
Dira duduk di tepi ranjang kamarnya, dia memikirkan semua perkataan ibu tirinya barusan. Rasanya bohong, jika dia tidak terpengaruh dengan semua yang di ucapkan oleh Anita. Apalagi, sejak pulang dari kafe sikap Keenan berubah.
Dira mengambil foto pernikahannya dengan Keenan yang terpajang di atas meja yang berada di samping tempat tidur. "Kee, apa benar kamu akan kembali dengan Anjani? Apa pernyataan cinta yang kamu ucapkan padaku waktu itu bohong?" Dira mengusap foto di tangannya kemudian kembali meletakkan foto tersebut ke tempat semula. Kini Dira beralih ke laci dan mengambil foto ibunya.
"Ma, maafkan aku karena mungkin aku tidak akan bisa membalaskan dendam untukmu. Mungkin sebentar lagi, aku akan kehilangan warisan dari kakek yang bahkan warisan itu belum sampai ketanganku," ujar Dira. "Ma, mungkinkah ini hukuman karena aku berusaha menghalalkan segala cara untuk bisa mengambil alih perusahaan? Aku bahkan menggunakan cara rendahan untuk membuat Keenan mau menikah denganku?" Dira meremas dadanya yang terasa sesak dan tanpa sadar cairan bening jatuh membasahi kedua pipinya.
Ceklek.
Dira segera mengusap air matanya ketika ada orang yang masuk ke kamarnya. Dan orang itu adalah Hendrawan.
"Ada apa Papa kemari?" tanya Dira ketus. Satu sisi Dira memang kasihan melihat kondisi ayahnya yang lumpuh, tapi di sisi lain dia masih membenci ayahnya yang tega menghianati ibunya. Meskipun begitu, Dira tidak pernah menunjukkan kebencian dia terhadap ayahnya di depan semua orang.
Dengan bersusah payah pria paruh baya yang duduk di atas kursi roda itu mendekati Dira. Dengan tangan bergetar pria itu menulis sesuatu di atas papan yang memang sering dia bawa untuk bisa berkomunikasi dengan semua penghuni rumah, terutama suster yang merawatnya karena selama ini dia memang jarang berkomunikasi dengan siapa pun termasuk Dira, putrinya sendiri. Hubungan Hendrawan dengan Dira memang sudah renggang sejak anak perempuan di hadapan Hendrawan ini memergoki dirinya berselingkuh.
Hendrawan memperlihatkan tulisan yang dia tulis di papan.
__ADS_1
'Jangan hiraukan perkataan mama tirimu. Keenan anak yang baik dia tidak mungkin melakukan hal yang bisa menyakitimu.'
"Simpan saja kata-kata itu, aku tidak membutuhkan kata-kata itu dari Papa," ujar Dira.
Kembali Hendrawan menulis sesuatu di atas papan dan memperlihatkannya kembali pada putri cantiknya tersebut.
'Nak, Papa bisa melihat cinta dari mata suamimu. Jadi, jangan ragukan dia. Apa pun yang dia lakukan saat ini pasti itu dia lakukan untuk membantumu. Percayalah!'
Dira hanya tersenyum masam menatap tulisan tersebut.
'Ingat perkataan Papa, kalau Kee tidak akan pernah meninggalkanmu seperti ucapan mama tirimu tadi.'
***
Pukul 11 malam Keenan baru kembali ke rumah orang tua Dira. Setelah memarkirkan mobilnya, Keenan langsung masuk ke dalam rumah. Keenan terkesiap saat melihat ayah mertuanya sudah menunggunya di balik pintu yang baru saja dia buka.
__ADS_1
"Papa, kenapa Papa belum tidur. Ini kan sudah malam?" tanya Keenan.
Hendrawan menulis sesuatu di papan kecil yang selalu dia bawa.
'Kamu dari mana?'
"Aku ada sesuatu yang harus aku kerjakan, Pa."
'Apa itu? Kenapa kamu tidak memberi kabar pada Dira? Dia sangat mengkhawatirkanmu.' Apa lagi tadi Anita mengatakan sesuatu yang yang berhubungan denganmu, dan itu membuat dia menjadi sedih."
Keenan terdiam, dia tampak bepikir setelah membaca kata demi kata yang di tulis oleh ayah mertuanya.
"Jangan khawatir, Pa. Aku akan bicara dengannya." jawab Keenan, setelah mengatakan itu Keenan berpamitan untuk masuk ke kamarnya.
Keenan melihat Dira yang sudah tertidur di atas ranjang. Dia berniat untuk mandi terlebih dulu sebelum memutuskan untuk menyusul istrinya itu tidur. Namun, ketika hendak melangkah masuk ke dalam kamar mandi tiba-tiba ....
__ADS_1
🍂🍂🍂
Maaf ya telat update🙏 padahal sudah janji😢. Tetap kasih like, komen dan kasih giftnya. Terima kasih🌹