KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 97


__ADS_3

Dengan tangan yang masih terikat, Dira segera pergi menjauhi ruangan itu. Saat itulah matanya melihat kearah lift, dia pun berajalan mendekati lift itu dan berusaha untuk membuka pintunya. Akhirnya, setelah berkali-kali berusaha pintu itu pun terbuka. Dira segera masuk ke dalam lift itu dan pada saat itulah tanpa sengaja dia menabrak tubuh seseorang.


Dira begitu bahagia saat melihat sosok yang dia tabrak barusan. Perasaan cemas, khawatir dan juga takut langsung sirna begitu saja. Dia segera menghambur ke dalam pelukan orang itu, meskipun dengan sedikit kesulitan karena kedua tangannya masih terikat.


"Kee, aku sangat senang karena akhirnya kamu menemukanku," ucap Dira saat berada dipelukan Keenan.


Iya, orang yang di tabrak Dira barusan adalah Keenan, suaminya.


"Maafkan aku ya, Sayang. Karena aku terlambat menukanmu. Kamu tidak apa-apakan?" tanya Keenan cemas. Dia memeriksa tubuh istrinya.


"Aku tidak apa-apa, Mas," jawab Dira. "Oiya, bagaimana keadaan papa? Kita harus menyelamatkan papa sekarang!"


"Sayang, Sayang, kamu tenanglah!" Keenan memegang kedua bahu Dira dan menatap netra indahnya. "Papa baik-baik saja, jadi kamu jangan mencemaskan papa lagi."


"Syukurlah," ucap Dira. Dia merasa sangat lega mendengarnya. Keenan melepaskan ikatan tangan istrinya.


"Sekarang dimana orang-orang itu?" tanya Keenan.


"Mereka aku kunci di ruang direktur." Dira memberikan jawabannya."


Keenan mengambil ponselnya. Dan terdengar jelas kalau dia menyuruh petugas keamanan untuk menangkap Anita dan yang lainnya. Tidak lama berselang 6 orang security sudah tiba di hadapan Keenan.


"Mereka ada di ruangan direktur, segera tangkap mereka. Jangan sampai mereka semua lolos!" serunya pada petugas keamanan tersebut.


"Siap, Tuan," jawab salah satu dari mereka. Dia adalah pimpinan dari para petugas itu. Setelah memberikan arahan kepada anggotanya, para petugas keamanan tersebut langsung menuju ke ruang direktur. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, ketiga orang itu pun akhirnya berhasil di tangkap.


"Lepas! Lepaskan aku!" teriak Anita, dia terus meronta berharap untuk di lepaskan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Riska dan Susi. Mereka terus berteriak dan meronta meminta untuk di lepaskan.


"Tunggu!" Dira menghentikan langkah semua petugas keamanan itu. Dia berdiri tepat di depan Anita.

__ADS_1


"Aku pernah memberimu kesempatan sekali untuk bisa hidup dengan baik, tanpa mengganggu keluargaku. Tapi kamu tidak mengindahkannya. Jadi, bersiaplah menerima hukuman kalian di penjara. Aku juga akan membuka kembali kasus tentang kematian almarhum ibuku dan kali ini, aku tidak akan melepaskanmu," ucap Dira sinis.


"Serahkan mereka ke kantor polisi! Akan ada orangku yang menunggu kalian di sana!" titah Keenan kepada para petugas keamanan tersebut.


"Baik, Tuan." Orang-orang itu segera membawa Anita dan yang lainnya ke kantor polisi.


"Papa?"


"Papa baik-baik saja, Erik sudah mengurusnya," jawab Keenan. Dia paham dengan kekhawatiran Dira tentang papanya.


"Aku sangat lega, karena semua bisa terselesaikan dengan baik," ucap Dira, dia menarik napas kemudian menghembuskannya.


"Ayo kita pulang sekarang! Aku yakin, papa juga mengkhawatirkan keadaanmu!" ajak Keenan.


Dira menjawabnya dengn anggukan. Keenan segera membawa istrinya itu kembali ke rumah.


Satu bulan kemudian ....


Pagi itu sebelum berangkat ke perusahaan, seperti hari-hari sebelumya, mereka mengawali kegiatan mereka dengan sarapan bersama.


"Nak, sepertinya kalian harus melakukan honymoon."


Ucapan Hendrawan sontak membuat Dira dan Keenan terbatuk. Keduanya saling tatap sambil melempar senyum.


"Kenapa Papa jadi membicarakan hal itu?" tanya Dira dengan wajah bersemu merah.


"Sejak kalian menikah, kalian berdua di sibukkan dengan urusan perusahaan. Papa rasa kalian membutuhkan waktu untuk liburan berdua. Melepaskan pikiran kalian dari pekerjaan," jawab Hendrawan panjang lebar.


Keadaan Hendrawan saat ini sudah kembali sempurna, dia sudah bisa berjalan seperti sedia kala. Bahkan sudah beberapa hari ini dia sudah membantu putrinya di perusahaan.

__ADS_1


"Itu hanya soal waktu saja, Pa," tukas Dira.


"Papa tahu itu soal waktu, tapi apa salahnya kalian berbulan madu. Siapa tahu dengan berbulan madu waktu papa untuk menunggu kehadiran cucu dari kalian bisa sedikit di percepat," kembali Hemdrawan berujar.


"Aku akan lihat jadwalku dulu," ucap Dira.


"Papa bisa menggantikanmu sementara kalau kalian memang ingin berbulan madu," sahut Hendrawan. "Dan Papa rasa kalian memang membutuhkan itu."


Hendrawan menatap putri dan menantunya bergantian.


"Baik, Pa. Kami akan melakukan itu segera," jawab Keenan.


Usai sarapan Keenan dan Dira kembali ke kamar untuk mengambil tas kerja mereka.


"Sayang, sepertinya perkataan papa tadi ada benarnya. Kita membutuhkan honeymoon untuk mempercepat proses pembuatan Keenan junior," ucap Keenan saat mereka berada di dalam kamar.


"Nanti aku lihat jadwalku ya, Mas," ucap Dira. Tangannya sibuk merapihkan berkas-berkas yang ada di atas meja.


"Pastikan kamu mengosongkan jadwalmu akhir pekan ini. Aku ingin kita melakukan perjalanan honeymoon akhir pekan ini. Aku yang akan mempersiapkan semuanya," bisik Keenan di telinga Dira. Dia memeluk istrinya itu dari belakang sambil sesekali mencium ceruk leher sang istri.


"Mas, kita harus berangkat ke perusahaan sekarang, pagi ini aku ada meeting." Dira melepaskan pelukan suaminya.


"Baiklah, kita lanjutkan kegiatan kita barusan nanti malam sambil membicarakan tentang honeymoon kita," ucap Keenan.


Dira mengangguk kemudian mencium bibir suaminya itu sekilas. "Ayo kita berangkat ke kantor sekarang!" ajak Dira.


"Baiklah. Tapi, ingat nanti malam aku tidak akan mengampunimu," jawab Keenan. Dia juga membalas ciuman bibir istrinya itu. Dira tersenyum kemudian kembali mengangguk.


Mereka pun berangkat ke perusahaan bersama-sama, sama seperti hari-hari sebelumnya. Keenan akan mengantarkan Dira terlebih dulu sebelum dirinya berangkat ke perusahaan Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2