KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 108


__ADS_3

Saat ini Keenan dan Dira sudah kembali ke rumah. Setelah membersihkan diri keduanya kini duduk di bangku yang terbuat dari bambu yang berada di teras rumah. Keduanya menikmati suasana malam sambil bercengkrama dengan ditemani secangkir teh manis dan pisang goreng pemberian istri Pak Karjo.


"Neng, Aden, maaf ya, kalau ibu cuma bisa nyediain pisang goreng dan teh buat Neng Aden," ucap isrri Pak Karjo ramah. "Dan ibu juga minta maaf karena baru sekarang baru bisa menemui Neng dan Aden."


"Kok Ibu sih yang minta maaf, harusnya kan aku dan suamiku yang minta maaf sama ibu dan Pak Karjo karena selama di sini kami selalu merepotkan kalian," jawab Dira.


"Ya enggaklah, Neng. Ibu dan Pak Karjo kan memang di gaji selain untuk menjaga dan bersih-bersih di rumah ini, juga untuk membantu Neng dan Aden selama di sini," ujar istri Pak Karjo lagi.


"Sekali lagi makasih ya Bu, Pak," ucap Dira.


"Sama-sama, Neng." Jawab istri Pak Karjo. "Kami mau pamit pulang dulu Neng, Aden. Besok pagi kami akan kembali ke sini."


"Permisi, Den, Neng," pamit Pak Karjo.


Pak Karjo dan istrinya beranjak meninggalkan rumah tersebut.


"Mas, rencanya kapan kita akan balik lagi ke kota?" tanya Dira. Dia mengambil cangkir berisi teh yang ada di atas meja kemudian menyesapnya perlahan.

__ADS_1


"Baru juga sehari, kenapa sudah ingin pulang? Aku masih ingin berlama-lama denganmu, menghabiskan waktu berdua di sini," jawab Keenan.


"Aku hanya sedikit mengkhawatirkan keadaan papa. Beliau baru saja sembuh dari stroke-nya dan harus langsung menangani urusan perusahaan, aku takut papa kelelahan dan kesehatannya kembali bermasalah," jawab Dira.


"Aku paham dengan kekhawatiranmu, tenang saja aku akan menyuruh orang untuk membantu perkerjaan papa di perusahaanmu." Keenan mengucapkan itu sambil mengusap punggung tangan istrinya lembut.


"Terimakasih, ya Mas."


Keenan hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. Samar-samar, Keenan melihat mobil yang sejak pagi mengikuti mereka berada diantara pepohonan yang tidak jauh dari rumah itu.


Keenan melihat layar ponselnya untuk menanti kabar dari Arya dan Erik. Tadi siang, diam-diam Keenan menyuruh Arya dan Erik untuk menyelidiki pemilik mobil yang menguntitnya. Dia tidak ingin keselamatan Dira terancam, kalau benar orang itu adalah orang suruhan Anita. Dan pada saat yang bersamaan, pesan dari Arya pun masuk. Keenan segera membaca pesan yang di kirimkan oleh sahabat sekaligus orang kepercayaannya.


... [Kee, pemilik mobil itu bernama Roni. Dan dia tidak ada hubungan apa pun sama Anita. Aku juga sudah menyelidiki semua nomor yang berhubungan dengan Anita. Tapi, aku tidak menemukan ada yang mencurigakan] ~ Itulah bunyi pesan yang Arya kirim....


"Jika dia bukan orang suruhan Anita, lalu siapa dia? kenapa dia terus mengikuti kami?" batin Keenan.


"Mas, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Dira saat melihat Keenan terdiam.

__ADS_1


"Tidak ada," jawab Keenan dengan senyum tersungging dari bibirnya. "Ayo kita masuk, di luar udaranya dingin!" ajak Keenan, dia tidak ingin Dira takut dengan keberadaan penguntit itu.


Meskipun Dira merasa ada sesuatu yang suaminya sembunyikan, dia memilih untuk tidak bertanya.


"Aku bereskan ini dulu," ucap Dira. Dia membawa cangkir bekas teh yang ada di atas meja, dan membawa piring yang masih ada tiga potong pisang goreng di atasnya untuk di bawa masuk ke dalam rumah.


Keenan masih berdiri di luar untuk kembali memastikan keberadaan mobil penguntit itu. Dan mobil itu sudah tidak ada di tempatnya semula. Saat Keenan sedang memikirkan keberadaan mobil penguntit itu, tiba-tiba dia mendengar bunyi benda terjatuh serta teriakan meminta tolong dari dalam rumah.


...🍂🍂🍂...


...BERIKAN LIKE, KOMEN DAN GIFTNYA UNTUK BABANG KEE DAN MBAK DIRA....


...TERIMAKASIH...


...🌷🌷...


...💙...

__ADS_1


__ADS_2