
"Apa Anda sudah berubah pikiran dan mau__"
Anjani tidak melanjutkan perkataannya saat tahu yang menghubunginya adalah orang lain.
"Janiiii, kenapa kembali ke Indonesia tidak mengabariku?" teriak seseorang dari ujung sana. Anjani sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. Dia sudah hapal pemilik suara cempreng di ujung sana, dialah Alea.
"Aduh, Ale. Plis deh jangan suka teriak! Telingaku nggak budeg, tahu!" gerutu Anjani.
"Sorry, sorry. Saking senengnya kamu balik aku jadi teriak, maafin aku ya Jani," ucap Alea.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Anjani.
"Oiya, tadi kamu sedang berbicara dengan siapa? Siapa yang sudah berubah pikiran? Dan mau apa?" cerocos Alea ingin tahu.
"Apa aku cerita saja sama Alea tentang hal yang menimpa papaku?" batin Anjani.
"Jani, kami masih di sanakan?" panggil Alea dari ujung telpon.
"Iya, Ale."
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu saat ini?" tanya Alea lagi.
"Aku.... "
"Kalau kamu punya masalah cerita saja padaku, aku tunggu kamu di tempat biasa." Alea mengakhiri panggilannya.
"Pak, kita ke kafe di Jalan Melati," seru Anjani kepada pengemudi taksi. Setelah itu dia kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas.
Anjani menghela napas seraya memejamkan matanya. Pikirannya begitu kalut, antara membebaskan papanya yang berada di penjara atau menghancurkan rumah tangga orang yang tidak berdosa.
"Andai aku memiliki uang 100 juta untuk membayar hutang papa, aku pasti tidak perlu melakukan perbuatan serendah tadi dan tidak melukai perasaan orang lain." Anjani kembali bersandar pada sandaran jok yang ia dudukki.
Taksi yang Anjani tumpangi berhenti ketika sudah sampai di depan sebuah kafe, setelah membayar, Anjani segera turun dari taksi yang ia tumpangi. Dia berjalan masuk ke kafe di tempat Alea sudah menunggunya. Begitu masuk, Anjani mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan temannya tersebut. Dia tersenyum saat melihat Alea melambaikan tangan kepadanya, dia pun segera menuju ke k tempat sahabatnya itu duduk.
"Jani, apa kabar?" tanya Alea seraya memeluk sahabat yang sudah satu tahun tidak bertemu itu.
"Aku baik, Al," jawab Anjani. "Kamu sendiri apa kabar?"
"Aku juga baik. Ayo duduk!" jawab Alea seraya mempersilakan sahabatnya itu untuk duduk.
Anjani menarik kursi yang ada di depan Alea kemudian duduk di kursi tersebut.
"Kamu pesan minuman apa?" tanya Alea menawarkan.
"Apa saja," jawab Anjani.
Alea memesan dua strowberry milkshake dan kentang goreng sebagai teman ngobrol mereka.
"Jani, ada apa? Kenapa kamu terlihat seperti memikirkan sesuatu?" tanya Alea saat melihat sahabatnya itu terlihat murung.
"Al, aku ...."
"Maaf, Mbak ini minumannya." Pelayan kafe meletakkan minuman dan camilan yang tadi Alea pesan.
Bersamaan dengan itu sebuah pesan masuk ke ponsel Anjani. Dia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kemudian membaca pesan yang masuk ke ponselnya tersebut.
Anjani menggenggam ponsel itu dengan sangat kuat setelah membaca pesan tersebut.
"Terima kasih, Mbak," ucap Alea kepada pelayan tersebut.
"Jani, ada apa?" tanya Alea saat melihat sahabatnya itu seperti sedang mencari sesuatu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," jawab Anjani.
"Ternyata dia terus mengawasi gerak gerikku, bagaimana aku bisa menceritakan masalahku pada Alea?" batin Anjani.
"Benar kamu tidak kenapa-napa?" tanya Alea lagi.
"Ti... tidak, aku tidak apa-apa, Al," jawab Anjani.
"Tapi kamu seperti sedang memikirkan sesuatu. Jani, cerita saja kepadaku! Siapa tahu aku bisa memberikanmu solusi." Alea menggenggam tangan Anjani.
"Terima kasih, Al. Aku tidak apa-apa kok," jawab Anjani. "Al, aku langsung pulang ya. Aku baru ingat ternyata aku ada urusan mendadak," pamit Anjani kepada sahabatnya tersebut.
"Lho kok tiba-tiba?"
"Lain kali, kita ketemuan lagi. Oke. Bye Ale."
Anjani bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan Alea. Alea menghela napasnya, dia mengirim pesan kepada Arya kalau dia gagal mendapat informasi apa pun dari Anjani.
*****
Keenan dan Dira membawa keponakannya itu makan di salah satu restoran milik Wijaya Grup. Ketiganya memilih tempat duduk yang berada di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar restoran.
"Qilla mau makan apa sayang?" tanya Keenan kepada keponakannya yang duduk di sebelah Dira.
"Aku mau pizza yang besar Uncle," jawab Qilla seraya menggerakkan tangannya membentuk sebuah lingkaran.
"Baiklah, nanti Uncle pesan pizza terbesar untuk Qilla."
"Terima kasih, Uncle," ucap Qilla.
"Kamu mau makan apa?" tanya Keenan tanpa menatap Dira, dia berpura-pura melihat buku menu di hadapannya.
