Kekasih Halal Yang Berkhianat

Kekasih Halal Yang Berkhianat
Bab 47 Rekaman Novi


__ADS_3

" Abang tidak ingin berpisah sayang" Toni memberanikan diri memeluk Novi yang sudah terbuai oleh mimpi, hingga saat Toni memeluknya Novi tidak menyadarinya.


" Maaf " Ucap Toni berbisik di telinga Novi.


Toni selalu memikirkan ucapan Novi, sampai Toni tidak fokus dalam bekerja.


" Bang, ada masalah?" Novi melihat Toni selalu melamun.


" Dek bisa kirim rekaman itu, Abang mau lihat" Ucap Toni serius.


" Apa Abang sudah yakin?" Tanya Novi.


" Ya, Abang akan lihat apa yang salah pada hati Abang, hingga adek yakin kalau hati Abang juga mengkhianati adek " Toni menatap lekat Novi.


" Baik, adek akan kirim dan adek akan memberikan waktu untuk Abang melihat rekaman itu sendirian, adek ijin keluar bertemu dengan Sasa dan Dila di cafe depan showroom" Novi terlihat lihai menggerakkan jarinya di layar hp nya.


Ting


Ting


Ting


Ting


Empat pesan masuk ke dalam hp Toni.


" sudah adek kirim, adek keluar ya bang, Sasa sama Dila udah sampai di cafe " Novi bersiap melangkah keluar.


" Dek" Novi berbalik melihat Toni dengan mata sendunya. Toni melangkah mendekati Novi yang sudah ada di dekat pintu keluar ruangan.


" Jangan takut melihat kenyataan bang, berpikirlah untuk menjadi lebih baik, jadikan itu pelajaran hidup kedepannya" Novi melihat bulir air mata membasahi pipi Toni, Novi mengangkat tangannya mengusap air mata di pipi Toni.


Toni memeluk Novi, terisak sangat pilu. Cukup lama Toni menangis di pelukan Novi.


" Maaf dek" Toni melepas pelukannya menatap lekat mata indah Novi yang terlihat tenang.


" Tidak apa - apa, apa sudah lebih baik?" Novi bertanya karna Toni terlihat gelisah.


" Kalau Abang belum siap melihat rekaman itu, lebih baik jangan di lihat dulu bang" Ucap Novi.


" Enggak dek, Abang cuma gak mau melihat wajah wanita itu lagi" Ucap Toni menatap lantai.


" Ya sudah adek keluar ya, Abang yakinkan dulu hati Abang" ucap Novi membuka pintu keluar dari ruangan.

__ADS_1


Toni melangkah menuju sofa dan duduk di sofa tunggal di ruangan Novi. Di lihat hpnya berkali - kali, hingga pada akhirnya Toni memberanikan diri melihat rekaman yang di kirim oleh Novi padanya.


Rekaman 1


" Sudah aku katakan terserah dengan apa yang mau kamu lakukan dengan vidio itu, jangan kamu ancam aku lagi dengan semua keinginan gila mu " Nada bicara Toni meninggi.


" Apa mas sudah siap kehilangan istri tercintamu itu?" Pertanyaan Sinta membuat Toni menundukkan kepalanya diam.


" Karna itu kita jalani seperti ini mas dan mas masih bisa bersama menjalani rumah tangga yang nyaman bersama istrimu, aku gak mau kehilanganmu mas" Ucap lembut Sinta memegang tangan Toni yang masih menundukkan kepalanya.


" Keluarlah Sin" Ucap Toni melemah.


Tubuh Toni bergetar hebat, terdengar suara isak Toni dan Toni memegang dadanya kuat.


" Kenapa aku selemah itu hiks hiks hiks, maafkan Abang dek... pasti itu menyakitkan hatimu dek... hiks hiks hiks " Toni melihat hpnya lagi, dengan tangan gemetar, Toni menekan tombol play di layar hpnya, terlihat rekaman ke dua menyala.


Rekaman 2


" Kau" Kaget Toni melihat Sinta di hadapannya.


" Ternyata istri mas sudah lama ya tidak melayani mas? Sinta bisa gantiin kok mas" Ucap Sinta.


" Tutup mulutmu" Geram Toni.


"' Loh kenapa mas bukannya kita sudah terbiasa menyatukan tubuh kita dan kamu menikmatinya kan? Jangan munafik mas" Ucap Sinta tersenyum.


" Tapi kamu menikmatinya mas itu artinya kamu juga mau mas" Ucapan Sinta membungkam Toni.


" Kamu selalu menyebut nama istrimu tapi tubuhmu bermain denganku, dasar munafik kamu mas" Lanjut Sinta lagi.


