KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
BAB 83


__ADS_3

Keesokan paginya....


Tok


Tok


Tok


"Ris, kamu jadi ikut kerja nggak ke perusahaanku?" tanya Dira yang berdiri di depan pintu sambil terus mengetok pintu.


Riska yang masih lelap dalam tidurnya pun terbangun. Dia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Kenapa badanku sakit ya? Aku seperti tidur dalam posisi yang sama dalam waktu yang lama. Apa aku terlalu lelah?" Riska membatin. Tiba-tiba dia ingat dengan rencanya semalam. "Kenapa aku bisa ketiduran sih, gagal deh rencana yang sudah aku susun rapi." Namun, suara ketukan pintu tidak bisa membuat Riska harus segera bangun.


Ceklekkk. Suara daun pintu yang mulai di buka oleh Riska. "Ada apa, Ra?" tanya Riska.


"Kamu jadikan mulai kerja di perusahaanku hari ini?" tanya Dira.


"Tentu saja jadi," jawab Riska.


"Ya, sudah buruan mandi gih! Aku sama Kee sebentar lagi sudah mau berangkat. Kalau kamu tidak cepat, terpaksa kami akan meninggalkanmu." Dira memberikan seruannya kepada Riska.


"Iya, Ra. Aku mandi sekarang," jawab Riska. "Dira." Panggil Riska saat Dira hendak beranjak dari hadapannya.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?" tanya Dira.


"E... semalam, semalam Kee ... mak__maksudku ... suamimu tidur di mana?" tanya Riska penasaran.


Dira memicingkan matanya menatap temannya, Riska.


"Pertanyaan kamu aneh, Ris."


"Bu__bukan begitu, hanya saja ...."

__ADS_1


"Tentu saja Kee tidur di kamarku, bersamaku. Memang kamu pikir dia bakalan tidur di mana?" sela Dira.


"Tidak aku ...."


"Kamu ini bener-bener aneh, Ris. Kamu menanyakan suamiku tidur di mana seolah-olah bakalan ada sesuatu yang bikin dia tidur sama orang lain." Dira mengatakan itu sambil memberikan tatapan tajamnya kepada Riska. "Apa kamu merencanakan sesuatu?"


Gleg. Riska merasa sedikit ketakutan karena merasa rencananya di ketahui oleh Dira. "Aku ... aku ...."


"Aku percaya kamu tidak akan melakukan apa pun karena kamu adalah temanku." Dira mengatakan itu sambil menyentuh bahu Riska dan tersenyum.


"Iya, aku tidak akan mungkin melakukan hal yang bisa merusak rumah tanggamu," sahut Riska di sertai senyum palsunya. Dia merasa lega karena Dira tidak curiga padanya.


"Ya, sudah. Kamu buruan mandi, sarapan terus ikut aku ke perusahaan!" seru Dira lagi.


"Iya, Ra. Makasih ya karena kamu sudah mau ngasih aku pekerjaan," ucap Riska.


"Sama-sama." Dira tersenyum kemudian melangkah dari depan kamar Riska dan menuju ke kamarnya.


"Aneh. Perasaan aku sudah masukin obat tidur ke minumannya Dira dan Keenan. Kenapa malah aku yang ketiduran? Apa aku salah masukin obat ya?" Riska menerka-nerka apa yang terjadi. "Sudahlah. Lebih baik aku mandi dulu. Kalau masalah ngasih obat tidur kan bisa aku lakuin lagi lain kali."


***


"Kenapa senyum-senyum sendiri, Sayang?" tanya Keenan saat melihat istrinya terus tersenyum sejak masuk ke dalam kamar.


"Aku hanya seneng karena kita berhasil memberdayai Riska."


Keenan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri istrinya lalu memeluknya dari belakang.


"Makanya kamu itu harus percaya sama aku. Untung saja suamimu ini cerdik dan bisa melihat gelagat aneh yang temanmu tunjukkan saat kita menolongnya."


