
" Sa... Dil aku pergi dulu ya mas Danil pasti sudah menungguku" Ucap Novi tak enak.
" Iya Nov udah pergi gih nanti suamimu merangkap bapak kamu akan memarahi kami karna kamu telat makan siang hahaha" Ucap Sasa santai.
"Is dasar kamu Sa, ya udah aku pergi ya bye... " Novi melambaikan tangannya beranjak mendekati mobil yang sudah ada Alex di sana.
"Kemana non" Alex menanyakan kemana tujuan Novi.
"Ke perusahaan mas Danil kak" Alex mengangguk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karna Danil berpesan pada Alex agar tidak terlalu cepat sampai ke perusahaan dan harus Danil yang lebih dulu sampai, takut ketahuan kalau Danil tidak bekerja melainkan mengawasi istrinya.
Sampai di perusahaan Novi berjalan santai karna memang Novi sudah terbiasa setiap hari datang ke perusahaan bersama suaminya, tanpa harus ke meja resepsionis.
Tapi langkah Novi terhenti mendengar teriakan seorang wanita yang berasal dari meja resepsionis dengan suara yang cukup keras.
"Eh mbak kamu harus lapor dulu sebelum masuk, harus buat janji dulu kalau mau ketemu dengan pimpinan perusahaan ini mbak" Teriaknya pada Novi dengan wajah sinis.
Novi melihat wanita itu bukan wanita yang biasa di lihatnya, sudah di pastikan wanita yang meneriakinya adalah karyawan baru yang belum mengenalnya.
Dengan langkah yang anggun Novi mendekati wanita yang berani meneriakinya, tak lupa senyum manis menghiasi wajah nya.
"Maaf mbak saya adalah orang yang spesial dari pimpinan anda, jadi saya tidak perlu buat janji dengannya" Novi melihat wanita di hadapannya tersenyum sinis dan melihat Novi dengan tatapan meneliti.
"Eh mbak pimpinan saya tidak ada orang spesial, pimpinan kami sudah memiliki istri jadi jangan sok mengakui bahwa kamu orang spesial dari pimpinan kami" Ucapnya sinis.
"Dan istri sekaligus orang spesial dari pimpinan perusahaan ini adalah wanita yang ada di hadapanmu" Jonathan dengan wajah dingin memandang karyawan yang baru saja di Terima di perusahaan sahabatnya.
"By" Danil memeluk Novi dan mencium keningnya lama.
Wanita arogan itu menunduk dalam, seluruh tubuhnya bergetar tak mengira bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah istri dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja, karna penampilan Novi saat itu terlihat sangat santai jadi dia tidak menyangka kalau dia adalah istri dari atasannya.
"Jon kamu pecat wanita itu, tidak ada gaji untuk orang yang baru setengah hari bekerja tapi sudah berteriak di hadapan pimpinannya, jangan harap mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain" Danil membawa Novi masuk ke dalam lif menuju ruangannya tanpa menghiraukan teriakan memohon wanita yang sudah meneriaki istrinya.
"Maafkan mas by" Sesal Danil karna terlambat datang.
"Gak apa - apa mas... Tapi hukumannya sangat memberatkannya mas, sudah di pecat tidak ada perusahaan yang mau menerimanya, gimana kalau mbak itu punya anak atau mereka membutuhkan biaya mas" Novi menatap Danil dengan wajah memohon.
__ADS_1
"By... Dia sudah meneriaki kamu, sikapnya sangat tidak sopan jadi itu pantas dia Terima by... Udah yuk kita makan mas lapar by" Danil mengalihkan pembicaraan karna tidak ingin mengubah keputusannya.
"Tapi mas... "
"By... Ayo makan, mas udah lapar, habis makan mas akan ajak kamu jalan - jalan" Danil melihat Novi tersenyum.
"Jalan - jalan ke mana mas?" Tanya Novi antusias.
"Ya ke mana aja by yang penting kamu senang" Danil mengusap rambut Novi sayang.
"Oke mas yuk kita makan Novi gak sabar mau jalan - jalan, Novi mau kita ke pinggiran kota ya mas, Novi kangen suasana desa yang sejuk dan nyaman mas" Danil mengangguk sambil tersenyum melihat Novi tertawa kembali dan melupakan wanita yang sudah meneriakinya.
Dengan lahap keduanya makan bersama sambil bercerita tentang hal yang membuat mereka tertawa bersama, selalu ada bahan cerita jika mereka bersama, saling menggoda, saling menatap penuh cinta.
"Aduh... Kenyang banget mas" Novi memegang perutnya karna kekenyangan akibat makan dengan porsi yang banyak tidak seperti biasanya.
