
" Sayang, hiks hiks hiks Toni menghentikan pengobatannya hiks hiks hiks " Ucap bunda Sarah terisak pilu.
" Apa " Novi sangat terkejut mendengar ucapan bunda Sarah.
" Bang Toni menghentikan pengobatannya? tapi kenapa Bun?" Ucap Novi.
" Toni anak bunda sudah tidak ingin hidup lagi sayang, tujuan hidupnya sudah tidak ada lagi hiks hiks" Ucap Bunda Sarah sambil terisak.
" Ayah " Novi Melihat ayah Ridho dengan pandangan memohon untuk menjelaskan semuanya.
" Sayang" Ucap Toni mengagetkan ayah, bunda dan Novi.
Novi beralih melihat ayah Ridho dan bunda Sarah, tapi bunda Sarah menggelengkan kepalanya.
" Iya bang, Abang mau apa?" Novi mendekati Toni.
" Adek bicara apa sama ayah bunda? sepertinya serius" Novi tersenyum melihat Toni.
" Tidak ada bang, adek cuma usul aja sama ayah bunda" Novi duduk di samping ranjang.
" Adek usul tentang apa?" Ucap Toni lembut. Novi melihat ayah Ridho dan bunda Sarah dan beralih lagi memandang Toni.
" Adek ingin Abang berobat keluar negri, kalau di sini pengobatan yang Abang lakukan tidak ada hasilnya " Novi menggenggam erat tangan Toni.
" Tidak usah dek, Abang berobat di sini aja" Ucap Toni lemah.
" Kenapa bang? Adek mau Abang sembuh " Novi lebih erat lagi menggenggam tangan Toni. Toni melihat ayah dan bundanya.
" Ayah sama bunda keluar dulu ya sayang " Bunda Sarah menarik tangan ayah Ridho keluar dari ruangan Toni.
" Apa ayah sama bunda ada mengatakan sesuatu sama kamu dek? " Tanya Toni menyelidik.
" Ayah sama bunda sayang sama Abang, mereka orang tua yang ingin melihat anak laki - lakinya hidup sehat bersama mereka" Ucap Novi meninggikan suaranya melihat Toni yang juga sedang menatapnya.
" Lalu bagaimana dengan adek?" Toni bertanya pada Novi dengan wajah tanpa ekspresi.
" Apa maksud Abang?" Novi bertanya balik pada Toni dengan menautkan alisnya tidak mengerti.
" Abang kembali hidup dengan ayah dan bunda, dan adek akan pergi meninggalkan Abang, terus Abang harus hidup bagaimana tanpa adek" Ucap Toni menahan sesak di dadanya.
__ADS_1
" Bang " Novi melihat Toni tidak tau ingin berkata apa.
" Adek tau Abang sangat mencintai kamu, Abang ingin menua bersama adek, Abang ingin selalu ada bersama adek, tapi sebentar lagi adek udah tidak ada di samping Abang lagi " Ucap Toni lemah.
" Dan itu semua karna ulah Abang sendiri, Abang yang membuat adek jauh dari Abang, Abang yang membuat adek menolak akan sentuhan Abang, apa Abang lupa akan hal itu" Novi memandang Toni dalam.
" Aaaaaah ini semua karna ulah wanita sialan itu " Toni menjambak rambutnya frustasi hingga infus yang terpasang di punggung tangannya terlepas, darah segar mengalir deras dari punggung tangan Toni.
Toni mengusap kasar bibirnya juga memukul daerah antara kedua pahanya, Toni sudah tidak dapat di kendalikan lagi.
" Bang Toni " Novi memanggil Toni, tapi Toni tetap memukuli tubuhnya sendiri.
" Dokter... tolong dok" Novi berlari kearah pintu, berteriak memanggil dokter agar menghentikan Toni melukai tubuhnya.
Terlihat dokter berlari masuk ke ruangan Toni, memberikan suntikan di lengan atas Toni, lama - lama tubuh Toni lemas dan tak sadarkan diri, sedangkan perawat laki - laki memasang infusnya kembali.
" Saya lihat pak Toni seperti depresi akan sesuatu, saya harap ibu dapat menjaga perasaan pak Toni, dan saya sarankan untuk Konsul ke psikolog " Ucap dokter serius.
" Iya dok, terima kasih banyak" Novi tersenyum tipis melihat dokter menganggukkan kepala dan keluar di ikuti perawat laki - laki di belakangnya.
