Kekasih Halal Yang Berkhianat

Kekasih Halal Yang Berkhianat
Bab 22 Menciduk


__ADS_3

"Selamat tinggal suamiku kekasih halalku, karna aku sudah menggugat mu" Gumamku melambaikan tangan melihat mobil bang Toni menjauh dari rumah.


Tin Tin


Ku lihat mobil Sasa memasuki halaman rumahku.


" Hai.... Kamu sudah sembuh Dil? " Ucapku senang melihat Dila di dalam mobil saat aku baru masuk ke dalam mobil Sasa.


" Sudah Nov aku mau temenin kamu di saat apapun" Ucap Dila menggenggam tanganku.


" Terima kasih ya my bestie " Ucapku terharu.


Sampai di depan showroom, kami tetap berada di dalam mobil, ku lihat layar di hp ku yang terhubung dengan kamera yang ku pasang di tas dan kemeja bang Toni letaknya sama seperti kemaren, karna bang Toni selalu meletakkan tasnya di tempat yang sama.


Ku lihat bang Toni Adi dan Sinta berada di ruangan bang Toni sedang membahas pekerjaan mereka.


" Itu wanita selingkuhannya bang Toni Nov? " Tanya Sasa.


" Iya Sa dia wanita yang sudah menjebak bang Toni dan sekarang berhasil meluluhkan hati bang Toni" Ucapku menatap layar hp ku yang masih menampilkan tiga orang di sana.


" Dasar bodoh bang Toni, masih cantik kamu, masih kaya kamu, masih segala - galanya di kamu Nov" Ucap Sasa geram.


" Kalau sudah cinta tidak memandang kaya cantiknya yang penting itunya, apa lagi Novi udah gak pernah kasih lagi" Ucap Dila ambigu.


" Kamu bicara apaan sih Dil" Ucap Sasa membuatku dan Dila tertawa.


" Kalau bicara tu yang jelas, emangnya aku anak kecil apa gak ngerti masalah begituan walaupun belum begituan" Ucap Sasa tambah aneh.


" Kalian bicara apaan sih udah ah" Ucapku menengahi, ku lihat lagi layar di hp ku hanya terlihat bang Toni dan Sinta sudah tidak ada Adi lagi di sana.


" Mas kenapa pesanku semalam tidak di balas mas?" Tanya Sinta.


" Aku tidak lihat HP karna aku langsung tidur dengan istriku" Ucap bang Toni dingin.


" Tapi mas" Ucapan Sinta langsung di potong bang Toni.


" Tolong kamu keluar Sin aku tidak bisa konsen kerja dan kerjaan ku tidak akan selesai kalau kamu masih di sini terus" Ucap bang Toni kesal dan Sinta pun keluar dari ruangan.


" Kapan kita bertindaknya ni, aku gak sabar lihat muka pias nya bang Toni, karna sudah menyia - nyiakan mu Nov" Ucap Sasa geram.


" Sabar Sa kita harus mencari momen yang tepat" Ucapku mengelus bahu Sasa menenangkan.

__ADS_1


Jam makan siang pun tiba kami memesan makanan online dan makan di dalam mobil, ku lihat Sinta membawakan makanan untuk bang Toni tapi di tolak.


Aku Sasa dan Dila tertawa bersama melihat Sinta di tolak sama bang Toni untuk ke sekian kalinya.


" Sebenarnya kalau di lihat bang Toni masih setia sama kamu Nov" Ucap Dila menyeruput jus mangganya.


" Iya aku tau itu, jika bang Toni tidak melakukan lebih jauh aku akan mempertahankannya, tapi bang Toni sudah jauh melangkah dan beberapa hari mengintai aku yakin lama - lama hati bang Toni mulai terkikis dengan perhatian dan sentuhan Sinta, kucing mana coba yang di pancing ikan segar setiap hari gak mau? "


" Pasti ya dilahap lah" Jawab kami bertiga kompak terus tertawa keras bersamaan.


Dasar... Geng best friend...


Ku lihat bang Toni makan siang di ruangannya setelah meminta Adi membelikannya.


Ting


" Adek sudah makan? "


" Jangan telat makan ya dek"


" Ini sudah waktunya makan siang"


Ku lihat Sinta masuk ke ruangan bang Toni tapi kali ini dia tidak mengunci pintu entah lupa atau sengaja entahlah.