" Kamu keluar sendiri atau aku panggil Adi untuk menyeret mu ke luar dari sini" Ancaman Toni membuat Sinta melangkah keluar dari ruangan.


" Benar kata Sinta meski awalnya aku di jebak dan melakukan penyatuan dengan Sinta tapi lama - lama aku terbiasa bersentuhan dengan Sinta walau itu di bawah ancamannya, apa karna itu aku ragu memecatnya di tambah aku juga sudah sangat lama tidak menyentuh Novi" Ucap Toni.


" Hahaha hiks hiks hiks, ternyata hatiku lemah, luluh dengan kata dan sentuhan wanita itu" Toni mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan. Toni membuka rekaman ke tiga.


Rekaman 3


" Dek abang ke toilet sebentar ya" Ucap Toni.


Tak lama Sinta juga minta ijin ke toilet, Toni masuk ke dalam toilet,Toni hanya mencuci mukanya dan keluar dari toilet sudah ada Sinta di sana.


" Jangan hiraukan kata - kata mereka mas, mas gak ingin kehilangan istri mas kan? Jadi biarkan berjalan seperti ini mas" Ucap Sinta pada Toni, Sinta menggenggam tangan Toni juga meraba dadanya yang di tepis oleh Toni.

__ADS_1


" Untuk apa kamu datang? Bukankah sudah aku katakan, aku akan membawa istriku" Ucap Toni pada Sinta yang tersenyum manis.


" Aku ingin bersama kekasih ku, walau mas bersama dengan istri mas tapi tidak apa - apa" Ucap Sinta mengecup bibir Toni sekilas tapi Toni hanya diam.


Toni hanya melihat hpnya tanpa ekspresi, lalu menekan lagi tombol play terlihat rekaman ke empat berputar di layar hpnya.


Rekaman 4


" Ada ap Sin" Tanya Toni


" Aku mau temani mas di sini mas" Ucap Sinta.


" Tidak perlu Sin keluarlah" terdengar bunyi suara gumaman tidak jelas itu, Toni tau itu adalah suara saat Sinta menciumnya dan Toni hanya diam membiarkan bibirnya di mainkan oleh bibir Sinta.


" Ternyata jiwa dan ragaku sudah mengkhianati Novi, hiks hiks hiks dan aku tidak menyadari kalau aku sudah sangat menyakitinya, menyakiti wanita yang aku cintai"


" Aaaaaaa " Teriak Toni frustasi melempar hpnya hingga pecah berhamburan di lantai, Toni juga menghempaskan apa saja yang ada di dekatnya, sampai seluruh ruangan Novi berantakan akibat ulah Toni yang sedang meluapkan amarahnya.


Pintu terbuka, terlihat Adi berlari memegang tangan Toni yang ingin melempar guci berukuran sedang ke lantai.


" Pak"


" Pak Toni "


" Sadar pak"


Tangan Toni melemah, Adi memegang guci dan meletakkannya jauh dari Toni.


Adi membersihkan sofa dari kertas yang berserakan, menarik Toni agar duduk di sofa, Adi memberikan minuman botol yang sudah di buka tutupnya yang Adi ambil dari dalam kulkas kecil di ruangan Novi. Toni meneguk air dalam botol hingga habis.


" Pak"


" Pak Toni " Adi menepuk bahu Toni kuat karna Adi melihat Toni hanya diam dengan pandangan yang kosong.


" Aku bodoh Di, bodoh" Toni menjambak rambutnya frustasi.


" Bodoh" Ucap Adi menghentikan kegiatannya mengambil kertas - kertas yang berserakan di lantai menatap Toni.


" Pak, ada darah di tangan bapak" Adi panik melihat tangan Toni banyak mengeluarkan darah segar.


" Tidak apa - apa Di, ini biarkan saja" Ucap Toni menatap sekilas tangannya.


" Adi tolong kamu suruh orang bersihkan tempat ini sekarang, hanya pria yang boleh masuk, aku pinjam ruangan mu" Toni melangkah menuju ruangan Adi tanpa mendengar jawaban dari Adi.

__ADS_1


Toni merebahkan tubuhnya di atas sofa di ruangan Adi. memejamkan mata, tak lama menggelengkan kepala karna teringat pengkhianatan nya. Di pejamkan lagi matanya, Toni merasa kan tangannya sedang di perban oleh seseorang. Toni membuka mata dan melihat senyum manis Novi. Reflek Toni duduk melihat Novi.


" Dek" Toni melepaskan genggaman tangannya dari Novi, dan itu membuat Novi menatap Toni tanpa ekspresi.


__ADS_2