" Bang Toni, aku harus bagaimana? jujur aku juga masih mencintai kamu bang, tapi aku juga tidak akan bisa membahagiakanmu karna tubuhku yang selalu menolakmu bang" Ucap Novi dalam hati.
" Pagi dek " Ucap Toni tersenyum lebar.
" Pagi bang, maaf " Ucap Novi tertunduk.
" Abang yang salah, adek tidak perlu minta maaf, Abang harap adek tidak akan merubah keputusan adek untuk memenuhi syarat yang udah kita sepakati dek" Toni menatap Novi sambil menggenggam tangannya.
" Tidak bang, adek akan terus mendukung Abang, tapi adek minta pengobatan Abang tetap harus di lanjutkan" Novi menunggu jawaban Toni yang sudah beberapa detik tidak ada suara untuk menjawabnya.
Terlihat Toni menghembuskan nafas dalam, seperti sedang berpikir.
" Baiklah jika itu yang adek mau" Toni tersenyum penuh cinta. Di balas senyum tulus Novi.
Novi minta ijin pada Toni ke showroom sebentar, hanya untuk mengecek saja, Novi masih tetap memperlakukan Toni layaknya suami akan tetapi hanya sentuhan tangan yang bisa Novi lakukan untuk menyemangati Toni.
" Ada apa dengan perasaanku, kenapa aku kayak gelisah gini sih, seperti perasaan akan kehilangan" Gumam Novi memegang dadanya duduk di kursi ruang kerjanya di showroom.
" Aku akan melihat - lihat di depan aja, mana tau rasa gelisah ini hilang" Novi keluar ruangan menuju ke depan showroom.
__ADS_1
" Apa sudah cukup bos" Ucap Jonathan pada atasannya yang sedang fokus melihat wanita pemilik hatinya yang sedang melihat - lihat karyawannya bekerja.
" Sebentar lagi Jon" Ucap Danil sendu.
" Kalau gak bisa jauh, jangan pergi Nil" Ucap Jonathan berubah jadi sosok sahabat bagi Danil.
" Kalau aku gak pergi, aku gak akan sanggup melihatnya kembali sama suaminya Jon" Ucap Danil tanpa mengalihkan pandangan matanya dari sosok Novi.
" Kalau gitu kamu rebut aja Nil" Ucapan Jonathan berhasil merubah pandangan Danil dari Novi ke Jonathan sahabatnya.
" Kau sudah gila, kalau aku merebutnya, itu artinya aku akan merebut kebahagiaan Novi Jon "
" aku tidak akan melakukan itu, aku akan membahagiakannya walau tanpa aku di sampingnya, aku akan terus melihatnya dari jauh"
" Dan tugasmu Jon" Danil menunjuk wajah Jonatan sampai asistennya memundurkan kepalanya ke belakang.
" Kamu terus awasi gadis kecilku itu, jangan sampai terjadi hal apapun padanya, dan terus laporkan semuanya padaku setiap hari tanpa ada yang harus di tutupi" Danil menatap Jonathan sangat serius.
" Tapi itu akan melukaimu Nil, kenapa gak kamu biarkan aja nona Novi itu bebas tanpa harus kita awasi?" protes Jonathan sedikit ketus akan keputusan Danil.
" Aku akan memastikan kebahagiaannya Jon"
" Terus kapan kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri Danil???" geram Jonathan pada atasannya.
" Kebahagiaanku ada pada gadis kecilku Jon"
" Padahal banyak wanita yang mengejar kamu, kamu tinggal pilih malam ini sama siapa, besok malam juga bisa ganti dengan siapa, malah kamu gak mau, gak mau di sentuh lagi"
" Jangankan main di atas ranjang, bersentuhan kulit pun kamu gak mau, kalau ada klien wanita gak boleh salaman, harus ada jarak, aduh Nil aturanmu sia - sia, gadis kecilmu hanya bisa kamu lihat dari jauh, Ck " Jonathan menggelengkan kepalanya.
" Sudah diam, ingat... harus terus lapor padaku" Danil melihat Novi yang juga sedang melihatnya, ralat melihat mobil Danil.
" Ayo kita pergi ke bandara " Danil masih melihat Novi dari dalam mobil meski mobilnya bergerak menjauh dari showroom.
" Ck, jangan salahkan aku kalau hatimu nanti sakit karna laporanku " Ucap Jonatan menatap jalan menuju bandara.
" Hmmm " Jawab Danil sambil memejamkan matanya.
" Selamat tinggal gadis kecilku"
__ADS_1