baru saja ke luar dari kamar mandi hanya berbalut handuk. Dan lagi-lagi si jeri harus menegang gara-gara melihat paha mulus istrinya yang terekspose.
Keenan menghampiri Dira yang sedang memilih baju di depan lemari.
"Apa kamu sengaja menggodaku?" Pertanyaan Keenan membuat Dira terperanjat, apalagi Keenan sudah memeluk pinggangnya.
"Siapa yang menggodamu, aku memang tidak tahan jika harus memakai pakaian yang sudah kena banyak keringat."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar," jawab Dira.
"Kee, ini masih siang lho. Selain itu di sini juga ada Qilla," tegur Dira saat tangab Keenan mulai berkeliaran.
"Qilla masih tidur. Dan biasanya dia kalau tidur lama," jawab Keenan. "Aku menginginkanmu," bisik Keenan.
"Kee... "
Dira memejamkan matanya saat Keenan mulai mencumbunya. Namun, cumbuan itu berhenti saat Qilla terbangun.
🍂🍂🍂
Berikan like, komen dan giftnya untuk Babang Kee dan Mbak Dira. Terimakasih ❤️
__ADS_1