
" Adi tolong kamu usir wanita sialan ini dari hadapanku, jangan biarkan bajingan itu menyentuhku sedikitpun karna di tubuhku sudah tidak ada lagi bagian yang pernah di sentuh olehnya, aku sudah menghilangkannya, walau aku mati sekalipun jangan biarkan wanita iblis ini menyentuhku, sekarang jiwa dan ragaku hanya milik istriku Novi cintaku" Ucap mas Toni memandangku penuh amarah
" Mas Toni aku... "
" Pergi brengsek" Teriak mas Toni padaku.
Aku lihat tubuh mas Toni luruh jatuh ke lantai, dengan perlahan mata mas Toni tertutup tidak sadarkan diri, aku mendekat ingin menyentuhnya tapi di cegah oleh Adi.
" Maaf mbak, mbak masih ingatkan pesan pak Toni tadi, jadi tolong jangan sentuh tubuh pak Toni " Ucap Adi melihatku sinis.
" Tapi aku kekasihnya Di" Ucapku tak Terima
" Itu dulu saat pak Toni tidak berdaya akan ancamanmu yang menjijikkan itu, karna pak Toni tidak mau kehilangan buk Novi istri yang sangat di cintainya" Ucap Adi menatapku jijik.
" Kamu tau semuanya Adi? " Tanyaku terkejut dengan ucapan Adi.
" Iya pak Toni selalu menceritakan apa yang terjadi padanya juga denganmu" Ucap Adi lagi.
" Kamu tau pak Toni selalu menangis setiap hari, karna telah mengkhianati istrinya, pak Toni jijik dengan dirinya sendiri, setiap hari terus membohongi buk Novi, dia tersiksa dengan semuanya"
" Tapi sikap mas Toni padaku perlahan berubah walau masih ketus Adi... Itu artinya mas Toni sudah mulai mencintaiku" Ucapku menggebu.
" Itu karna ancamanmu dan pak Toni adalah tipe orang yang tidak tegaan, apa lagi hidupmu selama ini penuh dengan kesulitan, tapi niat pak Toni yang ingin tulus menolong mu demi kemanusiaan, menjerumuskannya pada kehancuran rumah tangganya bersama wanita yang di cintainya" Ucap Adi memeriksa nafas mas Toni.
" Aku tidak menyangka ada manusia kejam seperti kamu " Ucap Adi menatapku tajam.
" Halo pak tolong cepat pak, pak Toni sudah tidak sadarkan diri " Teriak Adi dengan tangan menggenggam HPnya yang menempel di telinga kirinya.
Tak lama banyak orang masuk keruangan membawa tempat tidur dorong, mendekati mas Toni memeriksa tubuhnya dan memberikan pertolongan dini lalu mengangkat tubuh mas Toni membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dorong dan mendorongnya menuju mobil ambulan yang sudah terparkir rapi di depan showroom.
Aku menangis histeris, ku dengar banyak karyawan menggosipkan Aku dan mas Toni yang memang itulah kenyataannya.
Aku masuk ke dalam mobil ambulan, tapi tanganku di tepis kasar oleh Adi saat Aku ingin menggenggam tangan mas Toni.
__ADS_1
" Jangan kamu sentuh pak Toni, jika kamu mau ikut cukup hanya melihat saja jangan mencoba untuk menyentuhnya jika tidak Aku tidak akan segan menurunkan paksa kamu keluar dari mobil ambulan ini" Ucap Adi tegas.
Aku hanya bisa menuruti keinginan Adi karna baru kali ini juga Aku melihat kemarahan Adi padaku yang terus menatapku tajam seperti akan membunuhku.
Sampai di rumah sakit mas Toni langsung masuk ke ruang operasi, aku dan Adi menunggu di bangku depan, sekitar dua jam lebih pintu ruang operasi terbuka terlihat dokter keluar dari sana.
" Keluarga saudara Toni " Teriak suster yang ada di samping dokter.
