Kekasih Halal Yang Berkhianat

Kekasih Halal Yang Berkhianat
Bab 92 Di Ruang ICU


__ADS_3

Danil memeluk tubuh Novi yang tengah tertidur pulas sambil duduk, mereka masih di dalam kamar Toni, masih juga duduk di atas ambal berbulu putih, album sudah di tumpuk menjadi satu dengan HP di atasnya.


Danil menghela nafas panjang mengingat betapa sedihnya wanita yang ada dalam dekapannya menangis pilu melihat anaknya di makamkan dengan wajah yang seperti sedang tertidur.


Perlahan Danil membaringkan tubuh Novi di atas ambal, Danil juga berbaring di samping sang istri yang masih terlelap, di peluknya erat tubuh sang istri.


"Mas" Novi membuka matanya menatap wajah tampan sang suami yang selalu ada untuknya.


"Iya by" Danil juga melihat wajah sang istri yang sembab akibat terlalu lama menangis.


"Maafkan Novi yang telah mengabaikan mas"


"Ssuuttt mas gak merasa di abaikan by, mas ngerti kalau saat ini kamu sedang menjalani ujian hidup dan mas akan ikut melewati ujian itu denganmu" Danil mengelus lembut pipi Novi.


"Terima kasih mas" Novi memeluk Danil dan membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya.


"Mas gak pernah sangka kalau Toni akan menghadirkan Noni untuk terus mencintaimu by... Bahkan di saat - saat hembusan nafas terakhirnya dia masih mencintaimu begitu dalam, dan membawa perasaan cintanya hingga dia tiada" Novi tidak bisa menanggapi ucapan Danil karna memang itulah kenyataannya.


Flashback di ruang ICU


Danil dan Novi masuk ke dalam ruang ICU, di mana Toni berbaring di atas ranjang pasien dengan alat medis yang terhubung ke tubuhnya.


"Novi" Racau Toni dengan mata tertutup. Novi melihat Danil yang mengangguk.


"Bang Toni ini Novi bang" Novi berdiri di samping Toni yang masih setia dengan mata yang tertutup.


"Maafkan abang dek... Maafkan semua kesalahan abang yang sudah sangat menyakiti hatimu dengan pengkhianatan yang abang lakukan"


"Abang sangat mencintaimu, masih sangat mencintaimu, dari dulu sekarang dan sampai kapanpun" Toni berucap dengan mata tertutup, karna Toni yakin Novi masuk menemuinya tidak sendirian, Toni yakin karna Toni sangat mengerti bagaimana Novi menjaga hubungannya dengan pasangannya, itu juga yang di rasakan Toni saat masih menjadi suaminya.


Tapi sayang saat ini cinta pertama dan terakhirnya yang sudah menjadi mantan istrinya sudah bersama dengan laki - laki lain, laki - laki yang menggantikan dirinya.

__ADS_1


"Abang senang kalau hidup kamu sekarang sudah bahagia bersama suami kamu"


"Semangat hidup abang sudah tidak ada lagi, kamu meninggalkan abang, Noni juga sudah pergi, abang gak bisa hidup tanpa kalian, abang juga ingin menyusul Noni anak kita" Ucap Toni putus asa.


"Bang Toni masih ada ayah Ridho dan bunda Sarah yang ingin melihat anaknya kembali sehat, abang pernah menjadi seorang ayah, abang pasti bisa merasakan apa yang saat ini ayah dan bunda rasakan, mereka ingin melihat abang bangkit dari keterpurukan"


"Novi udah dengan ikhlas memaafkan semua kesalahan abang, jangan abang pikirkan hal itu lagi, semuanya sudah jadi masa lalu kita bang, hiduplah untuk membahagiakan ayah dan bunda, dan Novi yakin suatu hari nanti akan ada seseorang yang akan hadir untuk... "


"Abang akan pergi menemani Noni dek" Ucap Toni lemah. Toni melihat mata Novi dalam, tapi sudah tidak ada lagi tatapan cinta di sana, yang ada hanya rasa iba, rasa kemanusiaan yang ingin memberi motivasi untuknya.


Toni melihat Danil dan berusaha mengulurkan tangannya ke arah Danil, dengan cepat Danil menyambut tangan Toni dan menggenggamnya erat.


