Kekasih Halal Yang Berkhianat

Kekasih Halal Yang Berkhianat
Bab 46 Seminggu Lagi


__ADS_3

" Ada apa ini " Terdengar suara wanita pemilik showroom, membuat yang bergosip ria mematung di tempat.


" Buk Novi...." Ucap mereka bersamaan.


" Aturan apa yang kalian ceritakan?" Novi ikut bergabung bersama para karyawan penggosip yang berjumlah tiga orang.


" I itu buk Novi, tadi pagi ada pengumuman, kalau tidak boleh ada karyawan yang masuk ke ruangan buk Novi, terkhusus karyawan wanita, yang boleh hanya buk Novi, pak Toni dan Adi saja" Ucap salah satu karyawan yang di lirik Novi dari betnya bernama Nisa.


" Bang Toni ternyata konsisten dengan ucapannya, aku gak pernah berpikir tentang hukum sosial yang di jalani bang Toni, aku hanya berpikir jika bang Toni bekerja lagi dia tidak akan memikirkan tentang penyakitnya lagi, apa keputusanku salah ya" Ucap Novi dalam hati.


" Jadi kalian harus ikuti aturan itu, tidak boleh ada yang masuk ke ruangan saya terkhusus wanita, karna suami saya trauma akan penjebakan yang di lakukan karyawannya dulu, dan satu lagi" Novi menatap satu persatu karyawan yang ada di hadapannya.


" Jangan ada lagi gosip - gosip di sini, karna apa yang kalian ketahui itu belum tentu kebenarannya" omel Novi sambil menunjuk karyawannya.


" Baik buk Novi kami minta maaf" Ucap ke tiganya.


Novi melangkah masuk ke ruangannya, di sambut senyum manis Toni yang duduk di kursi kerja Novi.


" Dek" Toni mendekati Novi mengulurkan tangannya lalu disambut oleh Novi mengecup punggung tangan Toni, sedangkan Toni mencium punggung tangannya sendiri dengan hidungnya di mana letak bekas bibir Novi. Novi terpaku dengan apa yang di lakukan Toni.


" Ayo dek kita makan Abang sudah sangat lapar" Toni memegang perutnya sendiri.


Novi mengangguk dan menyiapkan makan siang untuk mereka. Toni merasa sangat nyaman dengan aturan yang baru di buatnya di showroom, Toni sempat berpikir kenapa tidak dari awal dia menerapkan peraturan itu di showroom, kalau Toni menerapkannya di awal tidak akan ada penjebakan yang di lakukan Sinta.


Toni berusaha menjadi suami yang baik bagi Novi, sebelum dia menandatangani surat gugatan Novi, Toni sudah pasrah akan kehilangan Novi. Seminggu lagi waktu yang di sepakati Novi dan Toni.


" Dek" Toni memanggil Novi yang baru saja membaringkan tubuhnya di atas ranjang di samping Toni.


" Ada apa bang? ada yang Abang perlukan?" Toni tersenyum melihat Novi duduk dengan wajah yang serius, sangat imut menurutnya.


" Seminggu lagi kita jadi suami istri, setelah itu kita akan berjalan masing - masing" Toni menarik nafas panjang menahan sesak di dada.


" Apakah rasa cinta itu masih ada untuk Abang?" Toni menatap mata indah Novi dalam.

__ADS_1


Novi mengubah posisi duduknya dengan bersandar di kepala ranjang agar lebih nyaman.


" Abang Taukan kalau adek tipe wanita yang susah jatuh cinta? jujur di dalam hati adek masih ada cinta untuk abang" Novi menatap Toni dan beralih menatap langit - langit kamarnya.


" Tapi "


" Apa adek gak bisa menghapus memori tentang rekaman dan Vidio itu? Abang tau adek merasa jijik karna itu" Toni menatap Novi.


" Bang... " Novi menatap Toni yang selalu menatap Novi hingga keduanya beradu mata. Novi dan Toni menyelami tatapan mata lawannya.


" Rekaman dan Vidio itu hanya salah satu penyebab tubuh adek menolak sentuhan Abang" Novi menatap lekat Toni dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


" Lalu apa penyebabnya yang lain dek" Ucap Toni dengan suara yang bergetar menahan tangis.