"Kamu bertanya padaku?"
"Aku kira di matamu hanya ada si Jani."
Keenan menatap tajam ke arah Dira.
"Maaf, aku salah bicara." Dira menampakkan deretan gigi putihnya di hadapan Keenan.
"Pesan makananmu sendiri," ucap Keenan ketus. Dia merasa kesal karena Dira menyinggung soal Anjani.
"Aku tidak lapar," Dira menyilangkan kedua tangannya.
"Ya sudah kalau kamu tidak lapar, berarti aku tidak perlu memesankan makanan untukmu," jawab Keenan.
Dira bangun dan menghentakkan kedua kakinya di atas lantai, dia begitu kesal karena Keenan tidak peka dengan perasaannya saat ini.
"Tante baik, Tante mau kemana?" tanya Qilla saat melihat Dira hendak beranjak dari tempatnya duduk.
"Qilla sayang, Tante akan menunggu Qilla di luar."
"Tante tidak ikut makan?" tanya Qilla lagi.
"Qilla, Tante baiknya tidak lapar, makanya dia tidak mau makan." Justru Keenan yang menjawab pertanyaan Qilla. "Aku benarkan?" Keenan tersenyum menatap Dira.
"Iya, kamu benar. Aku sudah kenyang bahkan sangat kenyang, apalagi setelah melihat adegan di kantormu tadi bikin perutku mau muntah." Setelah mengatakan itu Dira keluar dari restoran tersebut.
Keenan menghela napas panjangnya, dia menatap punggung Dira yang semakin menjauh.
"Qilla makanlah!" suruh Keenan kepada keponakannya saat makanan pesanan mereka sudah datang.
__ADS_1
"Tapi Uncle, Tante baik.... "
"Tante bilang dia sudah kenyang, jadi Qilla jangan khawatirin Tante baik lagi. Qilla makan saja!" seru Keenan. Dia mengusap rambut keponakannya.
Qilla akhirnya menuruti perintah pamannya. Dia mulai memakan pizza yang dia pesan.
Sementara di luar restoran, Dira merutuki kebodohannya yang mangatakan kalau dirinya sudah kenyang. Padahal perutnya saat ini sedang berdemo minta untuk di isi.
Dira menatap orang-orang yang sedang menikmati makanan mereka dari jendela. "Kenapa tadi aku harus bilang sudah kenyang sih? Dasar Dira, kamu bodoh, bodoh, bodoh."
Dira melihat isi di dalam dompetnya yang ternyata hanya menyisakan uang sepuluh ribu rupiah.
"Bisa beli apa uang segini?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil menatap uang sepuluh ribu di tangannya. "Mana di sini tidak ada pedagang kaki lima lagi. Ah, dasar Dira bodoh." Lagi-lagi Dira merasa kesal karena kebodohan yang dia lakukan.
"Ehem."
Suara deheman seseorang memaksa Dira untuk kembali bersikap jaim.
"Kalian sudah selesai makannya?" tanya Dira yang berpura-pura tersenyum.
"Sudah Tante," jawab Qilla.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Dira.
"Aku mau pulang Tante, takutnya kalau kemaleman Qilla di marahi sama Daddy," jawab Qilla.
"Kita antar Qilla pulang dulu, setelah itu baru kita pulang ke rumahmu," ucap Keenan.
Keenan menggandeng tangan keponakannya dan berjalan mendahului Dira.
"Sabar ya." Dira mengusap perutnya yang sedang berdemo. Kemudian dia mengikuti langkah dua orang yang sudah berajalan di depannya lebih dulu.
Setelah mengantarkan Qilla pulang ke rumah orang tuanya, Keenan kembali melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah. Namun di tengah perjalanan tiba-tiba Keenan menepikan mobilnya. Dia menyuruh Dira untuk duduk di jok depan di sebelahnya.
"Cepat pindah ke depan, aku tidak mau dikira sopirmu!" titah Keenan.
"Iya, aku pindah," jawab Dira. Mau tidak mau Dira menuruti perintah laki-laki yang sering dia sebut dengan sebutan si galak.
Saat Dira sudah duduk di sebelahnya, Keenan memberikan sebuah tas kecil kepadanya.
"Apa ini?" tanya Dira.
"Entahlah, tadi Qilla yang menyuruhku memberikannya padamu," jawab Keenan.
Dira menerima tas itu dari tangan Keenan. Dia tersenyum ketika melihat isi tas itu adalah makanan. Dengan cepat dia melahap makanan tersebut karena memang sedari tadi cacing-cacing di perutnya sudah berdemo.
Keenan tersenyum. Dia begitu senang saat melihat Dira menikmati makanan yang ia berikan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dira ketika melihat Keenan terus menatapnya.
"Makan saja seperti anak kecil," jawab Keenan. Dia mengelap sudut bibir Dira yang belepotan menggunakan ibu jari.
"Apa masih ada yang kotor?" tanya Dira lagi.
"Diamlah, biar aku yang membersihkannya!" suruh Keenan. Dia terus mengusap bibir Dira dengan ibu jarinya.
"Kee."
Dira kembali diam saat Keenan memberinya isyarat kepadanya untuk diam. Jantung Dira semakin berdetak kencang saat wajah Keenan terus mendekat ke arahnya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Jangan lupa berikan like, komen dan giftnya ya. Salam sayang dari otor ter--KECEH 🌹