" Ayo kita bergerak sekarang" Ucapku pada Sasa dan Dila keluar dari mobil.


" Kamu yakin Nov ini momennya? " Tanya Sasa meragukan ku.


" Iya aku yakin" Ucapku yakin karna di jam segini lah Sinta selalu berbuat yang aneh sama bang Toni.


" Selamat siang buk Novi? " Sapa karyawan showroom padaku.


" Saya mau bertemu dengan suami saya, apa beliau ada di dalam? " Tanyaku.


" Ada buk silahkan ke ruangan bapak buk" Ucapnya tersenyum.


" Terima kasih" Ucapku balas tersenyum.


" Ada ap Sin" Tanya bang Toni


" Aku mau temani mas di sini mas" Ucap Sinta.

__ADS_1


" Tidak perlu Sin keluarlah" Ku dengar bunyi suara yang ku kenal dengan suara gumaman tidak jelas itu artinya mereka sedang ciuman


Ku anggukan kepala tanda pada Sasa dan Dila, ini saatnya membuka pintu, ku dorong pintu.


" Bang Toni" Teriakku melihat kekasih halalku bercumbu dengan wanita lain.


" Sssayang maafkan abang sudah mengkhianati mu" Ucap bang Toni gugup mendorong tubuh Sinta hingga jatuh ke lantai, sedangkan Sasa merekam semuanya.


" Sayang abang akan jelaskan semuanya dek, maafkan abang dek" Ucap pias bang Toni ingin memelukku.


" Jangan sentuh aku bang" Ucapku cepat mundur satu langkah membuat bang Toni mematung di tempatnya.


" Abang di jebak dek, abang gak berdaya abang gak mau kehilanganmu dek maafkan abang dek" Ucap bang Toni menjatuhkan diri di lantai terisak menjambak rambutnya frustasi.


" Abang mau menjelaskan kan?" Tanyaku yang dijawab anggukan cepat bang Toni.


" Ayo duduk lah bang aku akan dengarkan penjelasan darimu, kamu juga Sinta duduk lah" Ucapku duduk di sofa yang selalu meletakkan tas di situ dan menggeser tas ke sampingku, Sasa dan Dila ikut duduk di sebelahku sedangkan bang Toni duduk di hadapanku menjaga jarak dengan Sinta karna awalnya Sinta duduk di samping bang Toni, tapi bang Toni menggeser duduknya menjauh.


" Ayo bang jelaskan dari awal kalian ketemu, atau kalian adalah mantan kekasih dulu yang belum selesai dengan kisah kalian" Ucapku menatap tajam bang Toni.


" Bukan dek... Adek tau kan kalau cinta pertama abang adek dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu sampai ajal menjemput abang dek" Ucap bang Toni melihatku sendu.


" Abang juga gak pernah pacaran dengan siapapun sebelum kita jadi pasangan kekasih sampai kita jadi menikah dek, aku mencintaimu dek... Sangat mencintaimu" Lanjut ucapan bang Toni bergetar tanpa mengalihkan tatapan matanya padaku.


" Dasar kau pria brengsek, menyatakan cinta tapi apa yang kami lihat tadi, kau berciuman dengannya dengan selingkuhanmu itu, cuih" Geram Sasa menunjuk wajah bang Toni dan Sinta bergantian.


Bang Toni menunduk dalam menyembunyikan wajahnya terisak, ku lihat sekujur tubuh bang Toni bergetar menangis pilu di hadapanku.


" Hufff... " Ku tarik nafas dalam ku buang perlahan.


" Aku ingin penjelasanmu bang, apa yang terjadi sebenarnya?" Ucapku lemah.


Ku lihat bang Toni mengangguk masih menunduk dan terisak.


Hening


Hanya suara isak bang Toni yang ku dengar berusaha meredakan tangisnya.


" Abang akan menceritakan awal kami bertemu dek, yang sedari awal abang membantunya sudah menimbulkan rasa sesal di hati abang, tapi rasa kemanusiaan abang yang ingin menolong menjerumuskan abang sedalam ini" Ucap bang Toni mulai terisak lagi penuh sesal.


" Saat itu abang gak sengaja menabraknya dek"

__ADS_1


__ADS_2