" Hati Abang" Ucap Novi dengan pandangan kosong menatap langit - langit kamarnya.


" Awalnya adek memutuskan untuk kembali sama Abang, adek memaafkan Abang karna itu semua bukan karna kemauan abang, tapi saat adek mengintai Abang dengan memasang kamera, banyak hal yang adek dapat di sana, terutama hati Abang" Ucap Novi tanpa mengalihkan pandangannya dari langit - langit kamarnya.


" Hati Abang dari dulu sampai sekarang masih tetap milik kamu sayang... Mau berapa kali lagi Abang bilang sama adek" Toni menggenggam erat tangan Novi dengan air mata mengalir dari sudut matanya.


" Apa Abang gak pernah tergoda dengan Sinta?"


" Jangan sebut namanya lagi dek" Ucap Toni dengan nada menahan amarah, tidak suka nama Sinta di sebut.


" Apakah apa yang adek lihat dan adek rasakan itu salah?" Ucap Novi.


" Enggak bang, sudah adek katakan, Abang suami adek, tubuh Abang, hati Abang bahkan pikiran yang ada di otak Abang adek tau" Novi menatap Toni dengan wajah dinginnya.


" Enggak dek itu gak benar" Toni menggelengkan kepalanya.


" Apa perlu adek perlihatkan pengkhianatan abang yang sesungguhnya?" Novi menantang Toni, kalau hati Toni pernah tergoda dengan Sinta tanpa Toni sadari.


Toni hanya diam, tidak ada satu katapun keluar dari bibirnya untuk menjawab tantangan Novi. Toni sudah tidak mau lagi menggali ingatannya tentang wanita yang sudah menjebaknya dan sudah menghancurkan kehidupan rumah tangganya dengan wanita yang di cintai nya.

__ADS_1


" Enggak dek, yang adek lihat dan adek rasa itu salah" Toni tetap pada keyakinannya.


" Kalau Abang tidak lihat, Abang tidak akan pernah tau dan mengakui itu" Ucap Novi santai.


Novi sudah sangat kuat membentengi hatinya, agar tidak tersakiti lagi.


" Apakah itu alasan utama adek mengambil keputusan untuk berpisah dari Abang?" Toni mengambil nafas dalam melihat Novi menganggukkan kepalanya.


Hening


Cukup lama Toni berperang dengan hati dan pikirannya, Toni takut, kenyataan yang akan dia temukan saat melihat rekaman dari kamera pengintai Novi.


Toni sudah lama mengenal sosok Novi, Novi wanita yang cerdas, apa yang Novi lakukan bukan hanya di lakukan dengan hatinya tetapi juga dengan logikanya.


Toni yakin apa yang di lihat dan di rasakan Novi, itulah kenyataannya, tanpa Toni menyadari hati dan perasaannya telah mengkhianati istrinya Novi begitu dalam.


" Sudah, jangan terlalu di pikirkan, kalau Abang mau, Abang bilang sama adek, adek akan kirim ke Abang" Novi membaringkan tubuhnya lagi di atas ranjang bersiap tidur.


Toni melihat Novi memejamkan matanya.


" Dek"


" Hmmm"


" Boleh Abang menyentuh adek?" Novi membuka mata menatap Toni ingin mengusap rambutnya.


" Tinggal seminggu lagi kita bersama dek" Toni tersenyum melihat Novi mengangguk dan menutup matanya.


Toni mengusap lembut rambut Novi, menatap lekat wajah terpejam Novi, hingga terdengar suara nafas teratur dari bibir Novi.


" Apa yang harus Abang lakukan di saat adek tidak ada lagi di samping Abang, adek adalah teman hidup yang Abang inginkan, tapi Abang yang membuat adek menjauh, Abang ingin menua bersamamu dek" Toni mengusap air matanya.


" Abang tidak ingin berpisah sayang" Toni memberanikan diri memeluk Novi yang sudah terbuai oleh mimpi, hingga saat Toni memeluknya Novi tidak menyadarinya.

__ADS_1


" Maaf " Ucap Toni berbisik di telinga Novi.


__ADS_2