" Saya asistennya dokter, saya yang akan bertanggung jawab mengurus segala sesuatunya dok, sedangkan keluarganya akan segera menyusul dok" Ucap Adi
" Saya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tapi ini sangat di sayangkan ya pak... " Ucapan dokter terhenti melihat Adi
" Adi nama saya Adi dok" Ucap Adi cepat
" Iya Pak Adi karna akibat dari pemotongan itu sangat fatal, alat vital pak Toni hanya tinggal sedikit tadi juga pak Toni sempat kritis karna kehilangan banyak darah untung saja stok darah di rumah sakit ini mencukupi, kalau ini perbuatan seseorang yang tidak bertanggung jawab kami akan melakukan tindakan untuk membantunya di pengadilan pak" Ucap dokter pada Adi membuatku terkejut
" Itu tidak perlu dok karna yang memotong adalah pak Toni sendiri" Ucap Adi lemah
" Apa... " Teriak dokter dan suster kaget secara bersamaan
" Iya Pak nanti akan saya bicarakan dengan pak toni, apakah saya bisa melihat pak Toni dok? " Tanya Adi pada dokter
" Iya pak bisa tapi setelah pak Toni di Pindahkan di ruang perawatan ya pak Adi" Ucap dokter
" Baik dokter" Ucap Adi tersenyum
Aku lihat Adi melangkah menjauh
" Adi kamu mau kemana? " Tanyaku pada Adi
" Aku mau mengurus administrasi pak Toni " Jawab Adi ketus
Kriyuk Kriyuk
__ADS_1
" Kamu dengarkan suara cacing di perut aku? kamu sekalian beli makanan ya Di" Ucapku pada Adi
" Maaf mbak, aku sibuk mbak beli aja sendiri ini aku kasih uangnya" Ucap Adi memberiku uang dua puluh ribu untuk membeli nasi
" Eh Adi di mana mana laki - laki itu perhatian dengan perempuan" Ucapku pada Adi
" Tapi aku tipe laki - laki yang melihat tipe perempuan yang bisa aku perhatikan" Ucap Adi membuatku kesal
Adi melangkah meninggalkan aku sendiri yang masih kesal dengan Adi yang tidak menganggap ku ada di sana.
Mas Toni sudah di pindahkan dua jam yang lalu aku juga sudah mengisi perutku yang tadi mengeluarkan bunyi, aku menunggu mas Toni sadar, di dalam ruang rawat bersama Adi yang juga setia menemani mas Toni dan terus mengawasi ku agar aku tidak dekat dengan mas Toni.
Aku lihat ada pergerakan dari tangan mas Toni
" Adi mas Toni sudah sadar" Teriakku senang
" Dokter... Dokter... Pak Toni sadar dok... " Teriak Adi memanggil dokter tanpa meninggalkan mas Toni
Mata mas Toni perlahan terbuka melihat Adi dan dokter yang sedang memeriksanya
" Bagaimana keadaan pak Toni dok? " Tanya Adi khawatir dengan kondisi mas Toni
" Alhamdulillah pak Toni sudah melewati masa kritisnya " Ucap dokter
" Apa itunya mas Toni bisa di sembuhkan dok? " Tanyaku tiba tiba menyadarkan mas Toni akan keberadaan ku
" Seperti apa yang saya katakan sebelumnya jika pak Toni mau melakukan pencangkokan saya akan merekomendasikan dokter yang saya kenal" Ucap dokter.
Ku lihat mas Toni mengusirku dengan menunjuk arah pintu dengan teriakan yang tidak jelas karna bibir mas Toni sedang di perban.
" Tolong keluar mbak" Teriak Adi padaku, aku terpaku menatap mas Toni yang terus mengusirku, ku rasakan tanganku ditarik paksa keluar dari ruangan aku menatap tajam Adi yang sudah berani mengusirku.
Aku lihat mas Toni yang mulai tenang setelah aku keluar.
__ADS_1
" Mas Toni benar - benar membuang ku" Ucapku lirih menatap mas Toni kembali memejamkan matanya.