"Iya, Kee. Kamu memang hebat, karena kejelian kamu, aku tidak tertipu oleh Riska." Jawab Dira. "Tapi kan ada untungnya, kita membawa Riska ke rumah. Aku jadi tahu kalau ibuku adalah perempuan baik-baik."


Dira berbalik menghadap suaminya, kemudian dia mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.

__ADS_1


"Aku juga sudah bilang padamu kan, siapa pun ibumu pasti dia adalah wanita baik karena memiliki putri yang baik sepertimu."


"Terimakasih atas kepercayaanmu, Kee," ucap Dira.


"Sama-sama, Sayang."


Keenan mendekatkan wajahnya ke wajah Dira, Dengan sedikit memiringkan kepalanya, dia mulai mendaratkan bibirnya di atas ranum bibir Dira. Keduanya pun mulai saling bertukar saliva dan menikmati ciuman tersebut.


"Rasanya aku tidak ingin berangkat ke perusahaan," ucap Keenan setelah mengakhiri ciumannya.


"Kenapa?"


"Aku ingin selalu berdua saja di kamar bersamamu," jawab Keenan yang langsung mendapat cubitan daru Dira.


"Dasar mesum."


"Tapi kamu sukakan?" goda Keenan.


"Iya, aku suka. Jika yang mesum itu adalah dirimu." Kini giliran Dira yang meletakkan bibirnya di atas bibir Keenan, setelah sedikit memberikan *******, dia melepaskan ciumannya tersebut.


"Kita harus ke perusahaan untuk pertunjukkan berikutnya," ucap Dira.


"Oke. Tapi, sebelumnya kita harus mengucapkan terimakasih kepada perawat yang merawat papamu, karena bantuan dari dia, kita bisa lepas dari perangkap yang hendak di lakukan oleh Riska."


"Iya, Kee."


Keenan dan Dira kembali saling senyum. Keduanya menautkan jemari mereka kemudian keluar dari kamar.


Sebenarnya sesaat setelah Keenan mengirimi dia pesan kalau dia mencurigai temannya tersebut. Dira langsung menuju ke kamar Riska untuk mengkonfirmasikannya kebenaran tersebut. Namun, saat dia hendak menemui temannya itu. Justru dia mendengar sebuah fakta yang membuat dirinya terperangah tak percaya. Dia baru tahu kalau Riska adalah anak kandung ibu tirinya. Dan dia juga bahagia saat mendengar kalau ternyata ibu kandungnya bukanlah wanita kotor seperti yang dikatakan oleh Anita sebelumnya. Ternyata ibunya adalah korban fitnah dari Anita. Dira mendengarkan pembicaraan mereka sampai selesai. Namun, saat dia hendak bersembunyi, tiba-tiba Anita ke luar dari kamar Riska. Terpaksa Dira harus membuat alibi kalau dia datang hanya untuk mengingatkan bahwasannya meskipun Riska adalah temannya, dia tidak akan segan memberikan peringatan kepadanya saat Riska melakukan kesalahan dalam pekerjaan.


Setelah Dira bertemu dengan Riska, Dira menemui perawat yang sedang merawat ayahnya untuk mengawasi Riska. Dan benar saja, malam harinya sang perawat memberitahu Dira kalau Riska berencana untuk menjebak Keenan. Maka saat Riska sedang membuat minuman dan memasukkan obat tidur didalamnya, Sang perawat mengganti minuman yang hendak di berikan oleh Riska kepada Dira dan Keenan. Perawat tersebut mengganti minuman yang ada obat tidurnya dengan minuman baru yang tidak ada obat tidurnya. Justru perawat itu memberikan obat tidur di gelas yang akan di minum oleh Riska dan membuat wanita jahat itu tertidur dengan pulas di kamarnya


🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Masih mau bilang Keenan dan Dira bodoh? Mereka pinter gaes, jadi kalau kelihatannya mereka bodoh, selalu ada sesuatu di balik sesuatu.


Yuk, berikan like, komen dan giftnya. Kali ini author maksa, karena apa? Kalian baca kan gratis masa gak mau sih ngasih gift yg cuma 19 poin? 😁😁✌️✌️


__ADS_2