"Pak Danil tolong bahagiakan Novi, buat dia selalu tersenyum, jangan pernah melakukan kesalahan seperti yang pernah saya lakukan, cukup saya saja yang membuat dia menangis, saya tau saya salah tapi jujur saya masih sangat mencintainya, dan akan selalu begitu, saya akan membawa cinta saya ini sampai ajal menjemput saya, tolong berjanjilah pak jangan menyakiti hatinya" Ucap Toni dengan nafas yang tersengal.


"Saya sangat mencintai istri saya, dari saya kecil sampai dewasa hanya istri saya yang ada di hati saya, tanpa kamu minta pun saya akan membahagiakan istri saya, saya harap kamu mau bertahan demi ke dua orang tuamu" Danil mengeratkan genggaman tangan nya ke Toni.


"Iya Pak saya juga melihat betapa bapak sangat mencintai Novi" Toni beralih melihat Novi yang enggan untuk dekat dengannya.


"Toni... Ton" Danil hendak memanggil dokter keluar tapi di tahan oleh tangan Toni.


"Saya gak apa - apa pak Danil" Toni melihat Novi menangis.


"Tolong jangan menangis dek, abang ingin melihat senyum manis kamu untuk yang terakhir" Ucap Toni terbata - bata.


"Tolong jangan bilang gitu bang ingat bunda bang hiks hiks hiks" Toni hanya tersenyum dengan nafas yang semakin sesak.


Tangan Toni terulur ke arah Novi yang masih menjaga jarak dengan nya. Danil yang melihat itu pun sangat mengerti dengan sikap istrinya. Danil menggenggam tangan Novi dan mengarahkan ke atas tangannya yang sedang memegang tangan Toni, tapi dengan cepat tangan Toni yang satunya lagi memegang tangan Novi yang sedang memegang tangan Danil.


"Abang mencintaimu Novi ku" Setelah mengucapkan itu Toni membaca syahadat dengan sisa nafasnya, hingga akhirnya Toni menghembuskan nafas panjang dan berakhir tanpa ada nyawa di jasadnya yang tersenyum melihat Novi.


"Bang.... Bang Toni.... " Teriak Novi.

__ADS_1


"Mas... Bang Toni mas" Danil mengusap wajah Toni dan memeluk Novi sangat erat.


Dokter masuk dengan tergesa dan memeriksa tubuh tanpa nyawa Toni.


"Innalilahi wainnailaihi Raji'un"


"Toni Handoko anak bunda, bunda ikhlas dengan kepergianmu nak, semoga kamu selalu bahagia di sana, sekarang kamu sudah berkumpul dengan Noni, itu yang kamu inginkan nak hiks hiks hiks" Novi memeluk bunda Sarah sambil terisak.


Flash of


"Mas.. Novi juga gak percaya kalau cinta bang Toni ke Novi itu sampai seperti itu, Novi pikir setelah kami bercerai bang Toni akan mencari pengganti Novi... "


"Dan pengganti kamu itu Noni anak kamu dan Toni" Ucap Danil ketus, Danil cemburu, sangat cemburu dengan cinta Toni yang begitu besar untuk Novi istrinya.


Novi menatap lekat wajah sang suami yang memerah menahan marah. Di usapnya pipi Danil selembut mungkin, Novi tau sedari rumah sakit suami tampannya selalu menahan emosinya.


"Mas... Di hati Novi dari dulu, dari kecilnya Novi hanya ada nama mas Da, di sini hanya ada mas" Novi menunjuk dadanya sendiri. Danil langsung memeluk tubuh Novi erat, Novi merasa tubuh Danil bergetar.


"Mas takut by... Mas takut kehilangan mu, tolong jangan berpaling dari mas by.... Jangan pernah sedikitpun berpikir untuk meninggalkan mas by... " Danil memeluk lebih erat lagi tubuh Novi seakan Novi akan pergi meninggalkannya.


"Gak akan mas... Novi gak akan meninggalkan mas, tapi kalau mas mengusir Novi ya... Novi akan pergi" Novi berucap sambil tersenyum untuk menggoda suaminya.


"Gak... Mas gak akan sebodoh itu by" Danil mengurai pelukannya dan menatap Novi dengan intens.


"I love you by"


"Love you too mas Da" Bibir mereka saling menyatu dan menyalurkan rasa cinta yang membuncah di hati ke duanya.


Cekrek


"Eh maaf bos"

__ADS_1


__ADS_2