"Iya by karna kamu banyak makan, apa makanannya enak ya by? kalau iya nanti mas pesan lagi" Danil merasa aneh dengan Novi yang gak pernah makan banyak.
"Ih mas mau buat Novi gendut ya" Mata Novi sudah mulai berkaca - kaca.
"Gak usah mas Novi udah kenyang kok" Ucap Novi sambil mengusap perutnya yang kenyang.
"Ya udah mas siapkan sedikit pekerjaan dulu setelah itu kita pergi" Novi mengangguk cepat membuat Danil gemas.
Setelah Danil mengerjakan tugasnya, mereka sama - sama keluar dari perusahaan menuju pedesaan pinggiran kota, Alex dengan setia menjadi supir mereka.
"Mas tempatnya sejuk ya, Novi jadi teringat desa air terjun" Novi menggandeng mesra lengan Danil sambil berjalan menyusuri kebun sayur milik warga.
"Iya by mas juga suka udara pedesaan sangat sejuk, apa lagi bersama kamu by" Timpal Danil.
"Mas kita beli sayur di sini ya, sayurnya masih segar - segar mas, di sana juga ada yang sedang panen mas" Novi menunjuk beberapa orang yang sedang memanen hasil tanaman sayurnya.
"Iya by" Danil dan Novi berjalan dengan bergandengan tangan menuju tempat panen.
"Assalamu'alaikum bapak... Ibu... " Sapa Novi pada warga yang sibuk dengan kegiatan memanennya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam... " Jawab mereka bersama. Novi juga tersenyum sambil melihat mereka bergantian, tapi matanya membulat melihat salah satu wanita paruh baya yang sangat di kenalnya.
"Bunda Sarah" Novi menunjuk wanita yang tengah memakai topi besar agar terhindar dari cahaya matahari.
"Novi" Bunda Sarah tersenyum melihat mantan menantunya ada di desa tempat tinggal mereka sekarang.
"Bunda apa kabar? apa bunda sekarang tinggal di sini? " Novi melihat mata bunda Sarah berkaca - kaca.
"Bunda baik nak, iya sekarang bunda sekeluarga tinggal di sini, tapi kamu semakin cantik dan berisi sepertinya kamu sedang hamil ya sayang" Bunda Sarah melihat Novi dengan teliti.
"Tidak bunda Novi... Tidak hamil kok" Novi berucap sambil tersenyum paksa.
"Iya gak apa - apa nak, ini siapa sayang" Bunda Sarah melihat Danil yang dekat dengan Novi.
"Ini suami Novi bun namanya mas Danil" Novi memperkenalkan Danil pada bunda Sarah. Danil hanya memasang wajah datar dan membungkuk pelan tanda hormat.
"Sayang kita bicara di gubuk aja yuk, ada yang ingin bunda bicarakan sama kamu nak" Bunda Sarah melihat Novi yang sedang meminta persetujuan pada suaminya.
"Nak Danil juga harus ikut, karna apa yang bunda bicarakan ini juga menyangkut tentang kehidupan istrinya" Novi dan Danil mengangguk mengerti dan mengikuti bunda Sarah ke arah gubuk kecil.
"Ayo di minum nak, bunda cuma bawa cemilan singkong rebus" Bunda Sarah mengisi piring dengan singkong rebus dengan lelehan gula merah.
"Ini enak bun" Novi dengan lahap menyantap singkong rebus buatan bunda Sarah.
"Sayang maafkan kami yang tidak bisa menjaga anak kamu" Ucap bunda Sarah sambil tertunduk dalam. Novi menautkan kedua alisnya tidak mengerti tentang pembahasan bunda Sarah.
"Anak siapa yang bunda maksud" Novi bertanya sambil melihat Danil, takut suaminya salah faham.
"Anak kamu dengan Toni" Novi semakin menautkan alisnya.
"Bunda jangan bercanda, Novi tidak pernah hamil bun... Dari mana datangnya anak bun" Novi berucap sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya nak kamu memang tidak pernah hamil tapi kamu dan Toni sudah memiliki anak dari hasil 'fertilisasi in vitro' (IVF)" Bunda Sarah terisak pilu setelah mengatakannya.
"Apa itu bun jangan buat Novi jadi penasaran bun"
__ADS_1
"Itu adalah hasil dari sel telur ibu kandung dan ****** ayah kandung berada di rahim wanita lain nak, Toni melakukan itu agar dia tetap semangat hidup dengan hadirnya putri cantik dengan wajah yang sangat mirip denganmu nak"