KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)

KEENAN (Kontrak Pernikahan 3)
Bonchap 7 ( Akhir )


__ADS_3

Tanpa terasa usia kandungan Dira sudah memasuki 9 bulan dan sudah waktunya dia melahirkan. Sejak semalam Keenan sudah berada di ruang persalinan menemani istrinya yang sedari tadi merasakan sakit karena kontraksi. Ingin rasanya Keenan menggantikan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh istrinya karena dia tidak tega melihat Dira kesakitan.


"Mas sakit," teriak Dira sambil mencengkeram lengan suaminya. Air mata dan peluh membasahi wajah Dira. Wanita itu terus merintih kesakitan seiring datangnya kontraksi yang melanda perutnya.


"Iya, Sayang, aku tahu." Keenan berusaha membuat istrinya merasa tenang. "Kamu sabar, ya."


Dira kembali berteriak saat rasa sakit itu kembali datang dan itu membuat Keenan makin ketakutan. Dia menanyakan kepada perawat yang ada di sekitarnya, sampai kapan istrinya harus merasakan itu? 


"Rasa sakit itu akan terus datang sampai anak Bapak dan Ibu keluar. Jadi, sabar ya, Pak." 


Mendengar penjelasan itu, Keenan hanya bisa memberikan dukungan kepada istrinya dengan terus mengusap lengan wanita tercintanya. Perasaan takut kehilangan hinggap di hati putra bungsu keluarga Wijaya itu kala mengingat bagaimana sang kakak ipar harus meregang nyawa saat melahirkan. Keenan tidak ingin hal itu terjadi kepada Diranya. Keenan tahu kondisi mereka berbeda, tetapi, tetap saja hal itu membuatnya  ketakutan. 


"Nak, berdoalah. Semoga istrimu diberi kelancaran dalam proses persalinannya dan anak serta istrimu selamat." Bintang yang ikut menemani mereka berusaha menenangkan putranya.


"Iya, Mom."


Keenan semakin panik saat melihat air ketuban istrinya pecah, dia yang panik langsung berteriak memanggil dokter untuk segera menangani istrinya tersebut. Semua orang disuruh keluar, kecuali Keenan. Dia terus mendampingi sang istri saat berjuang melahirkan anak mereka. Dan akhirnya Dira berhasil melahirkan putra dan putri mereka dengan selamat. Iya, Dira melahirkan sepasang anak kembar dengan bobot masing-masing tidak mencapai 2 kg sehingga kedua bayi tersebut masih harus dirawat di incubator.


Tangis haru dan ucapan terima kasih tak henti-hentinya Keenan ucapkan kepada sang istri yang memberinya sepasang anak yang lucu. Keenan memberi nama kedua bayinya, Abyasa Putra Wijaya yang artinya anak laki-laki yang pintar dari keluarga Wijaya dan Anindita Putri Wijaya yang berarti wanita cantik dari keluarga Wijaya.


"Mas, bagaimana keadaan putra-putri kita?"


"Alhamdulillah mereka sehat, Sayang. Hanya saja karena berat badan mereka kurang, mereka harus dirawat di incubator cukup lama," terang Keenan.

__ADS_1


"Tapi beneran kan, Mas, kalau tidak ada masalah yang serius dengan mereka?" Sebagai seorang ibu muda yang baru pertama kalinya memiliki anak, Dira memiliki katakutan kalau putra putri mereka kenapa-napa.


"Iya, Sayang. Insya Allah mereka sehat wal afiat," jawab Keenan.


"Alhamdulillah, aku bahagia kalau mereka sehat."


"Kamu mau melihat mereka di incubator?" tawar Keenan.


"Boleh?" Mata Dira berbinar. Ini mungkin bukan pertama kalinya ia melihat putra dan putrinya. Namun karena dia belum bisa memeluk dan menggendong mereka secara bebas, Dira selalu merindukan kedua anaknya.


Keenan mengangguk. Dia menggendong sang istri dan memindahkanya ke kursi roda.


"Padahal aku sehat dan masih sanggup untuk berjalan. Kenapa harua pakai kursi roda sih?" gerutu Dira.


"Nggak-nggak, nggak usah," jawab Dira dengan cepat. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian penghuni rumah sakit.


Akhirnya Keenan dan Dira tiba di ruang perawatan bayi.


"Mereka cantik dan tampan ya, Mas? Mereka sangat mirip denganmu. Matanya, hidungnya, bentuk bibit bahkan wajah semua mirip denganmu. Banar-benar lucik, padahal aku yang mengandung kenapa mereka lebih condong ke kamu ya, Mas?"


"Karena mereka tahu, papanya sangat tampan," jawab Keenan.


"Jadi, aku jelek gitu?" Dira menatap tajam sang suami.

__ADS_1


"Bukan begitu, Sayang..... "


Dira cemberut, dia memalingkan wajahnya dari sang suami. Tak mau istrinya marah, Keenan berjongkok di depan kursi roda istrinya.


"Sayang. Kamu mungkin bukan wanita paling cantik di dunia ini. Tetapi bagiku kamu adalah satu-satunya bidadari surgaku." Keenan menggenggam tangan Dira.


Dira menatap suaminya kemudian tersenyum. "Aku tahu. Barusan aku cuma pura-pura ngambek saja." Dira menyentuh pipi Keenan.


"Dira aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Mas."


Keenan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Dira.


"Mas, kamu mau ap.... "


Belum selesai Dira berbicara, Keenan sudah mendaratkan bibirnya diatas bibir sang istri. Memberikan gerakan lembut pada benda kenyal kesukaanya.


"Terima kasih Sayang sudah melahirkan anak-anak yang manis untukku," ucap Keenan setelah mengakhiri kecupanya. Keduanya kembali melihat putra putri mereka yang berada di incubator.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nb: Terkejut ya, ada bonchap? Tadinya bonchap ini mau ditaruh di versi cetak. Tapi, karena satu dan lain hal. Novel ini gagal cetak. Padahal salah satu impian author adalah memiliki novel cetak sendiri. Sedih sih, tapi mungkin memang belum takdirnya impianku itu terwujud. Jangan tanyakan lagi akan ada bonchap lagi apa enggak karena jawabanya enggak. Nggak seru kalau dipanjangin lagi. Tapi, mungkin suatu hari nanti author bakal nulis kisah anak mereka, doakan saja. Love you untuk kalian, gomawo. 🫰

__ADS_1


__ADS_2